Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Demi kebaikan mu


__ADS_3

Kediaman Hermawan


Dari arah luar terlihat Alena mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya dengan raut wajah yang murung. Perkataan Errando tadi di mobil benar-benar terus berputar di kepalanya, membuat Alena sama sekali tak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Alena benar-benar berada diantara dua pilihan yang sulit dan sama sekali tidak bisa ia pilih.


Alena mendudukkan pantatnya di ranjang empuk favoritnya, membuat Riki yang memang sedari tadi ada di sofa lantas menatap dengan raut wajah yang penasaran akan apa yang terjadi dengan Alena saat ini.


"Apa kamu baik-baik saja Al?" tanya Riki kemudian.


Alena yang sama sekali tak menyadari akan kehadiran Riki di sana, mendengar sebuah suara yang bertanya tentang keadaannya tentu saja langsung membuat Alena terkejut dengan seketika hingga membuatnya langsung bangkit dari posisinya yang semula.


"Sejak kapan kamu berada di sana?" tanya Alena kemudian sambil mengusap dadanya dengan perlahan karena terkejut.


"Sebelum kamu masuk pun aku sudah ada di sini? Apa ada masalah?" ucap Riki kemudian dengan tatapan yang bertanya-tanya.


Alena terdiam tak menanggapi pertanyaan yang kembali terlontar dari mulut Riki barusan, membuat Riki yang semakin yakin telah terjadi sesuatu kepada Alena lantas langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alena berada saat ini. Ditatapnya Alena dengan tatapan yang menelisik cukup lama membuat helaan napas lantas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Alena saat itu ketika mengetahui bahwa Riki tengah menunggu jawaban darinya saat ini.


"Ada beberapa masalah yang aku rasa, aku tidak bisa menanganinya seorang diri saat ini." ucap Alena dengan nada yang sendu membuat Riki lantas semakin bertanya-tanya akan apa yang tengah terjadi kepada Alena saat ini.


"Apa yang terjadi Al?" tanya Riki kemudian.


"Keluarga Errando mengajukan tuntutan tentang hak asuh anak dan itu sudah naik ke pengadilan. Aku tidak tahu harus berbuat apa disaat-saat seperti ini, aku..." ucap Alena namun tercekat seakan tidak sanggup untuk meneruskan ucapannya barusan.


Riki yang melihat Alena cukup terguncang akan kejadian ini lantas mendudukkan pantatnya di ranjang, kemudian menepuk pelan pundak Alena seakan mencoba untuk memberi Alena ketenangan sekaligus sebuah dukungan kepada Alena.


"Jangan terlalu dipikirkan Al, kamu bukanlah sosok Ibu yang menelantarkan anaknya. Kamu bahkan mendidik dan merawat Aksa dengan segenap jiwa ragamu, aku yakin pengadilan akan tetap memberikan hak asuh Aksa kepadamu. Lagi pula umur Aksa masih di bawah tujuh tahun dan otomatis akan menjadi hak Ibu untuk mengasuhnya. Jangan khawatir Al kamu pasti menang..." ucap Riki kemudian dengan nada penuh keyakinan.

__ADS_1


Mendengar perkataan Riki barusan tentu saja membuat perasaan Alena sedikit melega, hanya saja jika ia kembali teringat tentang bagaimana keluarga besar Valentino, membuat Alena langsung kembali memasang wajah yang masam.


"Kamu sungguh tidak tahu keluarga Valentino, mereka pasti akan menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan mereka, bukanlah kamu sudah pernah melihatnya ketika perceraian ku dengan Errando dahulu?" ucap Alena kemudian yang langsung membuat Riki terdiam seketika.


"Tapi aku yakin pasti akan ada jalannya Al..." ucap Riki dengan nada yang yakin karena ia tahu tidak ada sesuatu yang mustahil selagi kuta mau berusaha.


Alena kembali terdiam, apa yang dikatakan oleh Riki barusan tentu saja Alena mengetahuinya dan hal itu juga telah disampaikan oleh Errando sebelumnya. Hanya saja tidak semudah itu jika Alena memilih jalan lain untuk menyelesaikannya.


"Memang ada jalannya tapi aku tidak yakin akan menempuh jalan itu." ucap Alena dengan nada yang terdengar ragu-ragu.


"Jika memang ada, apalagi yang kamu tunggu? Lakukan saja dan jangan pikirkan apapun, bukankah kamu tidak ingin kehilangan Aksa?" ucap Riki dengan semangat 45 begitu mengetahui ada cara yang lain.


"Benarkah?" tanya Alena sekali lagi seakan tidak percaya begitu saja ketika mendengar perkataan dari Riki barusan.


Entah mengapa Alena yang melihat raut wajah bahagia Riki disaat mendengar adanya sebuah cara yang dapat Alena gunakan, membuat Alena merasa bersalah karena telah membohongi Riki dan tidak mengatakan yang sebenarnya tentang cara yang ia katakan barusan.


"Maafkan aku Rik.. Maafkan aku..." ucap Alena dalam hati sambil menatap ke arah Riki dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


***


Sementara itu setelah Errando mengantarkan Alena pulang ke kediamannya, Errando langsung melajukan mobilnya kembali menuju ke salah satu anak perusahaan yang masih dalam lingkup FN Company. Ada sebuah perasaan yang membuat Errando begitu penasaran akan tingkah Ayahnya yang mendadak mengajukan sebuah tuntutan hak asuh anak di pengadilan.


Sebenarnya Errando awalnya tidak tahu bahwa ini adalah perbuatan Arga, namun setelah mendapatkan informasi dari Rama yang mengatakan bahwa seseorang yang telah menaikan kasus ini adalah Arga, membuat Errando langsung memutar stir mobilnya dan memutuskan untuk pergi ke kantor cabang.


**

__ADS_1


Area parkiran


Terlihat Errando baru saja turun dari mobilnya dan mulai melangkahkan kakinya memasuki lobi perusahaan bergegas menuju ke arah ruangan Ayahnya.


"Selamat sore Pak.." ucap salah satu karyawan yang tak sengaja berpapasan dengannya saat itu.


Errando yang memang sedang terburu-buru hanya menanggapi sapaan beberapa karyawan di sana dengan anggukan kepala sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Ayahnya yang terletak di lantas 3.


Ting


Suara pintu lift yang terbuka membuat Errando langsung melangkahkan kakinya keluar dari sana dan menyusuri area lorong dengan langkah kaki yang bergegas. Ketika langkah kaki Errando sudah sampai tepat di ruangan Ayahnya, Errando kemudian langsung membuka pintu ruangan tersebut begitu saja tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Bruk...


Suara pintu yang terbuka dengan kerasa tentu saja mengejutkan Arga dan langsung membuatnya mengelus dadanya selama beberapa kali karena terkejut akan suara dari pintu barusan yang dibuka secara paksa oleh Errando.


"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu? Dimana sopan santun mu sebagai pemimpin perusahaan?" ucap Arga yang tak suka akan cara Errando yang terkesan tidak sopan.


"Katakan padaku, apa motivasi Papa mengajukan tuntutan hak asuh anak ke pengadilan? Bukankah ini sangat mendadak Pa? Errando bahkan baru mengetahui segalanya hari ini!" ucap Errando sambil menatap tajam ke arah Arga.


Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja membuat Arga terkejut, Arga bahkan bertanya-tanya akan alasan mengapa Errando nampak begitu marah dengan sesuatu yang di lakukan untuknya padahal itu demi kebaikan Errando juga.


"Mengapa kamu sangat marah? Papa juga melakukan ini semua untuk mu!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2