
Keesokan paginya
Sinar mentari yang mulai naik ke atas menimbulkan sebuah cahaya silau yang menembus ke dalam retina Alena pagi itu. Dengan bergerak perlahan mencari perlindungan dari siniar mentari tersebut, Alena mulai mendekatkan tubuhnya dan mengambil posisi semakin masuk ke dalam agar terhindar dari sinar mentari yang membuat matanya silau.
Alena yang terus bergerak dan bergesek mencari kehangatan, lantas tanpa sadar malah membuat sesuatu berdiri dengan tegak di bawah sana, membuat Alena yang awalnya berpikir ia tengah memeluk guling merasa ada yang mengeras di bagian bawah, membuat Alena dengan spontan membuka kelopak matanya dengan lebar ketika menyadari ada sesuatu yang salah.
"Astaga... mengapa aku bisa lupa jika semalam Errando tidur seranjang dengan ku? Dasar bodoh kau Alena..." ucap Alena sambil terus merutuki kebodohannya.
Alena yang mulai menyadari kesalahannya lantas perlahan-lahan mulai mendongakkan kepalanya untuk melihat apakah Errando sudah bangun atau belum. Hanya saja ketika kepala Alena mendongak dengan sempurna dan menatap ke arah Errando, tanpa Alena duga Errando sudah terjaga sepenuhnya dan tengah menatap dengan tajam ke arah Alena saat ini, membuat Alena terkejut seketika dan tanpa sadar menendang tubuh Errando dengan kuat, hingga Errando jatuh ke kolong ranjang.
"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?" teriak Errando ketika tubuhnya sudah berada di lantai.
Alena yang mendengar suara teriakan Errando lantas langsung menelan salivanya dengan kasar. Perlahan-lahan Alena mulai menyembulkan kepalanya dan mengintip Errando di bawah sana. Tingkah Alena yang seperti tengah tertangkap basah, lantas membuat Errando kesal dan langsung bangkit dari lantai sambil mengusap pantatnya yang terasa sakit karena ulah Alena.
"A... aku minta maaf.. aku benar-benar tidak sengaja, aku terkejut ketika melihat kau bangun dan..." ucap Alena terhenti ketika tubuh Errando perlahan-lahan mendekat ke arahnya.
Errando melangkahkan kakinya mendekat ke arah tubuh Alena, membuat Alena langsung terdiam seketika dan mengambil posisi mundur berusaha untuk bangkit dari ranjang dan hendak kabur karena melihat tatapan Errando yang terlihat aneh menurutnya.
"Dan... dan kau harus bertanggung jawab atas apa yang tengah kau perbuat pada junior ku!" ucap Errando dengan nada yang tertahan namun berhasil membuat Alena melongo dengan tatapan yang bingung ketika mendengar ucapan dari Errando barusan.
__ADS_1
Alena menatap dengan tatapan yang tidak mengerti ke arah Errando, namun Errando malah terus menatapnya dengan tatapan yang ingin membuat Alena kian tidak mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi kepada Errando.
"Junior? Junior siapa?" tanya Alena dengan raut wajah yang polos.
Errando yang mendengar pertanyaan polos dari Alena lantas tertawa sambil terus mendekatkan tubuhnya kepada Alena, hingga ketika Errando sudah tidak lagi sabar akan kepolosan yang ditunjukkan oleh Alena, dengan sengaja Errando mendorong tubuh Alena hingga terlentang di atas ranjang kemudian menarik kedua tangan Alena ke atas dan menguncinya, membuat Alena terkejut seketika akan tingkah Errando yang tiba-tiba ini.
"Apa yang kau lakukan Er? Lepaskan aku... lepaskan aku..." ucap Alena sambil mengarahkan pandangannya ke bawah karena ia tidak ingin menatap manik mata Errando yang seperti ini.
Bagi Alena, manik mata Errando terlihat seperti manik mata yang penuh dengan nafsu yang menggebu-gebu dan tentu saja membuatnya takut.
"Kenapa Len? Apa kau tidak ingin bertanggung jawab? Tidakkah kau merasakan sesuatu yang keras di bawah sana?" ucap Errando sambil sedikit menggesek bagian bawahnya, membuat Alena melotot seketika.
Errando bangkit dari posisinya dan berbalik badan memunggungi Alena.
"Jika kau tidak ingin bertanggung jawab, jangan coba-coba melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kau lakukan!" ucap Errando dengan nada yang dingin.
Setelah mengatakan hal tersebut, Errando lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan suara yang cukup keras, membuat Alena langsung terkejut seketika disaat mendengar suara pintu tertutup tersebut. Alena menatap pintu kamar mandi dengan perasaan yang bingung, seakan sedang mencoba menerka apa yang sebenarnya diinginkan oleh Errando. Semua tingkah Errando kepadanya benar-benar membuat Alena kebingungan, perubahan sikapnya yang tidak menentu dan selalu naik turun, membuat Alena tidak terlalu yakin apa sebenarnya yang diinginkan oleh Errando.
"Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria itu? Mengapa aku sama sekali tidak bisa menerkanya?" ucap Alena dengan tatapan yang bingung sambil terus menatap ke arah pintu kamar mandi.
__ADS_1
***
Sementara itu di sebuah tempat hiburan malam milik Steven. Terlihat Steven tengah menatap ke arah gelas berisi minuman beralkohol di tangannya. Pikiran Steven melayang jauh membayangkan segala hal yang telah terjadi kepadanya selama ini. Sebuah perasaan yang tak berbalas selama bertahun-tahun membuat Steven terkadang muak dan juga lelah, namun ketika melihat raut wajah Laura seseorang yang berhasil mengisi hatinya selama bertahun-tahun menjadi hilang dan kembali bersemangat.
Steven tersenyum menatap ke arah gelasnya seperti layaknya orang gila kemudian menegaknya dengan sekali tegukan.
"Dasar bodoh! sudah tahu sungai yang kau seberangi tak berujung namun kau tetap saja memaksakan diri berenang di dalamnya. Lalu jika sudah mulai lelah seperti ini, pantaskah kau untuk mengeluh? Tentu saja jawabannya tidak!" ucap Steven dengan sesekali tersenyum di sela-sela ucapannya.
Ketika Steven tengah sibuk meratapi nasibnya, sebuah langkah kaki yang terdengar mendekat ke arah ruangan VVIP di mana tempatnya berada, lantas membuat Steven langsung menoleh ke arahnya hendak memarahi seseorang yang baru saja datang karena ia saat ini sedang ingin sendiri dan tidak ingin diganggu sama sekali.
"Kau disini? Aku bahkan mencari mu sedari tadi, tapi kau malah enak-enakan duduk di sini." ucap sebuah suara yang ternyata adalah Laura.
Steven yang melihat Laura datang menghampirinya, lantas tersenyum dnegan tipis karena seseorang yang ia pikirkan sedari tadi mendadak muncul dihadapannya saat ini. Membuat Steven langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika melihat langkah kaki Alena yang kian mendekat ke arahnya.
"Ada apa kau mencari ku? Apa kau ingin curhat tentang Errando kembali? Aku sedang tidak ingin mendengarnya Ra... sebaiknya kau pulang saja dan cari pendengar yang lainnya." ucap Steven sambil menggerakkan tangannya seakan mengisyaratkan untuk Laura pergi dari hadapannya.
Mendengar hal tersebut Laura lantas cemberut kemudian mengambil duduk di sebelah Steven.
"Bantu aku Steve..." ucap Laura yang lantas membuat Steven langsung menatap ke arahnya.
__ADS_1
Bersambung