Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Dasar pemalas


__ADS_3

"Boleh saya tahu alasannya nona?" tanya Surti dengan hati-hati.


"Aku... jika Bibi mengatakan akulah yang memasak, aku yakin Errando tidak akan pernah menyentuhnya, bukankah Bibi selalu melihat makanan yang masih utuh tersaji di meja makan? Aku rasa dengan tidak memberitahunya mungkin itu adalah cara yang terbaik." ucap Alena dengan tersenyum miris kemudian berlalu pergi dari sana.


Surti yang mendengarkan penjelasan dari Alena barusan hanya bisa tertegun karena tidak menyangka bahwa Alena sampai terpikirkan cara seperti itu agar Errando mau memakan masakannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan tuan muda, dia dulu seseorang yang hangat dan juga penyayang... mengapa tiba-tiba semuanya berubah?" ucap Surti sambil masih menatap ke arah punggung Alena yang terlihat semakin menjauh naik ke atas tangga.


***


Ruangan kerja Errando


Sebuah deringan ponsel yang menggema di ruangan tersebut, lantas langsung membangunkan Errando dari tidurnya. Diusapnya pelipisnya sebentar yang terasa berdenyut karena terkejut akan suara deringan ponselnya sendiri, baru setelah itu menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Halo" ucap Errando kemudian.


"Maaf sebelumnya jika saya mengganggu tuan, saya hanya ingin mengingatkan bahwa sepuluh menit lagi anda akan ada meeting penting tuan." ucap Rama dengan nada yang hati-hati takut membangunkan singa yang tengah tertidur saat ini.


"Baiklah aku akan segera ke sana persiapkan saja segalanya." ucap Errando kemudian memutus sambungan teleponnya.


Setelah sambungan teleponnya terputus Errando terlihat merenggangkan ototnya yang kaku karena posisi tidur yang salah. Hingga kemudian pandangannya terhenti pada sebuah plester yang menempel tepat di area punggung tangannya. Melihat hal tersebut Errando mengernyit seketika karena memang ia sama sekali tidak merasa menempel plester tersebut ataupun mengobati luka di punggung tangannya akibat pukulannya sendiri kemarin.


Dengan langkah yang perlahan Errando kemudian mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya hendak bertanya siapa yang telah mengobatinya dan lagi-lagi langkah kakinya lantas terhenti ketika melihat setelah jas lengkap tergantung dengan cantik pada gantungan baju yang terletak di ruangan Errando.


"Aku tahu siapa yang telah melakukannya." ucap Errando dengan tersenyum tipis kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangannya menuju ke arah dapur karena ia yakin bahwa Alena tengah sibuk di dapur pagi ini.

__ADS_1


Dengan langkah yang bergegas Errando terlihat menuruni satu persatu anak tangga menuju ke arah dapur mencoba mencari keberadaan Alena di sana. Hanya saja ketika langkah kakinya sampai di meja makan di sana tidak ada Alena sama sekali, membuat Errando lantas mengernyitkan keningnya dengan bingung karena biasanya jika pagi seperti ini, Alena pasti akan terlihat di dapur dan membantu Surti menyiapkan makanan, walau pada akhirnya Errando tidak pernah menyentuhnya sama sekali jika masakan itu adalah buatan Alena.


Surti yang melihat Errando kebingungan lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Errando berada.


"Apa tuan muda mencari nona Alena?" tanya Surti kepada Errando.


"Dimana dia Bik?" tanya Errando kemudian.


"Nona kembali tidur di atas tuan muda setelah selesai menyiapkan perlengkapan anda." ucap Surti.


Lalu siapa yang membuat sarapan?" tanya Errando lagi karena tiba-tiba perutnya keroncongan dan tak sengaja melihat sandwich yang tersaji di atas meja makan.


"Em... saya tuan" ucap Surti sambil menunduk tak berani menatap manik mata Errando karena takut Errando akan mengetahui kebohongannya.


"Sudahlah aku tidak mau ikut campur urusan mereka." ucap Surti kemudian sambil kembali melangkahkan kakinya kembali menuju ke arah dapur untuk melanjutkan kegiatannya yang tertunda.


***


Kamar utama


Beberapa menit setelah Errando menyelesaikan ritual mandinya. Errando melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Diliriknya sekilas ke arah ranjang dengan ukuran king size di kamarnya, di mana terlihat Alena tengah tertidur dengan pulasnya sama seperti tadi ketika ia datang ke kamar.


"Apakah dia semalam sama sekali tidak tidur? Hingga saat ini bahkan masih berada di bawah selimut, dasar pemalas!" ucap Errando sambil melangkahkan kakinya ke arah walk in closed dan mulai berganti pakaian tanpa memperdulikan Alena yang sedari tadi sudah susah payah menyiapkan pakaian untuknya.


***

__ADS_1


FN Company


Dari arah lorong terlihat Errando tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan kerjanya. Ia sangat tahu jika ia sudah telat sepuluh menit lamanya, namun Errando dengan santainya malah masuk ke dalam ruangannya dengan langkah kaki yang santai seakan tidak punya dosa sama sekali. Membuat Alex klien penting yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya semakin menatap kesal ke arah Errando yang terlihat baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangannya.


"Ah, ternyata CEO dari FN Company tidak hanya arogan namun juga suka membuang-buang waktu, sepertinya Om Arga terlalu terburu-buru dalam menyerahkan tandu kepemimpinan kepada putra seperti dirimu." ucap Alex dengan nada yang menyindir namun begitu halus dan disertai senyuman.


Sedangkan Errando yang mendengar sindiran dari Alex baru saja terlihat mengepalkan tangannya dengan erat kemudian berbalik badan menatap ke arah Alex dan mulai memasang senyuman palsu kepadanya.


"Kakak ipar seperti tidak tahu saja tentang urusan pengantin baru, kakak tahu sendiri lah jika Alena begitu manja sampai-sampai tidak ingin aku untuk pergi bekerja." ucap Errando sambil memasang senyuman yang mengejek ke arah Alex, membuat Alex langsung terdiam seketika disaat mendengar jawaban dari Errando barusan.


Errando yang melihat sindirannya tepat sasaran, lantas terlihat mendudukkan dirinya pada sofa ruangannya dan menatap ke arah Alex yang terlihat diam dengan raut wajah yang memerah.


"Terserah apa katamu, yang jelas aku datang ke sini untuk membahas permasalahan pembangunan hotel berbintang yang secara tiba-tiba kau serahkan padaku. Ah aku lupa mengucapkan terima kasih kepadamu, karna berkat kau aku menjadi pusat perhatian dan juga mendapatkan reputasi yang buruk karena memenangkan tender besar karena dirimu!" ucap Alex dengan nada yang ketus.


Errando yang mendengar ucapan dari Alex barusan tentu saja tertawa dengan keras. Sambil bertepuk tangan dengan pelan yang tentu saja langsung membuat raut wajah Alex langsung berubah seketika.


"Asal kakak tahu, apa yang kakak dapatkan saat ini belum sebanding dengan apa yang dirasakan oleh kak Juwita! Selagi kakak belum mengakui perbuatan kakak, aku akan selalu menjadi bayang-bayang mengerikan bagi kak Alex selama aku masih hidup!" ucap Errando dengan nada penuh penekanan.


"Apa kau yakin dengan kata-katamu itu?" tanya Alex dengan nada yang meremehkan.


"Kenapa? Apa kakak juga akan melenyapkan ku seperti kak Alex yang melenyapkan kak Juwita satu tahun yang lalu?" ucap Errando lagi.


"Kau..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2