
"Apa kau sudah gila Er?" ucap Alena dengan nada yang kesal.
Errando yang mendengar teriakan Alena tentu saja langsung terdiam, pikirannya saat ini benar-benar sudah buntu dan tidak tahu lagi harus mengambil jalan apa selain dengan cara ini. Errando bahkan tidak berniat mengambil Aksa dari dirinya namun keadaan yang mendesak dirinya untuk melakukan hal tersebut.
"Aku mohon kali ini saja biarkan aku membawa Aksa, aku janji tidak akan lama.." ucap Errando lagi mencoba untuk membujuk Alena agar mau mengijinkan Errando membawa Aksa.
"Jangan pikir aku akan tertipu dengan bujukan mu saat ini, aku tidak akan pernah mengijinkan kamu membawa Aksa pergi bersama dengan mu." ucap Alena dengan nada penuh penekanan.
Errando yang mendengar hal tersebut tentu saja langsung marah, bagaimana bisa Alena begitu egois tidak mengijinkan Errando membawa Aksa hanya sebentar saja. Padahal jika kita berpikir secara logika, bukankah Errando juga salah di sini? Harusnya Errando mengatakan dengan jelas alasan di balik ia ingin membawa Aksa bersamanya, mungkin dengan begitu Alena akan memberinya waktu dan tidak seegois ini.
"Kau jangan egois jadi orang Al, Aksa juga Putra ku jadi aku masih punya hak atas Aksa!" pekik Errando dengan nada yang lantang membuat Alena langsung melotot dengan seketika begitu mendengarnya.
Cetar ....
Suara gelas yang pecah dan begitu nyaring di telinga, lantas membuat Errando dan juga Alena langsung menatap ke arah sumber suara. Ada sedikit perasaan terkejut dalam diri Alena begitu melihat bahwa Tika saat ini sudah berdiri tak jauh dari keduanya dengan gelas yang berserakan di lantai.
"Mama..." ucap Alena dengan nada yang lirih.
Tak berapa lama setelah bunyi gelas yang pecah terdengar begitu nyaring di ruangan tersebut dari arah lantai atas dan juga bawah terlihat Riki, Alex dan Hermawan nampak berlarian menuju ke ruang tamu dengan raut wajah yang khawatir.
Situasi mendadak terasa semakin panas dan juga menegang karena kehadiran keempatnya secara tiba-tiba. Alena benar-benar tidak tahu dan tidak menyadari akan kehadiran Tika di sana. Raut wajah terkejut terlihat jelas dari mimik wajah Tika membuat Alena langsung menelan salivanya dengan kasar begitu mengetahui situasi sudah semakin rumit.
__ADS_1
"Apa yang harus aku jelaskan kepada mereka semua..." ucap Alena dalam hati dengan raut wajah yang kebingungan.
Disaat Alena tengah berada di sebuah perasaan yang frustasi karena rahasia yang selama ini ia tutupi terbuka juga, yang Errando lakukan malah menarik tangannya dan membawa manik mata Alena menatap ke arah manik matanya yang nampak berkaca-kaca saat ini.
"Aku benar-benar membutuhkan Aksa untuk Papa, tidak bisakah kamu mengerti barang sebentar saja?" ucap Errando dengan nada yang lebih rendah saat ini karena ia tahu situasi sudah kian merumit.
Alena yang mendengar perkataan Errando barusan tentu saja semakin tersulut emosi, di tengah perasaannya yang tengah gusar memikirkan bagaimana cara untuk menjelaskan segalanya kepada keluarganya. Errando malah tetap dengan kekehnya ingin pergi mengajak Aksa, bukankah hal itu sungguh keterlaluan? Di hempaskannya tangan Errando yang melingkar dengan erat di lengannya, membuat semua orang yang berada di sana lantas menatap keduanya dengan tatapan yang bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi kepada keduanya.
"Jangan pernah berharap! Berhenti menggunakan om Arga untuk masalah seperti ini." ucap Alena dengan nada penuh penekanan.
