Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Keterlaluan


__ADS_3

"Apa sekarang kau sudah puas telah mengambil segalanya dari ku Steve?" ucap Errando kemudian setelah hening beberapa saat.


"Aku ti...dak pernah mengambil apapun dari mu Er... Percayalah bahwa ap..a yang kau lihat bukanlah kenyataannya." ucap Steven kembali menjelaskan kepada Errando.


Mendengar perkataan Steven barusan, membuat tangan Errando kembali melayang dan hendak memukul Steven namun sengaja Errando plesetkan ke arah samping karena Errando tidak sanggup melakukan hal ini. Errando mengusap rambutnya dengan kasar kemudian bangkit dari posisinya secara perlahan. Dalam posisi yang memunggungi Steven Errando terlihat menatap kosong ke arah depan.


"Pertemanan kita selesai sampai di sini Steve, jangan libatkan aku lagi dalam masalah ini dan jangan coba untuk menjelaskan segalanya karena itu akan semakin membuat ku kesal akan tingkah laku mu itu!" ucap Errando dengan nada penuh penekanan kemudian berlalu pergi meninggalkan Steven yang masih terbaring di tanah.


Melihat kepergian Errando membuat Steven perlahan-lahan mulai bangkit dan memposisikan dirinya untuk duduk. Diusapnya noda darah di sudut bibirnya akibat pukulan dari Errando tadi. Entah harus bagaimana lagi Steven menjelaskan segalanya kepada Errando, namun sayangnya Errando tak pernah mau mendengarkannya sedikitpun dan malah menganggap bahwa ia terus-terusan membual tentang hubungannya dan juga Alena.


Steven mengacak-acak rambutnya dengan kesal karena baru menyadari bahwa niat awal yang hanya ingin membantu Laura membawanya menuju satu-persatu masalah yang kian meruncing tanpa titik penyelesaian. Steven benar-benar merutuki kebodohannya yang terperdaya dengan cinta dan membuatnya buta dalam segalanya.


"Sialan!" ucap Steven dengan nada yang kesal.


***


Kediaman keluarga Hermawan


Alena yang sudah benar-benar membulatkan tekadnya, lantas memberanikan diri pulang ke Rumahnya untuk berbicara dengan kedua orang tuanya tentang perceraiannya dan juga Errando. Apapun yang terjadi meski Alena mencoba untuk menutupinya Alena yakin cepat atau lambat kedua orang tuanya pasti akan tahu juga.

__ADS_1


Dengan langkah kaki yang perlahan Alena mulai membawa kakinya memasuki kediaman Hermawan yang sudah hampir setengah tahun ini tidak ia pijaki setelah pernikahannya hari itu. Dari arah tangga menuju lantai dua, terlihat Tika yang tengah melangkahkan kakinya menuruni satu-persatu anak tangga memasang raut wajah yang kebingungan begitu melihat Alena tengah melangkahkan kakinya masuk ke area dalam mansion sambil memasang raut wajah yang sendu.


Sambil mempercepat langkah kakinya Tika lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alena berada saat ini, membuat Alena langsung menghentikan langkah kakinya ketika ia melihat Tika mendekat ke arahnya saat ini.


"Sendirian aja Al? Dimana Errando? Apa dia tidak ikut?" tanya Tika sambil mengedarkan pandangannya ke arah belakang seakan mencoba mencari keberadaan Errando di belakang.


Mendapat pertanyaan yang bertubi-tubi dari Tika barusan membuat Alena lantas menghela napasnya dengan panjang. Dipegangnya dengan erat lengan Tika sambil menatap sendu ke arah ibunya. Membuat Tika yang mendapati tatapan sendu dari Alena, lantas menatap bingung ke arah Alena akan maksud dari tatapan tersebut.


"Aku ingin bercerai dari Errando ma..." ucap Alena dengan nada yang lirih namun masih bisa terdengar oleh Tika.


