Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Tes DNA


__ADS_3

Alena..." panggil sebuah suara yang lantas membuat Alena langsung berbalik badan dengan seketika disaat mendengar panggilan tersebut.


Melihat Silvi yang saat ini berdiri tepat di belakangnya, lantas membuat sebuah perasaan terkejut tergambar dengan jelas di wajah Alena. Alena bahkan benar-benar tidak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan Silvi di tempat ini, padahal Alena sengaja memilih sekolah biasa atau sekolah umum untuk menyekolahkan putranya agar ia tidak bertemu dengan Silvi maupun juga keluarga Valentino lainnya.


"Mengapa aku harus bertemu dengan tante Silvi di sini?" ucap Alena dalam hati sambil menatap kosong ke arah depan.


Alena benar-benar terdiam kaku di tempatnya, entah mengapa setelah bertemu tanpa sengaja dengan Silvi seperti ini membuat sebuah perasaan takut lantas menghinggapi dirinya. Sebuah perasaan takut yang sering dirasakan oleh Ibu tunggal di luaran sana ketika ia berhadapan dengan mantan mertuanya. Alena benar-benar takut jika tiba-tiba Silvi mengajukan hak asuh anak, akankah ia sanggup melawan keluarga Valentino di pengadilan nantinya? Meski keluarganya termasuk dalam keluarga yang berada Alena bahkan tidak yakin bahwa ia akan memenangkan kasus itu nantinya.


Disaat Alena tengah terdiam dengan pemikirannya sendiri, Silvi yang memang sudah diberitahu kabar tentang putra Alena lantas langsung terfokus pada pemuda kecil tampan yang menggenggam erat tangan Alena saat ini. Wajah anak kecil tersebut benar-benar mirip dengan Errando ketika kecil, membuat Silvi tanpa sadar lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alena berada hendak menghampiri anak kecil tersebut untuk memastikannya.


"Wajahnya benar-benar sangat mirip dengan Errando..." ucap Silvi dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Aksa.


Mendengar perkataan dari Silvi barusan tentu saja langsung mengundang tanda tanya besar di kepala pria kecil itu, sambil menggoyangkan tangan Alena perlahan Aksa mulai menanyakan sesuatu yang lantas membuyarkan lamunan Alena dengan seketika.


"Siapa Errando Mommy?" ucap Aksa dengan raut wajah yang polos dan tentu saja mengejutkan Alena dan juga Silvi yang mendengarnya.


"Dia adalah..." ucap Silvi hendak menjelaskan kepada Aksa namun langsung terputus karena Alena menarik tangan Aksa dengan spontan.


"Saya minta maaf tan, kami berdua harus pergi karena suami saya sedang menunggu kami untuk makan malam, permisi..." ucap Alena kemudian memotong perkataan Silvi barusan.


Mendengar kata suami keluar dari mulut Alena barusan tentu saja lantas membuat Silvi terkejut dengan seketika. Silvi bahkan tidak menyangka bahwa Alena sudah memiliki suami lagi setelah Errando.

__ADS_1


Tanpa ingin mendengar balasan dari Silvi lantas membuat Alena mulai melangkahkan kakinya dengan bergegas hendak meninggalkan tempat tersebut, namun langkah kakinya terhenti seketika disaat mendengar perkataan Silvi yang sudah ia takutkan keluar dari mulutnya tepat ketika keduanya bertemu.


"Apa dia adalah anak Errando Al?" ucap Silvi dengan tiba-tiba yang lantas membuat Alena menghentikan langkah kakinya dengan spontan.


Alena terdiam di tempatnya dengan seketika, sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak mampu Alena jawab lantas keluar begitu saja dari mulut Silvi, membuat Alena sama sekali tidak bisa berkutik ketika mendengar pertanyaan tersebut. Sedangkan Silvi yang melihat Alena hanya diam tanpa menanggapi pertanyaannya barusan, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alena berada.


