Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Kau menipuku?


__ADS_3

Ruang VVIP


Setelah ucapan Laura yang tiba-tiba datang dan meminta tolong kepada Steven, pada akhirnya membuat Steven mau tidak mau malah mendengarkan permintaan tolong Laura, padahal jelas-jelas ia ingin terbebas dari Laura tadi, namun ketika Laura benar-benar datang lagi dan lagi Steven kembali luluh dan tak berdaya ketika mendengar permintaan tolong Laura.


Kini di ruang VVIP terlihat Laura dan juga Steven tengah saling menatap dengan raut wajah yang serius. Melihat raut wajah Laura yang seperti itu saja membuatnya yakin bahwa apa yang akan diminta oleh Laura saat ini pastilah berhubungan dengan Errando.


"Apa ini tentang Errando? Jika memang ia... aku tidak mau mendengarnya!" ucap Steven dengan nada yang dingin.


Sedangkan Laura yang mendengar tebakan Steven barusan benar, lantas langsung memutar bola matanya dengan jengah karena Steven selalu saja bisa menebak pikiran Laura bagaimanapun kondisi dan situasinya. Laura yang tahu Steven pasti akan menolak permintaannya dengan memasang wajah yang memelas Laura mulai mengambil duduk dengan posisi yang mendekat ke arah Steven, membuat Steven semakin yakin bahwa tebakannya kali ini kembali benar jika melihat tingkah Laura yang seperti ini.


"Setidaknya dengarkan dulu permintaan ku, jika kau sudah mendengarnya aku pastikan nanti kau akan setuju." ucap Laura sambil bergelayut manja pada lengan Steven.


"Apa?" jawab Steven kemudian dengan yang singkat.


Mendengar ucapan pasrah dari Steven barusan membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajah cantik Laura. Dengan senyum yang masih mengembang, Laura kemudian mulai menceritakan segala rencananya satu persatu kepada Steven. Steven yang mendengarkan rencana gila dari Laura, lantas langsung mengernyit dan menatap bingung ke arah Laura yang saat ini malah memasang senyuman seperti orang gila menatap ke arah Steven.


Steven yang menganggap Laura sudah gila lantas menggeser pantatnya sedikit menjauh dari Laura, membuat Laura langsung menatap penuh dengan tanda tanya akan Steven yang tiba-tiba menggeser duduknya sedikit menjauh dari dirinya.

__ADS_1


"Jangan gila deh Ra, kau pikir aku pria apaan? Selama ini aku bahkan hanya mencintai satu orang, bagaimana mungkin jika tiba-tiba kau menyuruh ku untuk mendekati Alena dan membuatnya jatuh cinta padaku, kau itu gila atau apa?" pekik Steven dengan nada yang kesal namun berhasil membuat Laura memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar penolakan dari Steven barusan.


"Apa salahnya jika mencoba? Bukankah aku menyuruh mu untuk pura-pura, hanya sebentar saja Steve sampai kau berhasil membuat Errando dan juga Alena berpisah, setelah itu kau bebas!" ucap Laura dengan nada yang genit.


Steven yang semakin mendengar ucapan tak masuk akal dari mulut Laura lantas bangkit dari posisinya dan mengambil posisi memunggungi Laura, membuat Laura langsung mencebikkan mulutnya begitu melihat tingkah Steven yang seperti itu.


"Aku tetap tidak setuju!" ucap Steven tidak ingin di bantah sama sekali.


Laura yang tidak ingin rencananya berakhir dengan kegagalan bahkan sebelum memulainya, lantas mulai bangkit dari posisinya. Dipeluknya tubuh Steven dari arah belakang membuat Steven terkejut seketika akan tingkah laku Laura yang seperti itu. Laura yang merasa Steven sudah mulai sedikit luluh, kemudian mulai melancarkan aksinya semakin gencar. Dengan perlahan Laura mulai membalikkan tubuh Steven hingga berhadapan dengannya. Jari tangannya yang lentik secara pelan mulai naik dan bermain pada dada bidang milik Steven dan berakhir di area leher Steven, yang tentu saja membuat Steven langsung memejamkan matanya begitu jari tangan Laura menyentuh tepat di area sensitif milik Steven.


