
Sementara itu di hutan, terlihat Alex tengah menatap ke arah Errando yang hingga kini masih menatap kepergian Alena meski punggung Alena tidak lagi terlihat pada pandangannya. Alex yang sudah tidak habis pikir akan sikap dan juga tingkah laku Errando yang keterlaluan lantas dengan spontan melayangkan tinjunya tepat ke arah pipi Errando, membuat Errando yang tidak siap akan serangan secara mendadak tersebut lantas hampir saja tersungkur jika ia tidak sigap dalam mengambil keseimbangan.
"Itu untuk tingkah mu yang keterlaluan...." ucap Alex sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Errando berada.
Sambil mencengkram kemeja Errando dengan erat Alex menatap manik mata Errando dengan tatapan yang tajam. Nyatanya kenyataan bahwa Alena tetap membelanya walau Errando telah menyakitinya berkali-kali, membuat hati Alex sebagai seorang kakak lantas terluka berkali-kali lipat. Alex yang terlanjur marah lantas mengangkat tangannya hendak kembali memukul Errando namun terhenti di angan-angan ketika Alex mendengar sebuah kata keluar dari mulut Errando.
"Aku mencintainya kak..." ucap Errando dengan nada penuh keyakinan membuat gerakan Alex lantas terhenti seketika.
Mendengar perkataan Errando barusan membuat Alex lantas mendorong tubuh Errando dengan kuat hingga mengakibatkannya jatuh tersungkur dalam posisi yang terduduk. Sambil melangkahkan kakinya dengan bergegas mendekat ke arah Errando dan mengambil posisi berjongkok di sana. Ditunjuknya bahu Errando berkali-kali sambil menatap tajam ke arahnya.
"Apakah ini pembalasan yang selalu kau katakan untuk kematian Juwita Er? Apapun yang kau lakukan hal itu sangatlah tidak lucu! Kau pikir dengan membuat Alena menggilai mu semua masalah akan selesai? Memang selesai bagimu dan mungkin akan membalas penderitaan Juwita di sana, tapi apa kau tahu jika akan ada banyak orang yang terluka melebihi Juwita, lalu jika sudah seperti itu apa bedanya kau dengan ku ha? Baj*ng*n!" teriak Alex sambil kembali melayangkan pukulannya tepat di wajah Errando membuat Errando langsung tersungkur seketika.
Setelah puas mengatakan hal tersebut Alex kemudian berlalu pergi begitu saja dari sana tanpa menunggu jawaban apapun apapun dari Errando, namun setelah melangkahkan kakinya beberapa langkah Alex nampak menghentikan langkah kakinya sejenak.
"Aku sudah menelpon Rama agar menjemput mu di sini, setidaknya seseorang yang kau anggap penjahat ini masih mempunyai hati dan tak akan membiarkan mu mati di sini!" ucap Alex dengan nada penuh penekanan kemudian kembali melangkahkan kakinya pergi dari sana meninggalkan Errando sendirian.
Sedangkan Errando yang melihat kepergian Alex dari sana hanya bisa menatap kepergian Alex begitu saja. Nyatanya apa yang dikatakan Alex memanglah sebuah kebenaran, rencananya membuat Alena jatuh ke dalam hatinya sedalam mungkin kemudian menghempaskannya agar ia merasakan rasa sakit yang sama dengan Juwita kakaknya, membuat Errando tidak lagi bisa berkutik.
Errando bahkan kini juga begitu menyesal ketika menyadari bahwa malah dirinyalah yang jatuh sedalam-dalamnya kepada sosok seorang Alena. Jika sudah begini apakah dendam ini berbalik dan menyerang dirinya?
__ADS_1
Errando nampak bangkit secara perlahan dari posisinya sambil menggenggam dengan erat rerumputan di sana. Errando benar-benar sangat frustasi akan hal ini, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk saat ini. Errando kemudian nampak mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan mengusap rambutnya dengan kasar.
