
Malam harinya
Errando yang baru saja pulang terlihat melangkahkan kakinya memasuki area mansion. Perutnya kini bahkan benar-benar sudah keroncongan, sehingga membuatnya langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan alih-alih pergi untuk bersih-bersih badannya terlebih dahulu ke kamar baru setelah itu makan.
Errando yang sudah membayangkan berbagai jenis makanan kesukaannya tersaji di meja makan, lantas terus melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan. Hanya saja ketika langkah kaki Errando sampai tepat di area meja makan keadaan meja makan saat itu benar-benar kosong tanpa ada makanan apapun di sana, membuat Errando lantas terkejut seketika.
"Kosong?" ucap Errando pada diri sendiri dengan tatapan yang bingung menatap ke arah meja makan.
Errando yang tidak lagi tahan akan kelakuan Alena yang terus-terusan aneh tanpa alasan yang jelas, kemudian mulai mengambil langkah kaki besar mencari keberadaan Alena di setiap ruangan mansion miliknya. Errando membuka pintu kamarnya dengan keras membuat Alena yang sedang asyik berselancar pada layar ponselnya lantas langsung menoleh ke arah sumber suara, namun detik berikutnya kembali menatap ke arah layar ponselnya seakan acuh akan kehadiran Errando di sana. Membuat Errando kian kesal karena tingkah Alena yang seperti acuh itu.
Dengan langkah kaki yang cepat Errando mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alena kemudian mengambil ponsel milik Alena dan melemparnya ke ranjang begitu saja, membuat Alena yang mendapat perlakuan perlakuan tersebut tentu saja terkejut bukan main.
"Apa-apaan sih? Gak lucu tahu!" pekik Alena sambil bangkit dari posisinya dan menatap tajam ke arah Errando.
"Kau yang apa-apaan? Apa menurutmu tingkah lakumu ini sungguh pantas di sebut sebagai seorang istri?" ucap Errando tidak mau kalah dan pada akhirnya Errando menumpahkan segalanya kepada Alena namun dengan kata-kata yang tajam.
Mendengar ucapan Errando yang seperti itu membuat Alena menjadi naik pitam. Alena benar-benar tidak habis pikir jika Errando akan mengatakan hal tersebut kepadanya, padahal jelas-jelas apa yang dipertanyakan oleh Errando harusnya untuk dirinya sendiri, bukan malah berteriak kepada Alena seperti ini.
"Kau bertanya tentang seorang isteri, tapi pernah kamu berpikir tentang tugas mu sebagai seorang suami Er?" ucap Alena dengan nada yang meninggi.
Errando terdiam seketika disaat mendengar pertanyaan dari Alena barusan. Errando yang memang sudah uring-uringan malah menjadi kelepasan ketika melihat Alena seperti itu, padahal tadinya Errando ingin menanyakannya secara baik-baik namun ketika sampai di rumah dan melihat Alena, entah mengapa semuanya keluar begitu saja tanpa bisa Errando kontrol sama sekali.
__ADS_1
"Aku..."
"Kenapa? Kamu tidak bisa menjawabnya bukan? Jadi hentikan permainan rumah-rumahan ini karena aku sudah muak." ucap Alena kemudian menarik napasnya panjang bersiap untuk mengatakan satu kata yang terasa begitu berat baginya.
"Ceraikan aku Er, biar aku yang mengurus segala surat-suratnya karena aku..." ucap Alena pada akhirnya namun terpotong karena Errando yang tiba-tiba menarik tangannya dengan kencang.
"Jangan pernah berharap aku akan menceraikan mu! itu tidak akan pernah terjadi." ucap Errando dengan nada penuh penekanan.
Alena benar-benar terkejut akan sikap Errando yang tiba-tiba ini, pandangan Errando terlihat begitu tajam dan menembus hingga ke dalam retinanya. Alena yang mulai ketakutan akan kemarahan Errando lantas berusaha untuk meronta dan melepaskan genggaman erat tangan Errando pada tangannya yang mulai terasa kesakitan karena genggaman Errando yang terlalu kuat.
Errando yang melihat Alena terus saja memberontak lantas langsung melemparnya ke atas ranjang dan membawa Alena ke dalam kungkungannya, yang membuat Alena terkejut bukan main karena ia merasa tidak asing dengan perlakuan Errando kepadanya saat ini. Alena yang benar-benar tahu akan apa yang akan dilakukan oleh Errando, lantas berusaha keluar dari kungkungan Errando sekuat tenaganya.
"Lepaskan aku Er... kau tidak bisa melakukannya ketika kau sedang seperti ini!" ucap Alena namun malah di balas Errando dengan senyuman yang menyeringai.
"Mengapa tidak bisa? Kau adalah istri ku dan aku berhak atas segalanya termasuk tubuh mu!" ucap Errando dengan nada penuh penekanan, membuat raut wajah Alena berubah seketika.
***
Di sebuah tempat hiburan malam
Terlihat Laura tengah melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat hiburan tersebut. Seperti biasanya Laura bergegas menuju ke arah minibar mencoba mencari keberadaan Steven di sana. Laura yang melihat Steven ada di minibar lantas langsung melambaikan tangannya ke arah Steven sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Steven berada. Hanya saja Steven yang melihat Laura melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya, lantas langsung melangkahkan kakinya keluar dari minibar seakan ingin menghindari Laura.
__ADS_1
Laura yang melihat Steven berlalu pergi tentu saja langsung mempercepat langkah kakinya menghampiri Steven yang berlalu pergi menjauh menuju ke arah belakang tempat hiburan tersebut.
Ditariknya tangan Steven yang baru saja melangkah lewat pintu keluar, membuat Steven lantas menghentikan langkah kakinya begitu tangan Laura menahannya.
"Mengapa kau pergi? Apa kau ingin menghindari ku?" tanya Laura secara langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Mendapat pertanyaan tersebut Steven hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang. Steven benar-benar tidak ingin bertemu dengan Laura karena pasti Laura akan kembali menanyakan tentang kesanggupannya dalam membantunya untuk mendapatkan hati Alena.
"Jika kali ini kau akan kembali membahas tentang rencana gila mu itu aku sama sekali tidak berniat melakukannya." ucap Steven dengan nada yang memohon.
Laura yang mendengar ucapan Steven barusan berusaha untuk memutar otaknya. Jika seperti ini terus rencananya tidak akan pernah tercapai tanpa bantuan dari Steven, meski Laura bisa melakukannya sendiri tapi jika Steven mau membantunya hal itu akan menjadi lebih mudah setidaknya dua mangsa akan langsung masuk ke dalam perangkapnya.
Laura yang tidak tahu cara apa lagi untuk membujuk Steven pada akhirnya langsung menarik tengkuk Steven dan membawanya mendekat pada bibirnya. Dengan gerakan yang tiba-tiba Laura langsung meraup bibir Steven dengan kasar. Laura mencoba membawa Steven ke dalam permainan yang menggairahkan membuat Steven sejenak terhanyut ke dalam permainan Laura. Hingga kemudian Steven sedikit mendorong tubuh Laura sedikit menjauh dan menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Apa kau sungguh akan berjalan kepadaku jika aku melakukan hal tersebut?" tanya Steven kemudian yang lantas membuat Laura terdiam ketika mendengar pertanyaan tersebut.
"Apapun yang kau inginkan." ucap Laura dengan senyum yang mengembang menghiasi wajahnya.
"Aku..."
Bersambung
__ADS_1