
Keesokan harinya
Suasana mansion Errando kini terlihat sangat sepi, pagi-pagi sekali Errando berangkat dengan raut wajah yang berantakan sambil masih mengenakan setelan kemeja jasnya yang masih terlihat awut-awutan, sedangkan Alena seharian ini tidak terlihat sama sekali turun dari kamarnya. Alena terus-terusan berdiam diri di dalam kamar merenungi segala hal yang terjadi kepadanya.
Helaan napas terdengar berhembus dari mulut Alena ketika bayangan tentang kejadian semalam kembali terlintas dibenaknya. Dengan raut wajah yang penuh amarah Errando melempar surat perceraian yang sudah ia tanda tangani kemudian dengan langkah kaki yang sempoyongan ia turun dari lantai dua dan masuk ke dalam ruang kerjanya meninggalkan Alena dan juga Steven di sana.
Alena benar-benar tidak tahu jika sudah seperti ini, akankah Alena harus bahagia atau malah sedih karena keinginannya yang terwujud tanpa perlu ia bersusah payah untuk membujuk Errando melakukannya. Entah mengapa Alena malah sedikit menyesali keputusan yang ia ambil secara terburu-buru ketika itu.
"Tidak Alena! Semua keputusan yang kau ambil sudah dipikirkan secara matang jadi jangan pernah berpikir bahwa kau menyesalinya!" ucap Alena pada diri sendiri.
Hingga ketika Alena tengah sibuk berkutat dengan pemikirannya sendiri. Suara deringan ponsel miliknya lantas terdengar menggema memenuhi ruangan kamarnya. Dengan langkah kaki yang malas mendengar ponselnya berbunyi Alena mulai melangkahkan kakinya mendekat menuju ke arah nakas dan mengambil ponselnya. Melihat sebuah nomor asing tertera pada layar ponselnya, membuat Alena lantas mengernyit dengan bingung menatap ke arah layar ponselnya seakan-akan bertanya siapa pemilik nomor tidak dikenal tersebut.
"Halo" ucap Alena kemudian setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Temui aku di Sky Holic sekarang Al, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu!" ucap sebuah suara yang tak asing di pendengaran Alena.
"Steven?" ucap Alena menerka-nerka pemilik suara tersebut.
"Menurut mu siapa lagi?" ucap Steven dengan nada yang terdengar kesal.
"Tidak mau, lagi pula untuk apa aku menemui mu di tempat hiburan malam seperti itu. Jika kau mau temui aku di Kafe Kencana." ucap Alena tidak menurut begitu saja.
__ADS_1
Steven yang mendapat penolakan dari Alena, lantas hanya bisa menghela napasnya dengan panjang dan pada akhirnya mau tidak mau menuruti perkataan Alena barusan yang mengganti tempat ketemuan mereka.
"Baiklah, 20 menit lagi kita bertemu di sana." ucap Steven kemudian baru setelah itu terdengar sambungan telpon yang diputus.
Setelah mendapat telpon tersebut Alena lantas bangkit dengan perlahan dari posisinya. Alena yakin Steven yang meminta untuk bertemu dengannya pasti ada hubungannya dengan apa yang terjadi semalam. Sambil melangkahkan kakinya dengan pelan Alena mulai mengambil tas selempang miliknya dan bergegas pergi menuju tempat yang telah disepakati oleh ia dan juga Steven tadi di telepon.
**
Dengan mengambil langkah kaki yang perlahan Alena mulai membawa langkah kakinya menuruni satu-persatu anak tangga di mansion tersebut. Hingga ketika ia melewati area dapur sebuah suara yang berasal dari Surti lantas menghentikan langkah kakinya yang hendak menuju ke arah pintu utama.
"Non Alena mau kemana? Apa tidak sarapan dulu non biar Bibi buatkan sesuatu untuk non sebentar." ucap Surti begitu melihat Alena turun dari kamarnya.
