
Setelah menerima kabar dari Riki bahwa Alex adalah penyebab kematian Juwita kakak Errando, membuat dunia Alena langsung runtuh seketika. Alena benar-benar tidak tahu bahwa alasan sikap berubahnya Errando karena kakaknya. Jika saja Alena tahu dari awal tentang semua ini, mungkin Alena akan menghargai keputusan Errando untuk menghentikan pernikahan ini. Jika sudah seperti ini, Alena merasa bahwa ia adalah orang yang jahat karena selalu saja meminta kebahagian yang seharusnya sama sekali tidak pantas ia dapatkan di atas penderitaan orang lain.
"Bagaimana mungkin kakak, mama dan juga papa menutupi semuanya dariku?" ucap Alena dalam hati meratapi nasibnya.
Alena terlihat diam membeku di tempatnya, mencoba menatap ke atas langit tanpa satupun bintang malam itu, seakan tengah berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh ke bawah dan membasahi pipinya. Alena ingin satu hari ini saja menjadi hari terindah dalam hidupnya sekaligus kenangan manis yang mungkin akan ia bawa sampai kapan pun juga. Setelah mengetahui tentang rahasia ini, tidak mungkin bukan Alena serakah dan meminta Errando untuk tetap bersamanya hingga akhir?
Walau Alena menginginkan hal itu namun Alena tidak akan setega itu melakukannya dan bahagia di atas penderitaan orang lain. Sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan, Alena mulai terlihat menuntun langkah kakinya ke arah mobil Errando yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Terlihat jelas raut wajah penuh bahagia dari Errando ketika ia melihat Alena melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya.
"Malam ini saja biarkan aku memilih untuk bersikap egois, hanya malam ini saja aku janji..." ucap Alena dalam hati sambil mempercepat langkah kakinya.
***
Di dalam mobil Errando
Ketika keduanya sampai di kediaman Errando setelah menempuh perjalanan selama 25 menit. Suasana diluar sedang hujan lebat disertai petir yang menyambar-nyambar. Entah mengapa melihat hujan yang semakin turun dengan derasnya, membuat suasana hati Alena kian sendu dengan perasaan bersalah yang begitu menyelimuti hatinya.
Errando yang tidak mengetahui apa-apa lantas hanya menatap ke arah sekitar yang masih terlihat hujan turun dengan derasnya. Sepertinya Errando sama sekali belum sadar akan Alena yang tingkahnya mulai berubah. Errando yang tak kunjung mendengar suara Alena, lantas terlihat melirik sekilas ke arah Alena yang saat ini terlihat tengah menatap ke arah derasnya air hujan di luar.
"Apa kau juga berpikiran hal yang sama dengan ku?" ucap Errando kemudian yang lantas membuat Alena langsung berbalik badan dan menatap ke arah Errando dengan tatapan yang bertanya.
"Tentang?" tanya Alena kemudian.
__ADS_1
"Tentang lari hingga sampai ke pintu utama karena aku lupa menaruh payungku di mana, apa kamu baik-baik saja tentang ini?" tanya Errando dengan senyuman yang garing.
Mendengar ucapan Errando membuat hati Alena menjadi menghangat. Sambil tersenyum dengan lebar ke arah Errando, Alena terlihat menganggukkan kepalanya.
"Ayolah Er, pintu utama hanya tinggal beberapa langkah saja tidak perlu sampai seheboh itu..." ucap Alena sambil tersenyum.
"Baiklah nona jika begitu, apakah anda ingin turun sekarang?" ucap Errando kemudian dengan senyum yang menggoda.
"Yes sir..." ucap Alena sambil tertawa dengan lebar.
Setelah mendengar ucapan Alena barusan Errando kemudian mulai membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana melangkahkan kakinya memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk Alena. Di bawah guyuran hujan yang deras Errando menengadahkan kedua tangannya berusaha untuk melindungi Alena dari hujan yang terus turun malam itu, sayangnya walau Errando mencoba semaksimal mungkin. Dengan tangannya yang kecil dan hujan terlalu deras, membuat Alena tetap saja terkena air hujan dan juga basah ketika sampai diambang pintu.
