
Keesokan harinya
Di area lorong menuju ruangan Presdir terlihat Riki tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas menuju ke arah ruangannya. Sambil memutar handel pintu ruangannya, Riki yang hendak masuk ke dalam lantas menghentikan langkah kakinya begitu mendengar sebuah suara menyapa telinganya.
"Pagi pak" sapa Santi kemudian yang lantas membuat Riki langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
"Masuklah ke dalam San..." ucap Riki yang tahu bahwa kedatangan Santi ke ruangannya pasti untuk melaporkan sesuatu.
Santi yang mendengar perkataan dari Riki barusan lantas mengangguk tanda mengerti. Baru setelah itu mengikuti langkah kaki Riki masuk ke dalam ruangannya untuk mulai membahas beberapa hal penting tentang tender yang akan diadakan beberapa hari lagi.
Keduanya kemudian mulai melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam ruangan Riki dan langsung mengambil duduk di sofa ruangan tersebut.
"Bagaimana kelanjutannya?" ucap Riki kemudian sambil menatap dengan raut wajah yang penasaran ke arah Santi.
Santi yang mendapat pertanyaan tersebut kemudian lantas memberikan beberapa map yang sedari tadi ia bawa tepat ke hadapan Riki. Membuat Riki yang melihat hal tersebut lantas langsung membaca satu persatu laporan tersebut sekaligus mempelajarinya dengan cermat.
"Saya sudah melakukan beberapa survei dan juga penelitian tentang bangunan yang diminati oleh beberapa konsumen maupun produsen tahun ini. Saya sudah mengumpulkannya menjadi satu agar anda lebih mudah untuk mempelajarinya." ucap Santi mulai menjelaskan segalanya.
Riki yang mendengar perkataan dari Santi barusan kemudian lantas terdiam sejenak sambil mempelajari beberapa desain bangunan yang dipilihkan oleh Santi. Beberapa menit berkutat dengan aneka desain bangunan, Riki kemudian terlihat menghentikan kegiatannya dan langsung menatap ke arah Santi. Membuat Santi yang mendapat tatapan tersebut lantas langsung bertanya-tanya akan maksud dari tatapan Riki kepadanya.
"Sebenarnya ada hal yang juga penting untuk kita ketahui jika ingin memenangkan tender yaitu lawan kita agar kita bisa bersiap jika sesuatu hal mengejutkan terjadi pada saat tender berlangsung. Ngomong-ngomong soal lawan, apa kamu sudah menyiapkannya?" ucap Riki kemudian bertanya membuat Santi sedikit gugup dan bingung harus menjawab apa pertanyaan dari Riki barusan.
"Saya tidak terlalu yakin akan hal itu pak, hanya saja ada beberapa perusahaan yang mungkin akan menjadi pesaing yang cukup kuat bagi anda yang notabennya masih baru dalam hal ini." ucap Santi dengan nada yang sedikit ragu karena takut jika Riki akan tersinggung nantinya.
__ADS_1
"Biar ku tebak pasti salah satunya ada FN Company, bukan?" ucap Riki kemudian dengan tersenyum tipis membuat Santi yang mendengar hal tersebut langsung mengangguk dengan seketika.
"Tentu saja pak, bukan kah perusahaan itu tengah berjaya saat ini?" ucap Santi kemudian menambahkan.
"Iya kau benar, itu artinya kita harus berusaha lebih giat lagi untuk mendapatkan tender kali ini." ucap Riki dengan nada penuh penekanan membuat Santi yang mendengarnya lantas langsung mengangguk dengan mantap.
Setelah pembicaraan singkat tersebut keduanya kemudian kembali fokus pada pekerjaan mereka masing-masing sambil sesekali membahas tentang desain yang akan keduanya gunakan.
***
Supermarket
Hari ini karena ada beberapa hal yang ingin Alena beli, Alena memutuskan untuk pergi berdua bersama dengan Aksa ke Supermarket sekalian mampir ke taman bermain sebentar. Dari arah pintu masuk Supermarket terlihat Alena dan juga Aksa tengah melangkahkan kakinya menyusuri area pintu masuk sambil mendorong troli belanjaan. Sambil memilah satu persatu keperluan yang ia butuhkan, keduanya tengah asyik menikmati waktu belanja berdua mereka.
