
"Apa yang terjadi sebenarnya antara kamu dan juga Laura? Apa itu karena aku?" tanya Errando kemudian yang lantas membuat Alena terdiam seketika di saat mendengar pertanyaan tersebut.
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Alena langsung terdiam seketika. Bayangan tentang masa lalu perlahan-lahan mulai menyeruak memenuhi kepalanya. Apa yang terjadi antara dirinya dan juga Laura hanyalah sebuah kenangan buruk yang sama sekali tidak ingin Alena kenang sedikit pun.
Bukan perkara mudah untuk melupakan kejadian beberapa tahun lalu, mengingat setelah Laura mengetahui bahwa Errando menyimpan perasaan terhadapnya, itulah yang menjadi awal segala kenangan buruk di masa lalu terjadi kepada Alena. Sikap Laura kepadanya berubah 360 derajat dari biasanya, tidak lagi ada sapaan ceria dan juga hangat dari Laura seperti saat-saat sebelumnya.
Beberapa temannya lantas terpecah menjadi dua bagian di mana mereka semua lebih memilih dan memihak Laura yang alhasil hanya Cindi yang berada di pihaknya. Hari-hari masa kuliah yang ia jalani berubah menjadi neraka, semua orang yang sudah termakan ucapan Laura berubah menatap ke arah Alena dengan raut wajah penuh kebencian, tak ayal mereka lebih memilih untuk menjauhi Alena ketimbang harus berurusan dengan perebut pacar orang sepertinya, ya sebutan itu tersemat jelas pada dirinya. Hingga puncaknya terjadi ketika Laura meminta papanya untuk memutus hubungan kerja sama yang sudah terjalin selama bertahun-tahun, kerugian yang ditanggung oleh kedua belah pihak tidaklah sedikit, namun Laura tetap meminta kedua orangtuanya untuk melakukan hal tersebut, yang membuat perasaan bersalah dalam diri Alena kian menjadi-jadi.
Alena yang kembali mengingat masa-masa itu lantas dengan spontan menggeleng secara cepat, membuat Errando menatap dengan bingung ke arahnya ketika mendengar tingkah laku Alena yang begitu aneh menurutnya.
"Aku... sudahlah lagi pula itu hanya sebuah masa lalu, kamu tidak terlalu mengenalnya juga bukan? Jadi lupakan saja." ucap Alena kemudian sambil bangkit dari kursinya hendak berlalu pergi dari sana.
Errando yang masih merasa ada yang tidak beres dari Alena, lantas menggenggam tangannya dengan spontan membuat langkah kaki Alena langsung terhenti seketika dan menatap ke arah Errando dengan tatapan yang bertanya akan sikap Errando saat ini.
"Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan selama ini?" tanya Errando kemudian, membuat Alena langsung menelan salivanya dengan kasar.
Alena kembali terdiam seakan bingung hendak mengatakannya atau tidak. Hingga ketika bayangan tentang bagaimana perlakuan Errando kepadanya, membuat sebuah pertanyaan mendadak kembali terlintas di benaknya saat ini.
"Lalu bagaimana dengan mu? Bukankah harusnya kamu juga mengatakan sesuatu hal tentang perubahan sikap mu yang tiba-tiba ini? Bagi lah masalah mu dengan ku Er, aku yakin jika kita melaluinya bersama itu akan terasa lebih mudah." ucap Alena pada akhirnya meski semula Alena agak ragu tapi ia tidak ingin menyianyiakan kesempatan disaat Errando begitu lembah saat ini.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba dari Alena membuat Errando melepas genggaman tangannya perlahan-lahan, yang lantas membuat Alena menghela nafasnya dengan panjang ketika melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Errando ketika mendengar pertanyaannya. Errando kemudian terlihat bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya meninggalkan area meja makan.
"Sebaiknya kamu tidur dan beristirahat ini sudah malam." ucap Errando sebelum kepergiannya, membuat Alena hanya bisa menatap punggung pria itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Mengapa sangat sulit sekali Er? Apa rahasia yang kamu simpan terlalu besar? Sehingga kamu sama sekali tidak mau membaginya bersama ku." ucap Alena pada diri sendiri setelah kepergian Errando dari sana.
***
Di sebuah ruangan yang gelap, Alena terlihat melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut dengan langkah kaki yang ragu. Sebuah pesan singkat yang berasal dari nomor milik Laura, membuat Alena langsung bergegas menuju ke ruangan ini begitu membaca isi dari pesan singkat tersebut yang menyuruh Alena untuk segera datang ke ruangan tersebut.
Alena melangkahkan kakinya masuk ke dalam sambil memanggil-manggil nama Laura berkali-kali namun Laura sama sekali tidak menyahutinya, membuat Alena merasa ia telah dikerjai saat ini. Hingga ketika Alena hendak berbalik badan dan keluar dari ruangan tersebut. Laura terlihat melangkahkan kakinya dengan beberapa teman-temannya dahulu yang kini lebih memilih bersama dengan Laura.
"Aku bisa jelaskan segalanya Ra... apa yang kamu lihat saat itu tidaklah seperti yang ada di pikiran mu, bukankah kita bersahabat? Aku yakin kamu percaya kepada ku bukan?" ucap Alena berusaha untuk menjelaskan segalanya.
"Oh ya Len? tapi sayangnya aku lebih percaya dengan kedua bola mataku!" ucap Laura menolak mentah-mentah ucapan Alena.
Alena terdiam mendengar kata-kata pedas dari Laura, Alena bahkan bingung harus menjelaskannya seperti apa lagi agar Laura percaya kepadanya.
"Ku mohon untuk kali ini saya percaya kepadaku Ra? Jika perlu aku akan memanggil Errando kesini agar bisa menjelaskannya secara langsung ke padamu." ucap Alena sambil menggenggam erat tangan Laura agar mendengarkannya.
__ADS_1
Laura yang mendengar opsi tersebut tentu saja langsung marah hingga kemudian mendorong tubuh Alena hingga jatuh dalam posisi terduduk di lantai sambil menatap dengan pandangan terkejut ke arah Laura.
"Dasar stupid, apa kau ingin menunjukkan betapa polosnya dirimu? Benar-benar menyebalkan!" ucap Laura dengan nada yang kesal tanpa membantu Alena untuk bangkit dari posisinya sama sekali.
Laura yang terlanjur kesal akan tingkah Alena yang sok polos itu, lantas mengkode teman-temannya untuk mulai melakukan sesuatu sesuai rencana awal mereka. Beberapa temannya lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alena sambil membawa satu box di tangan mereka, membuat Alena mulai mengambil langkah kaki mundur karena ia kalah jumlah.
"Apa yang akan kalian lakukan? Bukankah kita teman? Ada apa ini?" ucap Alena berusaha untuk menyadarkan yang lainnya.
"Teman? Itu dulu karena kami tidak berteman dengan seseorang yang mengambil milik orang lain, orang sepertimu itu lebih cocok di tempat sampah!" ucap salah seorang dari mereka sambil mendorong tubuh Alena hingga kembali jatuh dalam posisi terduduk.
"Nikmati pertemuan mu dengan teman-teman mu di sini!" ucapnya lagi sambil menaruh box tersebut di lantai dan membiarkannya terbuka.
Setelah itu mereka semua melangkahkan kaki mereka keluar dari ruangan tersebut dan mengunci pintu ruangan itu dengan rapat.
Cit cit cit...
"Tidak!" teriak Alena kemudian ketika melihat puluhan hewan pengerat keluar dari box tersebut.
Bersambung
__ADS_1