"Tidak perlu Bi, aku masih kenyang kok." ucap Alena sambil kembali melangkahkan kakinya begitu saja setelah menolak tawaran dari Surti barusan.
Entah mengapa pagi ini Surti merasakan atmosfir aneh di rumah ini. Suasananya begitu dingin dan juga sepi tidak seperti biasanya. Raut wajah Errando maupun Alena nampak sangat suram dan sama sekali tidak bersahabat, membuat Surti sedikit bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi dengan Errando dan juga Alena, hanya saja Surti tidak seberani itu untuk ikut campur dalam permasalahan keduanya yang terlihat begitu serius.
"Semoga saja tidak terjadi hal buruk di rumah ini." ucap Surti kemudian mendoakan yang terbaik untuk keduanya.
***
Tempat hiburan malam Sky Holic
__ADS_1
Laura yang tak sengaja mendengar percakapan dari Steven barusan di telepon, lantas terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Steven berada saat ini. Dirangkulnya Steven dari arah belakang sambil mendaratkan dagunya pada bahu Steven, membuat Steven yang sedikit tersentak akan pelukan yang tiba-tiba itu lantas dengan spontan menoleh ke arah samping untuk melihat siapa yang melakukannya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" ucap sebuah suara yang berasal dari Laura.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Steven lantas menghela napasnya dengan panjang ketika melihat yang memeluknya adalah Laura. Laura yang tak mendengar jawaban dari Steven barusan lantas melepas pelukannya dan melangkahkan kakinya berpindah tempat ke hadapan Steven untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi kepadanya.
"Errando dan juga Alena akan berpisah." ucap Steven dengan raut wajah yang sendu sambil menatap kosong ke arah depan.
Sedangkan Laura yang mendengar perkataan Steven barusan tentu saja senang bukan kepalang. Raut wajah Laura berubah menjadi sumringah ketika ia mendapat kabar bahwa Errando dan juga Alena akan berpisah dalam waktu dekat ini. Tadinya bahkan Laura mengira bahwa hubungan keduanya akan sangat sulit dipisahkan dan kemungkinan besarnya Steven tidak akan bisa merebut hati Alena. Hanya saja siapa sangka jika baru berjalan beberapa hari saja kabar perpisahan antara Alena dan juga Errando sudah terdengar di telinganya, tanpa perlu Laura menunggu waktu yang lama lagi untuk menyaksikan keduanya berpisah.
Laura yang hanyut dalam euforia kebahagiaan akan berita perpisahan Errando dan juga Alena, raut wajahnya langsung berubah seketika disaat Laura melihat wajah sendu Steven saat ini. Ditatapnya Steven dengan tatapan yang menelisik sekaligus bertanya-tanya, apa yang tengah dipikirkan oleh Steven saat ini.
"Ada apa dengan raut wajah mu itu? Bukankah seharusnya kau senang Steve? Ayolah... rencana kita bahkan berhasil kali ini tapi wajah mu sama sekali tidak kelihatan senang seperti itu." ucap Laura membujuk Steven agar tersenyum bahagia karena kemenangan keduanya.
Mendengar perkataan Laura barusan membuat Steven lantas menghela napasnya dengan panjang. Entah mengapa mendapat berita perpisahan Errando dan juga Alena sama sekali tidak membuatnya senang sedikit pun, namun malah merasa bersalah terhadap keduanya. Tanpa menjawab pertanyaan dari Laura barusan, Steven kemudian bangkit dari posisinya bersiap untuk melangkahkan kakinya pergi menemui Alena.
"Aku akan menemui Alena dan mengatakan agar keduanya jangan berpisah, aku benar-benar tidak bisa seperti ini!" ucap Steven sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Laura.
Sedangkan Laura yang mendengar ucapan dari Steven barusan tentu saja terkejut bukan main dan langsung berusaha mengejar langkah kaki Steven.
"Apa yang kau lakukan sebenarnya?"
__ADS_1
Bersambung