"Argggg mengapa semuanya malah berbalik dan menghujam ku seperti ini? Aku bahkan hanya mencari keadilan untuk kak Juwita namun yang aku rasakan malah kehancuran yang menyerang ku secara perlahan. Apa ini sebuah hukuman untuk ku? Apa yang ku lakukan adalah sebuah kesalahan?" ucap Errando dengan nada yang terdengar begitu frustasi.
Sampai kemudian suara langkah kaki yang melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Errando berada, lantas membuat Errando menoleh dengan seketika ke arah sumber suara.
"Tuan apa anda baik-baik saja? Saya tadi mendapat pesan dari tuan Alex jika anda..." ucap Rama yang hendak menjelaskan segalanya namun terpotong ketika suara Errando tiba-tiba membuat Rama langsung menatapnya dengan tatapan yang bingung.
"Apa ini sebuah hukuman untuk ku Ram? Aku bahkan hanya melakukan sesuatu yang menurut ku baik, namun nyatanya semua malah berbanding terbalik ke arah ku?" ucap Errando dengan nada yang terdengar frustasi membuat Rama yang tidak terlalu paham akan arah pembicaraan Errando hanya menatap Errando dengan tatapan yang bingung.
"Apa anda baik-baik saja tuan?" tanya Rama kemudian dengan raut wajah yang khawatir menatap ke arah Errando, namun Errando yang mendapat pertanyaan tersebut hanya tersenyum tipis ke arah Rama membuat Rama semakin tidak mengerti akan tingkah dari Errando saat ini.
Keesokan harinya
Riki yang tengah tertidur di sofa kamar Alena lantas langsung terbangun ketika sebuah benda yang terasa cukup berat menimpa tubuhnya. Sambil mengerjapkan kelopak matanya secara perlahan Riki terlihat mulai membuka matanya bersiap untuk melihat apa yang baru saja menimpanya, hingga sebuah tawa khas yang berasal dari anak kecil lantas membuatnya langsung mengerti bahwa ini adalah ulah Aksa.
"Aksa... Apa yang kamu lakukan hem?" ucap Riki sambil bangkit dari posisinya dan menurunkan tubuh Aksa yang sedari tadi menemplok di tubuhnya seperti bayi koala.
"Apa Daddy jadi membawa ku melihat bintang?" ucap Aksa kemudian bertanya kepada Riki dengan raut wajah yang sumringah.
__ADS_1
"Bintang ya? Ah Daddy hampir melupakannya, tentu saja asalkan Mommy memberikan ijin untuk pergi." ucap Riki kemudian yang baru sadar jika ia menjanjikan Aksa untuk melihat bintang, beruntung hari ini adalah weekend jadi Riki tak perlu bingung bagaimana cara untuk menepati janjinya keada Aksa.
"Janji?" ucap Aksa kemudian sambil mengangkat jari tangannya seakan hendak mengikat janji dengan Riki, membuat Riki yang melihat hal tersebut lantas langsung tersenyum dengan seketika.
Cklek...
Sebuah suara yang berasal dari pintu kamar mandi yang terbuka membuat Riki dan juga Aksa langsung menoleh ke arah sumber suara. Aksa yang melihat Alena keluar dari kamar mandi lantas langsung bangkit dari posisinya dan berlarian ke arah Alena. Sambil memeluk kaki Alena dengan erat Aksa nampak tersenyum dengan lebar.
"Ayo kita pergi melihat bintang Mommy..." ajak Aksa kemudian yang lantas membuat Alena mengernyit ketika mendengarnya.
"Bintang?" tanya Alena dnegan nada yang bingung.
"Iya, Daddy menjanjikannya kepada ku kemarin. Kita pergi ya.. ya?" ucap Aksa dengan nada yang merengek.
"Sayang maaf, hari ini Mommy dan Daddy ada yang harus kami bicarakan bersama dengan Opa sebaiknya..." ucap Alena hendak menolak permintaan Aksa namun terpotong.
"Sudah lah Vi biarkan saja, kita bisa membahas hal tersebut lain kali..." ucap Riki kemudian yang lantas membuat Alena menatap tak mengerti ke arah Riki.
"Tapi..."
__ADS_1
Bersambung