Keduanya masuk secara perlahan ke dalam mansion dan menutup pintu dengan rapat. Sambil mengebas-kebaskan baju mereka yang basah keduanya nampak tertawa dengan ringannya.
Mendengar perkataan Errando tersebut membuat langkah kaki Alena terhenti seketika. Ditatapnya wajah Errando dengan lekat, membuat Errando hingga bertanya-tanya apa yang sedang Alena lakukan saat ini. Hingga kemudian, tanpa pemberitahuan sebelumnya Alena mendekat ke arah Errando dan langsung mencium bibir Errando dengan perlahan, setetes air mata turun dari sudut mata Alena beriringan dengan gerakan bibirnya yang semakin membawa Errando masuk semakin dalam pada permainannya.
"Maaf, mungkin karena air hujan aku sedikit menjadi agresif." ucap Alena setelah melepas tautan keduanya barusan.
Errando yang mendengar kata maaf keluar dari mulut Alena, entah mengapa merasa ada yang janggal seakan-akan kata maaf yang diucapkan sesungguhnya oleh Alena bukanlah untuk kesalahannya yang ini.
Errando yang tidak ingin menyianyiakan kesempatan pada akhirnya langsung mendekap tubuh Alena dan menarik tengkuknya dengan cepat. Dibawanya Alena kepada permainan yang sesungguhnya, dimana lidah Errando tak segan untuk mengeksplore ke dalam mulut Alena. Sambil terus mematut antara satu dengan lainnya, Errando mengangkat tubuh Alena ke dalam pelukannya dan menggendongnya ala bayi koala besar.
__ADS_1
Sedangkan Alena yang digendong seperti itu tentu saja terkejut dan langsung melepas tautan keduanya dengan tatapan yang bertanya-tanya.
"Mengapa kamu menggendong ku seperti ini?" tanya Alena kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Errando yang mendapat pertanyaan tersebut tentu saja langsung tersenyum kemudian memberi kecupan singkat pada bibir Alena, membuat Alena semakin tidak mengerti apa yang saat ini sedang Errando lakukan.
"Kita lanjutkan saja ronde keduanya di kamar, bukankah itu akan terdengar sangat mengasikkan?" bisik Errando dengan nada yang menggoda.
"Baiklah, asalkan kamu melakukannya dengan lembut." ucap Alena kemudian sambil tertawa mendengar bisikan dari Errando karena terasa menggelikan.
"Tentu saja nona aku berjanji." jawab Errando kemudian.
Setelah mendapat persetujuan tersebut Errando membawa tubuh Alena naik ke atas menuju kamar utama untuk menciptakan syurga dunia yang begitu nikmat ketika terjadi atas dasar sama-sama memberi dan juga menerima. Sepanjang malam keduanya habiskan untuk melakukan beberapa gaya baru yang keduanya sama-sama dapat dari internet. Entah berapa ronde yang mereka habiskan malam itu, hanya saja sesuai ucapan Alena sebelumnya bahwa ia akan bersikap egois untuk malam ini.
***
Keesokan paginya
Alena terlihat mengerjapkan kelopak matanya selama beberapa kali ketika cahaya mentari mulai terlihat masuk melalui kaca jendela kamar utama. Diliriknya sekilas ke arah Errando yang saat ini terlihat masih memejamkan matanya karena kelelahan dengan aksi keduanya yang melakukannya tanpa henti semalaman penuh.
Seulas senyum terbit dari wajah Alena ketika ia terus menatapi ke arah wajah Errando dengan tatapan yang menelisik. Hingga sebuah notifikasi pesan singkat terdengar berasal dari ponselnya, lantas membuat raut wajah Alena berubah seketika.
__ADS_1
Saya sudah mengantarkannya ke rumah anda nona
Bersambung