Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Bukankah kau mengesalkan?


__ADS_3

"Apakah Bibi mencoba resep baru? Mengapa rasanya berbeda dari biasanya?" tanya Errando sambil menatap ke arah Surti dengan raut wajah yang penasaran.


"Em anu tuan..." ucap Surti dengan bingung.


Surti benar-benar tidak tahu harus menanggapi apa pertanyaan dari Errando barusan. Ingin sekali rasanya Surti mengatakan yang sebenarnya kepada Errando, namun perkataan dari Alena tadi pagi membuatnya kembali bungkam seakan bingung harus bagaimana disaat-saat seperti ini.


Errando yang melihat Surti diam hanya menatap Surti dengan tatapan yang bingung karena Surti tidak kunjung menanggapi ucapannya sama sekali, padahal Errando tidak terlalu mempermasalahkan tentang masakan ini hanya saja jika di suruh memilih Errando lebih menyukai masakan Surti yang sebelumnya dari pada yang saat ini, walau bentuk dan rupanya sama namun ketika dimakan citarasa dari masakan tersebut terasa benar-benar berbeda.


"Tidak apa Bik, tidak perlu tegang begitu hanya saja lain kali Bibi mending membuatkan ku resep yang lama saja karena aku lebih menyukainya ketimbang yang ini." ucap Errando dengan tersenyum tipis seakan berusaha untuk mengatakan kepada Surti bahwa ia benar-benar tidak apa memakannya.


"Iya tuan muda" ucap Surti sambil menganggukkan kepalanya.


Mungkin saat ini hanya jawaban itu yang pas untuk menanggapi setiap perkataan yang keluar dari mulut Errando, hanya saja lebih tepatnya mencari aman itu lebih baik.


**


Setelah menyelesaikan makannya Errando terlihat melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar utama sambil sesekali menatap ke arah sekitar. Ada sesuatu yang aneh ketika Errando melewati setiap sudut rumahnya dimana dia sama sekali tidak menemukan keberadaan Alena dimanapun. Padahal di jam-jam seperti ini biasanya Alena akan turun untuk makan atau jika tidak bersantai di ruang televisi, namun entah mengapa kali ini terasa sangat kosong dan hampa seakan kembali ke beberapa tahun yang lalu di mana ia masih tinggal seorang diri di mansion ini.


Errando membuka pintu kamarnya dengan perlahan dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Suasana begitu gelap dan tidak terlihat apapun ketika Errando memasuki kamarnya, hingga membuatnya langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah saklar lampu untuk menyalakan lampu kamarnya.


"Dia sudah tidur atau tidak beranjak dari sana sejak pagi? Mengapa aku merasa posisinya masih sama?" ucap Errando pada diri sendiri tepat begitu lampu kamar utama menyala dan menerangi ruangan tersebut.

__ADS_1


Dengan raut wajah yang penasaran Errando mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang untuk melihat keadaan Alena yang sedang tidur tersebut. Hingga ketika langkah kakinya berhenti tepat di dekat ranjang, Errando sedikit terkejut ketika melihat pakaian yang dikenakan oleh Alena tetap sama seperti yang tadi pagi ia kenakan, membuat Errando menjadi kesal karena Alena sangat jorok dan malah langsung pergi tidur tanpa mengganti bajunya.


Errando yang terlanjur kesal lantas dengan spontan langsung membuka selimut yang menutupi tubuh Alena kemudian menarik tangan Alena begitu saja agar bangun dari tidurnya.


"Bangun sekarang Len! Kenapa kamu jorok sekali!" teriak Errando sambil menarik tangan Alena dan menghempaskannya begitu saja berharap dengan itu Alena akan bangun dari tidurnya.


Alena yang ditarik dengan tiba-tiba ketika tidurnya tentu saja terkejut dan kepalanya yang sedari tadi berdenyut semakin bertambah pusing karena tingkah Errando yang membangunkannya dengan tiba-tiba.


"Biarkan aku tidur sebentar lagi Er... aku janji tidak akan lama." ucap Alena sambil berusaha menyeimbangkan posisinya.


