
"Tidak mungkinkan jika selama ini yang mengurus segalanya adalah Alena?" ucap Errando dalam hati bertanya-tanya.
Brak...
Suara gebrakan meja yang terdengar begitu jelas, lantas membuat semua orang yang sedang berdebat dalam rapat tersebut langsung menghentikan perdebatan mereka. Semua orang yang mendengar suara gebrakan tersebut tentu saja dengan spontan menatap ke arah sumber suara dengan tatapan yang bertanya-tanya akan reaksi yang di berikan oleh Errando barusan.
Rama yang juga terkejut akan suara gebrakan tersebut mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Errando dan menepuk bahunya, membuat Errando langsung tersadar dari lamunannya dan mulai menatap ke arah sekeliling.
"Maaf tuan, apa anda mempunyai suatu hal yang ingin di sampaikan?" tanya Rama dengan hati-hati.
Errando yang mendengar pertanyaan tersebut tentu saja bingung sekaligus terkejut akan pertanyaan dari Rama dan juga tatapan dari beberapa orang yang mengikuti rapat tersebut. Errando yang tahu ia telah bereaksi berlebihan lantas langsung bangkit dari posisinya sambil membenarkan jas yang ia kenakan.
"Sebaiknya kita akhiri rapat kali ini, kalian berdua taruh laporan itu di meja ku! Biar aku yang akan menentukan siapa yang benar ataupun salah diantara kalian berdua." ucap Errando dengan nada yang tegas.
Setelah mengatakan hal tersebut Errando kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan rapat tersebut. Sedangkan beberapa orang yang menyaksikan kepergian Errando dari ruangannya hanya bisa saling pandang satu sama lainnya karena mereka juga tidak tahu akan apa yang sebenarnya terjadi pada Errando tadi.
"Rapat kali ini sampai di sini saja untuk Michel dan juga Sisi, jangan lupa untuk menyerahkan laporan tersebut di meja ku hari ini juga!" ucap Rama mengulang kembali perintah dari Errando kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut untuk menyusul langkah kaki Errando yang lebih dulu berlalu pergi dari sana.
**
Ruangan Errando
__ADS_1
Di dalam ruangannya terlihat Errando tengah melangkahkan kakinya mondar-mandir sedari tadi sambil terus memikirkan sesuatu tentang perubahan sikap yang terjadi pada Alena. Bukankah Errando menginginkan Alena mengalami penderitaan sama seperti kakaknya dulu? Tapi mengapa ketika ada yang berubah dari sikap Alena, Errando malah terlihat begitu gelisah seakan Errando sama sekali tidak menginginkan hal tersebut terjadi kepadanya.
Errando terus saja melangkahkan kakinya mondar-mandir selama beberapa menit. Hingga ketika sebuah langkah kaki yang berasal dari Rama lantas menghentikan langkah kakinya yang sedari tadi sudah mirip dengan setrikaan itu. Sedangkan Rama yang baru saja masuk ke dalam ruangannya terlihat menghentikan langkah kakinya ketika melihat Errando seperti tengah gelisah saat ini.
"Ini adalah laporan yang diberikan oleh Sisi dan juga Michel tuan, apakah anda ingin saya langsung memeriksanya?" ucap Rama menawarkan bantuan kepada Errando.
Errando yang mendengar perkataan Rama hanya meliriknya sekilas ke arah Rama kemudian menghela nafasnya dengan panjang.
"Menurut mu.. apa yang membuat sikap seorang wanita berubah kepada pasangannya?" tanya Errando yang malah membahas topik lain daripada menjawab tawaran dari Rama barusan.
Rama yang mendengar pertanyaan tersebut tentu saja bingung harus menanggapinya seperti apa, masalahnya Rama sendiri sampai saat ini masih singgel, bagaimana mungkin Errando malah meminta saran kepadanya alih-alih kepada orang yang lebih berpengalaman. Errando yang tidak kunjung mendapat jawaban lantas langsung menatap tajam ke arah Rama, membuat Rama menjadi salah tingkah akan tatapan dari Errando barusan.
