
Pagi harinya
Dari arah kamar mandi terlihat Riki yang sudah berpakaian setelan jas kerja lengkap mulai melangkahkan kakinya keluar dari sana. Riki menghentikan langkah kakinya sejenak sambil menatap ke arah dimana Alena terlihat tengah tertidur dnegan pulas saat ini. Sebuah rasa bersalah mendadak terlintas di hati Riki ketika mengingat pertengkarannya dengan Alena semalam. Riki benar-benar tidak bermaksud untuk melukai hati Alena saat itu, namun suasana hatinya yang tidak baik-baik saja lantas menjadikannya gelap mata dan tanpa sadar melakukan sesuatu yang sama sekali tidak ia inginkan.
"Aku minta maaf Nona..." ucap Riki dengan nada yang lirih sambil menatap ke arah Alena dengan tatapan yang sendu.
Baru setelah mengatakan hal tersebut Riki terlihat melangkahkan kakinya keluar dari kamar Alena. Riki sengaja berangkat ke kantor pagi-pagi buta agar tidak bertemu dengan Alena maupun Aksa. Rasa bersalah di hatinya benar-benar membuatnya tidak ingin bertemu dengan kedua orang tersebut.
"Jika memang Nona hendak memutus perjanjian itu setidaknya aku tidak akan menampakkan wajah ku kepada mereka berdua sampai pada akhirnya hubungan kami berdua benar-benar telah berakhir. Dengan begitu aku akan lebih mudah melupakan mereka berdua tanpa harus bersusah payah." ucap Riki sambil terus melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan kamar tersebut.
***
Satu jam kemudian
Alena yang baru saja bangun dan bebersih dari kamar mandi, terlihat mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Ditatapnya sofa ruangan kamarnya yang saat itu terlihat sudah kosong tanpa adanya Riki di sana. Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Alena, membuat Alena semakin merasa sesuatu hal yang sedikit aneh menyapa hatinya.
"Sepertinya ia benar-benar marah kepada ku..." ucap Alena dengan raut wajah yang sendu.
Di saat Alena tengah sibuk memikirkan segala hal, dari arah pintu masuk terlihat Aksa tengah melangkahkan kakinya dengan perlahan masuk ke dalam kamar Alena kemudian memeluk tubuh Alena dengan erat. Membuat lamunan Alena langsung buyar dengan seketika, ditatapnya wajah putranya itu dengan tatapan yang bertanya ketika melihat wajah sendu putranya itu.
"Ada apa sayang?" tanya Alena sambil mengelus rambut Aksa secara perlahan.
"Apa Daddy juga marah pada Aksa? Daddy bahkan tidak mencium kening Aksa tadi pagi..." ucap Aksa dengan raut wajah yang cemberut membuat Alena langsung mengernyit dengan seketika disaat mendengar penuturan Aksa barusan.
__ADS_1
"Apa Daddy selalu melakukan hal itu setiap pagi?" tanya Alena kemudian yang lantas membuat Aksa langsung mengangguk dengan seketika.
"Iya tidak hanya pagi bahkan ketika Daddy selesai pulang kerja, tapi pagi ini Daddy tidak melakukannya.. Apa Daddy tengah marah kepadaku?" tanya Aksa kemudian dengan manik mata yang bertanya.
"Daddy tidak marah pada Aksa, ada rapat penting di kantornya yang membuat Daddy harus langsung berangkat ke kantor mungkin karena itu Daddy sampai melupakan mu." ucap Alena mencoba mencari alasan agar Aksa tidak sedih lagi.
"Benarkah?" tanya Aksa seakan tidak terlalu percaya begitu saja akan perkataan Alena barusan.
"Tentu.." ucap Alena kemudian dengan tersenyum.