"Tante yang benar saja, ini anak Alena dan suami Alena yang sekarang tan." ucap Alena kemudian sambil berbalik badan dan memasang senyuman dengan lebar.


Melihat hal tersebut membuat Silvi yang ganti terdiam, meski Alena mengatakan hal yang sedemikian rupa entah mengapa instingnya tetap mengatakan bahwa pria kecil itu adalah putra Errando meski Alena terus mengatakan bukan sekalipun.


"Jangan berbohong Al.. Mama tidak akan marah kepadamu, asalkan kamu mengatakan yang sebenarnya." ucap Silvi kemudian sambil mengusap pundak Alena dengan perlahan sedangkan Aksa yang sama sekali tidak mengerti akan percakapan keduanya hanya bisa menatap Alena dan juga Silvi dengan tatapan yang bingung.


"Tan aku mohon di sini ada Aksa, sebaiknya kita bahas sesuatu yang lain saja ya." ucap Alena kemudian dengan nada yang memohon berharap dengan begitu Silvi akan mengerti.


"Tan ku mohon... Bukankah sudah ku katakan bahwa dia adalah anak saya bersama dengan suami, lalu saya harus menjawabi bagaimana lagi agar Tante percaya pada perkataan saya?" ucap Alena pada akhirnya dengan nada yang kesal.


"Tes DNA mungkin itu satu-satunya yang dapat menjawab keraguan saya." ucap Silvi kemudian yang tentu saja membuat Aruna tercengang ketika mendengarnya.


"Tes DNA?" ulang Alena dengan nada yang terkejut ketika mendengar penuturan yang tak masuk akan dari Silvi barusan.


***

__ADS_1


Sementara itu di salah satu tempat hiburan malam yang terkenal di Ibukota terlihat Riki dan juga Santi tengah duduk di salah satu kursi tamu dengan keheningan.


Santi benar-benar tidak tahu bagaimana cara menghibur Bosnya itu, sampai kemudian sebuah ide gila yang patut di coba lantas terlintas begitu saja di benaknya.


Santi yang yakin ide ini akan berhasil lantas membuatnya melambaikan tangan ke arah pelayan agar mendekat ke arahnya, kemudian membisikkan sesuatu yang lantas membuat pelayan itu mengangguk dengan seketika begitu mendapat perintah tersebut.


**


Beberapa menit kemudian pelayan tempat hiburan malam itu lantas terlihat membawa beberapa botol bir sekaligus ke meja dimana Santi dan Riki berada, kemudian menatanya dengan cantik di sana. Membuat Riki yang sedari tadi melamun melihat begitu banyaknya botol bir di sana tentu saja langsung terkejut seketika.


"Ada apa ini San?" tanya Riki dengan raut wajah yang terkejut sekaligus penasaran akan apa yang sebenarnya sedang Santi lakukan saat ini.


Santi yang mendapat pertanyaan tersebut lantas tersenyum dengan nakal kemudian mengedipkan matanya sebelah yang tentu saja semakin membuat Riki tidak mengerti dengan jalan pemikiran Santi saat ini.


Santi yang tidak ingin langsung menjawab pertanyaan dari Riki barusan, lantas terlihat langsung membuka satu persatu tutup botol tersebut dengan raut wajah yang bahagia kemudian setelah itu menuangkannya ke dalam gelas dan memberikannya kepada Riki.


"Mari kita minum dan melupakan segalanya Pak..." ucap Santi sambil menyerahkan gelas tersebut kepada Riki.


Riki yang mendapat perlakuan tersebut tentu saja terkejut bukan main. Namun atas desakan dari Santi lagi dan lagi Riki terlihat terus meminum bir di gelas itu tanpa henti dan tanpa jeda sama sekali, membuat Riki yang dalam posisi setengah mabuk mendapat sogokan bir secara terus menerus membuatnya menjadi mabuk dan detik berikutnya tepar di tempat.


"Bagus sekali!" ucap Santi kemudian ketika melihat Riki sudah pingsan karena mabuk.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2