Errando yang mendengar permintaan dari Alena barusan lantas terkejut karena bisa-bisanya Alena malah mengatakan untuk membiarkannya pergi tidur lagi. Errando yang tidak menginginkan hal tersebut lantas kembali menarik tangan Alena hingga bangkit dari posisinya, kemudian setelah itu sedikit mendorong tubuh Alena agar pergi menuju kamar mandi sekarang juga karena Errando sama sekali tidak menyukai sesuatu yang kotor dan juga jorok tentunya.


Pada akhirnya Alena yang di dorong untuk pergi ke kamar mandi, mau tidak mau mulai melangkahkan kakinya dengan posisi tubuhnya yang meriang dengan mata yang berkunang-kunang, membuat langkah kakinya seperti mengambang dan tidak menyentuh lantai keramik ketika ia mengambil selangkah demi selangkah menuju ke arah kamar mandi. Hingga kemudian, Alena yang tidak lagi bisa mengontrol dirinya lantas langsung jatuh pingsan ketika pandangannya mulai mengabur dan pada akhirnya menggelap.


Sebuah suara benda jatuh yang begitu besar, membuat Errando yang tadinya memunggungi Alena sambil berkacak pinggang lantas langsung dengan spontan berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara. Errando yang melihat Alena sudah tergeletak di lantai, tentu saja terkejut bukan main dan langsung berlarian mendekat ke arah di mana Alena berada untuk melihat keadaan Alena.


"Apa yang terjadi padamu Len? Oh astaga panas sekali! Alena..." ucap Errando pada diri sendiri ketika tanpa sengaja memegang kedua pipi Alena.


Dengan sekali tarikan Errando lantas mengangkat tubuh Alena dan menggendongnya ala bridal style, membawa Alena ke arah ranjang dan menidurkannya dengan perlahan. Dengan perasaan yang begitu khawatir Errando mulai membenarkan posisi Alena sambil memasangkan selimut untuknya.


***

__ADS_1


30 menit kemudian


Terlihat seorang dokter tengah membereskan peralatannya setelah sebelumnya memeriksa tubuh Alena. Dokter tersebut lantas bangkit dari posisinya kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Errando berada.


"Tak perlu khawatir aku sudah memberinya obat penurun panas, beberapa jam ke depan aku yakin demamnya akan turun. Kau benar-benar mengejutkan ku Er dengan panggilan mu yang tiba-tiba di jam praktek ku yang telah usai." ucap Dokter cantik tersebut dengan nametag Pricilia pada jas kedokterannya.


"Apa kau yakin jam praktek mu telah usai? Lalu mengapa kau masih memakai jas kerjamu?" jawab Errando dengan nada yang menyindir.


Mendengar sindiran dari Errando barusan, membuat Pricilia lantas dengan spontan menoleh ke arah bawah dan baru sadar bahwa ia masih mengenakan jas kedokterannya sedari tadi karena memang ada pasien tambahan di jam prakteknya, membuat Pricilia lantas langsung merutuki kebodohannya yang tidak bisa berbohong ketika berhadapan dengan Errando karena anehnya Errando selalu saja jeli dan mengetahui kebohongan sekecil apapun darinya.


"Baiklah baiklah tuan saya akui saya tengah berbohong, ayolah Er... lagi pula aku baru mendapat pasien tambahan dan setelah itu hendak menikmati waktu santai ku tapi kau... kau malah menyuruhku datang kesini dalam hitungan menit, bukankah kau keterlaluan?" ucap Pricilia dengan nada yang kesal.


"Aku tadi terlalu panik akan keadaan Alena, sedangkan di kepala ku hanya terpikir dengan mu." ucap Errando dengan nada yang datar.


"Wah seorang tuan angkuh dan juga cuek seperti mu ternyata bisa khawatir juga ya, aku yakin dia orang yang spesial bukan untuk mu? Apa dia gadis yang selalu kau bicarakan dan kau rindukan, bahkan hingga mengigau?" ucap Pricilia dengan nada yang menggoda.


Uhh..


Mendengar suara tersebut lantas membuat Errando langsung membungkam mulut cerewet Pricilia dan membawanya keluar dari sana ketika Errando melihat Alena seperti tengah mengigau.


"Diam dan jangan berisik!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2