"Ada apa ini Vi?" tanya Riki dengan raut wajah yang penasaran begitu juga yang lainnya.
"Apakah Aksa benar-benar anak Errando? Bukankah kalian berdua mengatakan jika Aksa anak kalian berdua?" ucap Tika dengan nada yang terdengar bingung sambil menatap ke arah Alena dan juga Riki secara bergantian.
"Apa-apaan ini? Alena.. Riki... Katakan yang sebenarnya sekarang juga!" pekik Hermawan yang begitu terkejut akan kenyataan yang baru saja ia terima dan dengar detik itu juga.
Alena dan juga Riki yang mendengar pertanyaan dari Hermawan barusan tentu saja langsung terdiam seketika. Baik Alena maupun Riki sama sekali tidak bisa mengucapkan sepatah kata apapun kepada mereka semua, membuat suasana kian semakin menjadi tegang.
"Aku minta maaf karena merusak suasana tapi aku sungguh membutuhkan Aksa, Papa tengah berjuang antara hidup dan mati di Rumah sakit saat ini. Aku hanya ingin membawa Aksa untuk bertemu dengannya sebentar saja, aku janji akan mengantarnya pulang setelah itu." ucap Errando kemudian yang lantas membuat semua orang terkejut di sana.
"Arga masuk Rumah sakit Er? Kapan?" ucap Hermawan yang terkejut akan berita tersebut.
__ADS_1
Meski keduanya saat ini tengah berseteru sejak sidang perceraian Errando dan juga Alena saat itu. Namun sebagai seorang teman tentu Hermawan tetaplah luluh dan juga khawatir ketika mendengar jika Arga masuk Rumah sakit.
"Papa jangan percaya aku yakin ini adalah akal-akalannya saja, apa Papa tahu? Keluarganya bahkan sudah mengajukan hak asuh anak ke pengadilan dan aku sudah mendapat surat panggilan dari pengadilan tadi siang. Aku yakin jika Om Arga sakit hanyalah akal-akalan mereka saja." ucap Alen dengan nada yang tidak percaya.
Semua orang nampak kembali diam ketika mendengar perkataan Alena yang seakan mulai meragukan perkataan dari Errando. Bahkan ketiganya sampai terkejut ketika mendengar tuntutan hak aus anak yang dilayangkan oleh keluarga Errando. Errando yang tahu jika semua orang tengah menatapnya dengan curiga, lantas kembali melangkahkan kakinya ke tengah dan mulai mengatakan sesuatu untuk meminta Aksa dengan baik-baik.
"Aku sungguh tidak berbohong tentang kondisi Papa, Ada masalah dengan jantungnya dan harus segera mendapat tindakan operasi. Hanya saja karena ada beberapa faktor yang tidak diinginkan terjadi, lantas membuat Papa tidak bisa menjalani operasi dan sedang berada dalam kondisi yang kritis. Aku tidak tahu apakah cara ini akan berhasil, namun aku ingin mempertemukan Papa dengan Aksa untuk memberinya semangat hidup kembali." ucap Errando mulai menjelaskan membuat semua orang lantas kembali terdiam dengan seketika.
"Biarkan Errando membawa Aksa pergi Al..." ucap Hermawan kemudian yang tentu saja membuat Alena langsung terkejut dengan seketika.
"Pa... Papa tidak mengerti apapun, aku..." ucap Alena hendak menolak namun perkataan Riki lantas memotong perkataannya.
"Berikan waktu untuk Aksa dan juga Tuan Arga bertemu Vi, aku yakin kali ini Errando tidak akan berbohong tentang masalah sebesar ini." ucap Riki kemudian yang ikut membujuk Alena agar mengijinkan Errando.
"Tapi..." ucap Alena namun tercekat seakan bingung hendak mengatakan apa.
"Jika memang kamu tidak percaya dengannya, ikutlah dengan Errando dan buktikan segala perkataannya, bukankah harusnya begitu Al?" ucap Alex kemudian yang ikut membujuk Alena.
"Kak..."
Bersambung
__ADS_1