Mendengar hal tersebut membuat Aksa langsung tersenyum seketika. Alena sendiri sebenarnya baru mengetahui hal ini, jika Aksa tidak memberitahunya tentu Alena tidak akan tahu jika Riki selalu melakukan hal tersebut kepada Aksa setiap harinya. Yap sebuah perilaku yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Alena jika Riki melakukan hal tersebut kepada putranya. Padahal antara Riki dan juga Aksa sama sekali tidak mempunyai hubungan darah apapun.
"Sepertinya keputusan ku untuk mengakhiri hubungan ini adalah keputusan yang tepat. Aku harap setelah semuanya selesai Riki akan mendapatkan kebahagiannya sendiri." ucap Alena dalam hati sambil masih mengusap rambut Aksa secara perlahan.
***
Helaan napas terus terdengar berhembus dari mulut Riki, membuat Santi yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Riki lantas menatap dengan tatapan mengernyit ke arah Riki.
"Apakah ada sesuatu Pak?" tanya Santi kemudian sambil meletakkan beberapa dokumen yang harus ditandatangani oleh Riki saat ini juga.
Mendengar sebuah suara yang tiba-tiba, lantas langsung membuyarkan lamunannya dengan seketika. Melihat kedatangan Santi di ruangannya membuat Riki langsung membenarkan posisi duduknya dengan seketika.
"Ada beberapa masalah yang mengganggu ku belakang ini sehingga membuat ku tidak bisa fokus." ucap Riki sambil mulai membubuhkan tanda tangannya pada dokumen yang dibawa oleh Santi barusan.
__ADS_1
Mendengar keluh kesah dari bosnya itu membuat Santi lantas menjadi tidak tega. Santi terdiam sejenak ditempatnya sambil memikirkan cara untuk menghibur Riki saat ini, sampai kemudian sebuah ide lantas terlintas dibenaknya begitu saja yang kemudian membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajah Santi saat ini.
"Bagaimana jika setelah bekerja kita pergi minum pak? Sekalian untuk menghilangkan penat." ucap Santi kemudian memberikan ide kepada Riki.
"Minum?" ucap Riki sambil mengernyit menatap ke arah Santi.
****
Sementara itu setelah berkeliling di berbagai banyak tempat Sekolahan yang ada di lingkungan Ibukota, pada akhirnya Alena memutuskan untuk menyekolahkan putranya Aksa di salah satu sekolah yang terkenal di Ibukota yaitu TK Pelita Harapan. Entah mengapa Alena begitu tertarik dengan Sekolah itu, sebuah sekolah biasa namun masih mengedepankan sopan santun dan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar.
Meski Sekolah ini tidak di khususkan untuk para anak pejabat maupun pengusaha, namun setidaknya Sekolah ini masih mengedepankan tata tertib dan juga sopan santun tanpa mengelompokkan anak-anak sesuai dengan strata sosialnya.
Sambil tersenyum dengan ceria Alena nampak melangkahkan kakinya keluar sambil menuntun Aksa di sampingnya.
"Apakah kamu menyukai Sekolahan ini?" tanya Alena kemudian sambil menatap ke arah Aksa.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Aksa lantas terdiam seketika seakan tengah berpikir apakah ia benar-benar menyukai Sekolahan ini atau tidak. Alena yang melihat Aksa hanya terdiam seperti itu lantas tersenyum karena wajah berpikir Aksa benar-benar lucu bagi Alena.
"Suka, makanannya enak-enak..." ucap Aksa dengan polosnya sambil tersenyum lebar membuat Alena langsung tertawa seketika begitu mendengar perkataan dari Aksa barusan.
Disaat Aksa dan Alena tengah berbincang masalah Sekolahan sebuah suara yang tak asing bagi Alena lantas mendadak terdengar di telinganya, membuat tawa Alena langsung terhenti seketika di saat mendengar seseorang memanggil namanya.
"Alena..." panggil sebuah suara yang lantas membuat Alena langsung berbalik badan dengan seketika disaat mendengar panggilan tersebut.
__ADS_1
Bersambung