Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Terlalu berlebihan


__ADS_3

"Tolong saya pak..." ucap Aksa sambil berlarian mendekat ke arah Danu untuk meminta pertolongan.


Danu yang seperti mengingat sesuatu tentang anak kecil yang saat ini sedang berlarian ke arahnya, lantas terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Aksa berada.


"Bukankah kamu anak kecil yang sedang tertidur di mobil tersebut?" tanya Danu yang lantas di balas Aksa dengan anggukan kepala sambil terlihat mengatur napasnya dengan perlahan karena kelelahan habis berlarian sedari tadi.


"Apa yang terjadi kepada mu?" tanya Danu kemudian yang melihat anak kecil tersebut sudah berkeringat saat ini.


"Tolong Om yang di sana pak Satpam.. Tolong..." ucap Aksa sambil menarik tangan Danu agar mulai bergerak mengikuti langkah kakinya, membuat Danu yang ditarik pada akhirnya mau tidak mau lantas mengikuti langkah kaki Aksa kemanapun ia membawanya


***


Sementara itu di ruangan VVIP


Alena yang benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada Errando lantas terkejut akan sikap Errando yang mendadak menjadi seperti ini.


"Biarkan aku seperti ini sebentar saja Al.. Aku mohon..." pinta Errando dengan nada yang terdengar begitu sendu.


Alena yang mendengar perkataan Errando barusan lantas terdiam sejenak di tempatnya. Tanpa sadar tangannya bergerak secara perlahan melingkar di leher Errando kemudian mulai mengusap kepala Errando secara perlahan, membuat Errando semakin mengeratkan pelukannya dan bersembunyi di dada Alena.

__ADS_1


Sebuah perasaan yang sudah terpendam selama bertahun-tahun pada akhirnya tumpah dengan seketika disaat Errando melihat kedatangan Alena. Rasa kangen, sayang dan juga bersalah berkumpul menjadi satu dan tidak lagi bisa Errando bendung.


Alena yang mengerti bahwa Errando saat ini sedang tidak baik-baik saja lantas tidak lagi protes dan memberontak, yang Alena lakukan hanya mengusap kepala Errando dengan perlahan sambil membawa Errando semakin erat ke pelukannya. Alena berharap dengan begitu Errando akan menjadi lebih tenang lagi.


Disaat keduanya sedang dalam posisi yang tidak enak di pandang dan mungkin terlihat ambigu dengan posisi Alena yang berada di atas pangkuan Errando sambil memeluk dengan erat Errando. Mendadak sebuah suara pintu yang di buka dari luar lantas mengejutkan keduanya yang sedari tadi hanya berisi keheningan di ruangan tersebut.


"Bagus sekali kalian berdua ya!" ucap sebuah suara yang lantas membuat Alena terkejut dengan seketika begitu mendengarnya barusan.


"Steve..." ucap Alena dengan nada yang lirih begitu mengetahui pemilik suara tersebut berasal dari Steven seseorang yang sama sekali belum siap untuk ia temui saat ini.


Alena yang melihat kedatangan Steven dengan tiba-tiba di tempat itu lantas langsung berusaha melepas dekapan erat dari Errando. Namun sayangnya, Errando yang memang sedang dalam posisi yang mabuk sama sekali tidak melepaskan dekapannya dan malah membuatnya semakin erat sehingga Alena cukup kesulitan melepaskan tangan Errando yang melingkar di pinggangnya.


"Cih menggelikan sekali... Disaat Putra mu dalam bahaya kau malah asyik membuat putra lain di sini. Benar-benar gila! Ibu macam apa kau ini?" ucap Steven dengan nada yang ketus dan juga menyindir kepada Alena.


Mendengar perkataan dari Steven barusan tentu saja membuat Alena terkejut, bukan karena ia yang di katai oleh Steven melainkan lebih ke perkataan Steven yang mengatakan bahwa Aksa dalam bahaya. Alena yang mulai khawatir akan keadaan Aksa lantas terlihat mendorong tubuh Errando begitu saja dan berakhir dengan Errando yang terjatuh dalam posisi terlentang di sofa ruangan tersebut tepat setelah Alena mendorongnya.


Alena yang tidak lagi menghiraukan keadaan Errando lantas langsung bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya menghampiri Steven.


"Apa maksud perkataan mu barusan?" ucap Alena dengan raut wajah yang penasaran.

__ADS_1


Mendengar perkataan Alena barusan lantas membuat Steven tersenyum dengan sinis.


"Putra mu bahkan hampir saja di bawa orang jika aku tidak memergokinya tadi. Awalnya ku kira kau tengah ada kesibukan di tempat ku makanya aku mencoba untuk menyusul mu siapa tahu butuh bantuan, namun setelah aku melihat mu melakukan hal itu pikiran ku terhadap mu benar-benar sudah terkontaminasi, dasar ja**ng." ucap Steven yang begitu entengnya membuat manik mata Alena langsung membulat dengan seketika begitu mendengar perkataan dari Steven barusan.


Ini lah yang Alena takutkan jika sampai Alena bertemu dengan Steven setelah beberapa tahun kemudian. Semua ini memang lah kesalahan Alena yang sama sekali tidak menjelaskan akar permasalahannya kepada Steven dan malah membuat Steven terjerat lebih dalam pada permainannya dulu. Namun terlepas dari itu semua Alena benar-benar terpaksa melakukan hal tersebut untuk membuat Errando percaya bahwa ia dan juga Steven memiliki sebuah hubungan khusus.


"Aku memang bersalah kepada mu di masa lalu dan aku minta maaf untuk hal itu. Hanya saja jangan terlalu berlebihan dalam membenci seseorang karena kau tidak akan pernah tahu siapa orang yang kau benci itu. Kata-kata mu barusan... bukankah terlalu kasar Steve? Apa kamu tidak lihat jika aku masih berpakaian dengan lengkap dan rapi? Aku dan Errando memang berpelukan tapi kami berdua hanya melakukan sebatas itu, aku masih tahu di mana posisi ku. Lagi pula bukankah kalian berdua berteman? Jika memang kau temannya harusnya kau bisa mengurusnya ketika mabuk mengingat tempat ini adalah milik mu." ucap Alena dengan nada yang ketus karena ia sungguh tidak suka akan perkataan Steven yang terlalu menyakitkan.


Steven yang mendengar setiap kata keluar dari mulut Alena hanya terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi. Apa yang di katakan oleh Alena barusan Steven telah melihat buktinya. Sebenarnya Steven juga tahu jika keduanya tidak akan mungkin melakukan hal begituan di tempat umum. Hanya saja rasa kesal dan juga marah yang sudah ia pendam dulu mendadak meledak ketika ia mendapati keduanya tengah berpelukan sedangkan Aksa hampir di culik di luar sana.


Alena yang tak mendengar jawaban apapun dari Steven setelah perkataannya barusan, lantas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Steven dengan keheningannya saat ini.


Sedangkan tepat ketika Alena meninggalkan ruangan VVIP tersebut Errando yang tadinya tepar di sofa terlihat bangkit dari posisinya sambil memanggil-manggil nama Alena berulang kali.


"Alena... Kemana Alena ku pergi... Alena...mmmmm..." ucap Errando dengan nada mengigau dan detik berikutnya memuntahkan isi perutnya begitu saja di lantai, membuat Steven yang melihat hal tersebut lantas terlihat bergidik jijik menatap muntahan Errando.


"Sepertinya aku telah kasar kepada Alena tadi." ucap Steven sambil mengusap tengkuknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2