Mendengar pertanyaan dari Aksa tentu saja langsung membuat Alena tersenyum seketika.
"Apa kau menyukainya?" tanya Alena kemudian sambil memposisikan tubuhnya sedikit membungkuk menatap wajah tampan putranya itu dari dekat.
"Tentu saja Mommy, cari yang besar agar nanti bisa diberi selimut yang besar?" ucap Aksa dengan nada kegirangan.
Mendengar kata selimut membuat Alena langsung mengernyit dengan seketika. Sampai kemudian Alena yang teringat akan hidangan udang tempura dengan spontan tertawa kecil karena Aksa menyebut udang tempura sebagai udang berselimut tebal.
"Itu namanya udang tempura, mengapa jadi udang berselimut tebal?" ucap Alena sambil menahan tawanya membuat Aksa menjadi kebingungan menatap ke arah Alena karena sedari tadi yang dilakukan Alena malah tertawa ketika mendengar perkataannya.
__ADS_1
"Karena udang tersebut nampak seperti sedang kedinginan dan memakai selimut, bukankah begitu Mom?" tanya Aksa dengan raut wajah yang polos menatap ke arah Alena.
Melihat wajah putranya yang polos tersebut membuat Alena lantas semakin tertawa dengan kencang. Sepertinya sifat anak kecil yang suka penasaran namun selalu menerkanya dengan asal, membuat mereka terlihat sangat menggemaskan dengan tingkah konyol mereka.
"Baiklah... baiklah..." ucap Alena kemudian sambil mengusap sudut matanya yang terasa sedikit berair.
Disaat Alena tengah terhanyut akan pembicaraan bersama dengan putranya, sebuah suara yang sama sekali tidak ia inginkan kehadirannya lantas terdengar menyapa telinga Alena, membuat Alena yang mendengar suara tak asing tersebut lantas langsung menghentikan tawanya dengan seketika.
"Alena?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Alena dengan spontan berbalik badan menatap ke arah sumber suara untuk memastikan bahwa pemilik suara tersebut adalah seseorang yang sangat ia benci kehadirannya dan berharap tidak akan pernah bertemu dimanapun.
Alena yang baru saja berbalik badan dan melihat Laura berada tepat dibelakangnya, lantas dengan spontan menarik tangan Aksa agar bergerak ke belakang tubuhnya dan menahannya di sana. Alena benar-benar tidak ingin jika putranya hanya akan menjadi bahan cemoohan atau bahkan hinaan bagi Laura nantinya.
Sedangkan Aksa yang ditarik dengan tiba-tiba tentu saja terkejut namun ia mencoba untuk mengerti karena ia yakin Alena melakukannya bukanlah tanpa alasan. Sehingga membuat Aksa hanya bisa sesekali melirik ke arah depan untuk melihat siapa yang saat ini tengah berada di depan Alena.
Laura yang melihat Alena menarik anak kecil ke arah belakangnya, lantas terlihat mengernyit dengan tatapan yang bingung seakan bertanya-tanya akan alasan Alena yang tiba-tiba melakukan hal tersebut. Laura yang penasaran akan sosok anak kecil yang ditarik oleh Alena barusan, lantas terlihat melangkah kakinya mendekat ke arah dimana Alena berada, membuat Alena mulai membawa Aksa ikut melangkah mundur bersamanya.
"Siapa yang tengah kau sembunyikan di belakang mu? Tidakkah kau ingin memperkenalkannya kepadaku?" ucap Laura kemudian sambil tersenyum tipis dengan langkah kaki yang kian mendekat ke arah Alena saat ini.
Alena yang melihat Laura semakin mendekatkan langkah kakinya sudah pasti terlihat begitu gugup. Jika sampai Laura melihat wajah Aksa yang begitu mirip dengan Errando pasti akan memancing rasa penasaran Laura tentang Aksa.
"Ada apa dengan wajah mu itu Al?" ucap Laura lagi dengan raut wajah yang penasaran.
Bersambung
__ADS_1