
Malam harinya setelah makan malam selesai
Errando yang tidak bisa pergi bekerja pagi tadi pada akhirnya mau tidak mau mengerjakan segalanya di rumah. Seharian penuh Errando berkutat dengan beberapa dokumen dan berkali kali melakukan panggilan virtual bersama dengan Rama membahas masalah pekerjaan dan juga persiapan tender minggu depan. Hingga tepat pada pukul 9 malam barulah Errando menyelesaikan garis besarnya, tinggal menyelesaikan beberapa langkah lagi Errando yakin ia siap maju melawan Alex dalam tender minggu depan.
"Satu persatu impian mu akan aku rebut secara perlahan, agar kamu merasakan bagaimana rasanya depresi dan juga rasa sakit hatinya kakak ku sebelum ajal menjemputnya." ucap Errando dalam hati sambil menatap tajam ke arah depan.
Errando yang sudah menyelesaikan segala pekerjaannya kali ini, kemudian mulai bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerjanya. Dengan langkah kaki yang perlahan lahan Errando mulai melangkahkan kakinya hendak naik ke kamar utama. Hanya saja ketika Errando hendak melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, sebuah suara tawa dua orang wanita lantas terdengar dari arah taman samping yang berhadapan langsung dengan kolam renang. Errando yang penasaran akan suara tawa tersebut kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah taman samping untuk melihat sekaligus mencari tahu suara tawa tersebut.
**
Taman samping
Ketika Errando sampai di sana, sebuah pemandangan yang tidak disangka-sangka lantas terlihat begitu menyejukkan hatinya. Alena dan juga Silvi terlihat begitu asyik bercengkrama sambil berbagai cerita menikmati waktu santai mereka di malam hari. Errando yang melihat interaksi keduanya, tanpa sadar mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya, membuat Silvi yang melihat kedatangan putranya itu langsung tersenyum dengan lebar dan menatap ke arah Errando dengan tatapan yang menggoda.
"Ada yang nyamperin tuh... dasar pengantin baru!" ucap Silvi dengan nada yang menyindir membuat Alena dengan spontan langsung menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa yang datang.
Alena yang melihat Errando datang mendekat ke arahnya lantas terdiam seketika, ada perasaan aneh yang menyapa hatinya begitu mendengar ucapan mertuanya itu. Sedangkan Errando yang mendengar suara Silvi barusan terlihat mengulum senyum dan semakin melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya dengan langkah kaki yang santai.
__ADS_1
"Lagian Mama, sudah tahu kami ini pengantin baru malah merecoki seperti ini." ucap Errando sambil mencebikkan mulutnya, membuat Silvi langsung tersenyum dengan simpul.
Sedangkan Alena yang mendengar ucapan dari Errando yang aneh tidak bisa lagi berkata kata, bukan karena perkataan Errando yang manis namun lebih kepada Errando yang pandai sekali berakting, seakan akan Errando merupakan seorang playing victim yang handal. Tidak ada kata kata apapun yang terucap dari mulut Alena selain hanya senyuman yang dipaksakan.
Errando yang melihat ekspresi senyuman Alena yang terlihat jelas menipu, membuat Errando dengan spontan langsung menarik tangan Alena agar bangkit dari duduknya dan mengikutinya.
"Aku dan Alena ke kamar dulu ya Ma..." ucap Errando dengan senyum yang mengembang dengan sepenuhnya.
"Iya ya ya... pergilah dan buat cucu yang banyak untuk Mama... beri Mama hasil yang positif segera ya?" ucap Silvi sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Mama tenang saja, cepat atau lambat Mama akan menerima kabar baik itu." ucap Errando sambil melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana.
"Cobalah untuk berakting lebih natural lagi! Apa kau ingin menunjukkan kepada Mama bahwa kita sedang tidak dalam hubungan yang baik?" ucap Errando dengan nada yang berbisik.
Alena yang mendengar ucapan Errando barusan perlahan lahan mulai menghentikan gerakan tangannya yang mendorong Errando. Melihat hal tersebut, Errando kemudian membukakan pintu untuk Alena dan mempersilahkan Alena untuk masuk ke dalam dengan senyum yang mengembang.
Bruk
__ADS_1
Suara pintu kamar yang ditutup dengan keras lantas mengakhiri sandiwara keduanya. Baik Alena maupun Errando lantas saling menatap ke arah satu sama lain dengan tatapan yang tiba bisa diartikan.
Alena yang melihat tatapan mata Errando, lantas memutusnya dan menoleh ke arah samping sambil menghela nafasnya dengan panjang.
"Jika kamu ingin berakting setidaknya berikan aku instruksi dan jangan seenaknya seperti itu, kamu pikir aku apa? Sebuah komputer yang bisa menginput isi hatimu? Jangan pernah berharap!" ucap Alena dnegan nada yang kesal.
"Untuk apa aku memberikan kode? Bukankah perubahan sikap ku saja sudah menunjukkan segalanya? jadi kau... jangan lagi berpura pura bodoh dan menunjukkan wajah masam mu itu kepada yang lainnya. ucap Errando sambil menunjuk tepat ke arah wajah Alena.
Alena yang di tunjuk seperti itu tentu saja langsung menyingkirkan jari tangan Errando dari wajahnya dan balas menatap Errando dengan tatapan yang tajam.
"Aku ini istri mu bukan musuh mu, belajarlah untuk mengatakan sesuatu lebih lembut lagi dari pada saat ini, kau ingin mengajak ku berakting tapi kau sendiri pun tidak pernah bisa merubah cara bicara mu itu, apakah kau pikir itu akan berhasil? Tentu saja tidak!" ucap Alena pada akhirnya yang mulai tidak kuat akan perkataan dingin yang terus terusan keluar dari mulut Errando setiap saatnya.
Errando terdiam seketika di saat mendengar kata kata tajam yang baru pertama kalinya keluar dari mulut Alena baru saja. Sesuatu yang tidak pernah Errando duga sebelumnya akan keluar dari mulut Alena. Ditatapnya manik mata Alena yang terlihat begitu tajam dan penuh kilatan amarah, hingga pada detik berikutnya dengan langkah yang perlahan Errando mulai melangkahkan kakinya melewati Alena dan mengambil posisi terlentang di atas kasur, membuat Alena yang melihat hal tersebut langsung terkejut bukan main akan tingkah Errando.
"Apa yang kau lakukan di sana? Bukankah katamu kemarin kau ingin tidur di sofa? Lalu apa ini? Apakah tuan angkuh sudah berubah pikiran saat ini?" ucap Alena dengan nada yang menyindir.
"Apa kau ingin Mama tahu bahwa kita pisah ranjang? Jika memang kamu menginginkannya, maka aku tidak akan sungkan lagi kepada mu..." ucap Errando sambil bangkit dari posisi tidurnya hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa namun detik berikutnya sebuah pegangan tangan dari seseorang lantas langsung menghentikan langkah kakinya yang baru saja bangkit dari posisinya.
__ADS_1
"Baiklah terserah padamu!" ucap Alena pada akhirnya.
Bersambung