Tika yang mendadak mendengar kata perpisahan dalam Rumah tangga putrinya tersebut tentu saja terkejut bukan main. Bagaimana bisa Rumah tangga putrinya yang terlihat baik-baik saja mendadak menjadi berantakan seperti ini tanpa alasan yang jelas. Tika yang tidak tahu-menahu persoalan anak-anaknya lantas hanya bisa menanyakan permasalahannya. Namun ketika Alena ditanya apa yang menyebabkan hubungan keduanya renggang, Alena hanya menggelengkan kepalanya seakan enggan untuk menceritakan permasalahannya.


Alena terdiam dalam pelukan Ibunya seakan berusaha menenangkan hatinya yang tengah gundah saat ini. Apapun yang terjadi Alena benar-benar sudah membulatkan tekadnya dan tetap menginginkan perceraian. Alena tidak akan mengatakan semua ini kesalahan Errando ataupun Alex, sebisa mungkin Alena akan membuat bahwa perpisahan ini murni karena kesalahannya. Paling tidak akan ada dua orang yang terselamatkan sekaligus. Jika untuk dirinya... Setidaknya Alena akan ikut bahagia jika keduanya juga bahagia.


***


Meja makan


Suasana malam itu dikediaman Hermawan terasa begitu dingin dan juga mencekam. Keputusan perceraian yang diambil dengan tiba-tiba oleh Alena, membuat Hermawan marah besar dan mengubah situasi makan malam menjadi tegang dan juga dingin. Alena terdiam di tempatnya sambil menunduk tak berani menatap wajah Ayahnya.

__ADS_1


Alena sungguh tahu apa yang ia lakukan pasti akan dianggap mencoreng nama keluarga besar Hermawan, mengingat keputusan ini diambil olehnya tanpa melewati keputusan bersama atau di dasari dengan alasan yang kuat.


Hermawan menggebrak meja makan dengan keras hingga membuat beberapa makanan tumpah dan juga berantakan. Tika yang melihat suaminya begitu marah tentu saja langsung bangkit dari posisinya dan berusaha menenangkan Hermawan agar tidak semakin meluapkan emosinya.


"Sudahlah Pa, kita dengar dulu alasan Alena oke... Tak perlu emosi seperti ini." ucap Tika mencoba untuk menenangkan suaminya.


"Anak mu ini sudah keterlaluan Ma, dia kira pernikahan hanyalah sebuah mainan yang tak memiliki arti sama sekali. Apakah dia tidak memikirkan kedua belah pihak ketika mengambil keputusan tersebut?" ucap Hermawan dengan nada yang meninggi.


Sedangkan Alena yang mendengar suara bentakan yang berasal dari Hermawan hanya bisa semakin menundukkan kepalanya ke bawah sambil memainkan jari-jari tangannya. Alena benar-benar tidak siap jika harus mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya itu, membuat Alena hanya bisa terdiam membisu tanpa mengucapkan sepatah kata apapun di sana.


"Katakan sesuatu Al, jangan hanya diam seperti ini." ucap Tika kemudian yang masih mencoba untuk menjadi penengah diantara keduanya saat ini.


Mendengar perkataan dari Ibunya barusan membuat Alena perlahan-lahan mendongakkan kepalanya ke atas dan menatap kedua orang tuanya dengan bergantian. Dihembuskannya napasnya panjang selama beberapa kali sebelum Alena mulai mengeluarkan kata-kata.


"Ini semua sudah menjadi keputusan Alena Pa, aku harap Mama dan juga Papa bisa mengerti aku kali ini saja." ucap Alena yang pada akhirnya hanya bisa mengeluarkan kata-kata tersebut alih-alih menjelaskan segalanya kepada Tika dan juga Hermawan.


Hermawan yang mendengar perkataan putrinya itu lagi-lagi di buat kesal. Hermawan yang sudah tidak tahan lagi akan tingkah laku Alena, lantas bangkit dari posisinya kemudian melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang lebar mendekat ke arah Alena. Diangkatnya tangan kanan Hermawan dengan cepat bersiap untuk melayangkan pukulan kepada Alena. Hingga sebuah tangan mendadak menggenggam tangannya dan menggagalkan tamparan Hermawan yang hampir mendarat di pipi Alena.


"Kau jangan ikut campur!" ucap Hermawan dengan nada yang kesal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2