"Jika kau tidak bisa menjawabnya ya sudah, lebih baik urus saja masalah dokumen tersebut kepala ku saat ini sedang sakit!" ucap Errando kemudian.
"Tidak akan ada dokter yang bisa mengobati sakit kepalaku, jadi sebaiknya kau pergi dan selesaikan laporan itu sekarang!" ucap Errando dengan nada setengah berteriak karena kesal mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari mulut Rama.
Sedangkan Rama yang mendengar suara Errando meninggi lantas dengan spontan berbalik badan dan meninggalkan ruangan Errando dengan langkah kaki seribu, sebelum Errando kembali mengamuk ketika tidak kunjung melihatnya pergi juga dari ruangannya.
"Benar-benar menyebalkan!" ucap Errando dengan nada yang kesal setelah kepergian Rama dari ruangannya.
***
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Errando
Sore harinya Alena yang baru saja bangun tidur lantas terkejut karena ia tidur hingga pukul 6 sore. Dengan gerakan yang terburu-buru Alena pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Namun ketika Alena menatap ke arah cermin wastafel, Alena baru ingat jika ia memutuskan untuk tidak lagi perduli apapun tentang Errando. Alena menghela nafasnya dengan panjang sambil mengatur nafasnya yang memburu karena ia tadi baru mengingat jika ia belum menyiapkan makan malam untuk Errando.
"Untuk apa aku menyiapkan makan malam, jika harus menggunakan nama Bik Surti agar Errando mau menyentuhnya. Aku tidak akan menyakiti hatiku lagi, sudah cukup kebodohan ku selama ini. Lagi pula Errando juga belum menyentuh ku sama sekali, jadi aku masih perawan dan tentunya masih bisa mendapatkan pria yang lebih dari dirinya." ucap Alena pada diri sendiri sambil berkacak pinggang menatap ke arah cermin tersebut.
Setelah mencuci mukanya Alena kemudian melangkahkan kakinya dengan perlahan keluar dari kamar mandi. Diambilnya ponsel miliknya yang terletak di atas nakas tepat disebelah ranjangnya. Alena mendial nomor Riki di sana dan langsung mendekatkan ponselnya tepat ke arah telinganya.
"Halo" jawab sebuah suara dari seberang sana.
"Bisa aku minta tolong padamu?" tanya Alena ketika mendengar sebuah suara di seberang sana.
Riki yang mendengar pertanyaan aneh dari Alena tentu saja terkejut. Masalahnya ia memang ditugaskan untuk menjaga dan juga memenuhi segala kebutuhan Alena, namun mengapa Alena malah menanyakan sesuatu hal yang Alena sendiri tahu jawabannya.
"Bukankah itu memang tugas saya nona?" ucap Riki kemudian.
Mendengar jawaban dari Riki barusan membuat Alena terdiam sejenak seakan mencoba untuk berpikir, apakah jalan yang ia ambil sudah benar atau tidak. Hatinya kini bahkan terlihat masih ragu untuk melakukannya, namun ketika mengingat setiap kata dan juga perlakuan yang di dapatkan olehnya, membuat Alena kembali membulatkan tekadnya dan meneruskan langkah kakinya tanpa perlu kembali melihat ke belakang atau Alena akan kembali merasakan yang namanya sakit hati ketika mendapat perlakuan dari Errando setiap harinya.
"Siapkan surat cerai untuk ku, tapi sebelum itu selidiki apa yang terjadi antara Errando dan juga kak Alex selama ini." ucap Alena pada akhirnya.
"Apakah anda yakin nona? Bukankah pernikahan anda masih berjalan beberapa bulan saja?" tanya Riki lagi seakan memastikan kembali permintaan dari Alena karena ia takut jika Alena nantinya akan menyesal atas permintaannya sendiri.
__ADS_1
"Lakukan saja!" ucap Alena dengan nada yang penuh keyakinan.
Bersambung