"Aku janji itu tidak akan lama, setelah kamu berhasil mendapatkan hati Alena dan membuatnya hancur... aku berjanji akan menyerahkan segalanya kepadamu termasuk hatiku, bukankah imbalan dalam permintaan ku sangatlah setimpal?" ucap Laura dengan nada yang menggoda membuat Steven langsung terhanyut dalam permainan tangan Laura padanya.


"Kau pikir aku bodoh ya? Jika aku berhasil membelokkan hati Alena kepadaku maka kau pasti akan mendekati Errando, lagi pula Alena adalah istri dari sahabatku.. aku tidak akan bisa melakukan itu Ra!" ucap Steven sambil menatap kesal ke arah Laura.


Laura yang kembali mendengar penolakan dari mulut Steven lantas mulai menggigit bibir bagian bawahnya dengan pelan sambil memutar otak dan mencari cara agar Steven mau mengikuti rencananya. Hingga beberapa detik kemudian sebuah ide yang mendadak terlintas di benaknya lantas membuat Laura tersenyum seketika. Dengan gerakan yang cepat dan tanpa aba-aba Laura kemudian menarik tengkuk Steven dan mendekatkannya ke arah bawah, baru setelah itu Laura me**m*t bibir Steven dengan ganas, membuat Steven langsung melotot seketika di saat menerima ciuman dengan tiba-tiba tanpa pemberitahuan itu.


***

__ADS_1


Sementara itu di sebuah perusahaan


Terlihat beberapa pengusaha kelas besar tengah berkumpul di suatu aula besar untuk memenangkan tender tentang pembangunan sebuah hotel berbintang yang terletak di daerah pusat kota.


Beberapa pengusaha bahkan terlihat membawa rancangannya masing-masing dengan langkah kaki yang panjang dan mengambil duduk pada meja yang telah di sediakan. Tender ini memang di buka untuk umum, perusahaan mereka sama sekali tidak membatasi cakupan untuk perusahaan yang bersedia menangani pembangunan hotel mereka. Sehingga dari mulai pengusaha kecil hingga besar mereka semua berlomba-lomba untuk memenangkannya, mengingat tender kali ini adalah sebuah tender besar sehingga jika mereka dapat memenangkan tender saat ini, satu persatu nama dan juga ketenaran pasti akan mulai berdatangan dan menghampiri perusahaan mereka.


Alex yang sedari tadi duduk pada salah satu meja yang telah disediakan oleh panitia, lantas mulai mengedarkan pandangannya seketika ke arah sekeliling seakan seperti tengah mencari seseorang di sana. Alex yang tidak menemukan orang yang ia cari di aula tersebut kemudian tersenyum dengan sinis, membuat Fatur yang duduk di sebelahnya sedari tadi lantas langsung menatap Alex dengan tatapan yang bingung.


"Apa ada sesuatu tuan?" tanya Fatur kemudian dengan nada yang ragu-ragu takut Alex tersinggung akan pertanyaannya.


"Aku hanya penasaran dengan batang hidung adik ipar ku, apakah ia akan benar-benar muncul atau tidak kali ini." ucap Alex dengan senyum yang meremehkan menatap lurus ke arah depan.


Sedangkan Fatur yang mendengar ucapan dari Alex barusan, lantas hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap ke arah Alex dengan tatapan yang bertanya-tanya. Hingga tak berapa lama suara pintu aula yang terbuka dengan lebar, membuat seluruh orang yang ada di sana lantas menatap ke arah pintu utama.


Tak tak tak


"Maaf aku terlambat" ucap sebuah suara yang lantas membuat raut wajah Alex merah padam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2