Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Apa semua perempuan seperti itu?


__ADS_3

Pagi harinya


Sinar mentari yang terlihat masuk melalui kaca pintu balkon terlihat begitu menyilaukan mata siapapun yang tengah berada di sana. Alena yang sedari semalam memang tidak tidur sedikitpun, lantas terlihat menatap ke arah cahaya terik yang menerpa wajahnya pagi itu.


Alena bangkit secara perlahan dari tempat duduknya, kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah standing mirror yang terletak tidak jauh dari tempatnya berada.


Alena berdecak dengan kesal ketika melihat riasan wajah yang sudah luntur dan menghitam di mana mana kerena Alena yang terus terusan menangis hingga menjelang pagi, beruntung Alena tidak memiliki kantong mata yang besar, hingga meskipun ia menangis semalaman pun matanya tidak akan sembap seperti orang kebanyakan, mungkin hanya matanya saja yang memerah dan berair seperti orang yang sakit mata, selebihnya tidak terlalu mempengaruhi apapun.


"Apa apaan ini? mengapa aku malah terlihat seperti joker?" ucap Alena sambil mengusap lipstiknya yang terlihat belepotan dengan tangannya.


Helaan nafas kemudian lantas terdengar berhembus dari mulut Alena dengan kasar, ada perasaan sakit sekaligus kecewa dalam hati Alena ketika mengingat kejadian semalam. Di tatapnya tubuhnya yang kini terlihat tengah berdiri di standing mirror dengan tatapan yang menelisik.


"Tubuh ku bahkan lebih indah dari wanita itu yang hanya mengandalkan hellsnya saja yang panjang, jika tidak memakai hells aku yakin ia tidak akan terlalu tinggi menjulang." ucap Alena sambil terus mematut dirinya di cermin.


Setelah puas menggerutu, detik berikutnya Alena nampak terdiam ketika bayangan tentang bagaimana Errando memperlakukan wanita itu kembali berputar di kepalanya seakan telah membekas erat di dalam isi kepala Alena. Alena kembali menatap dirinya di cermin sambil mengusap air matanya yang terjatuh ketika ia mengingat kembali kejadian semalam.


"Aku tidak akan menyerah begitu saja, aku yakin tidak akan ada asap jika tidak ada api. Jika Errando ingin bermain dan menjadi pemeran utama, maka aku pun akan ikut bermain dan mengambil peran dalam kisah yang Errando tulis." ucap Alena dengan nada yang yakin.


**


Dapur

__ADS_1


"Selamat pagi by.. hari ini aku memasakkan pasta kesukaan mu, kamu mau makan dulu apa mandi dulu hem?" tanya Alena dengan senyum yang mengembang ke arah Errando.


Mendengar hal tersebut Errando langsung terdiam di tempatnya, ini sama sekali bukan yang Errando harapkan. Bukankah seharusnya Alena bersikap sebaliknya kepada dirinya? mengapa pagi ini Alena masih bersikap begitu manis? apakah gadis itu sama sekali tidak terluka akan perlakuan Errando kemarin?


"Apa yang terjadi?" ucap Errando dalam hati.


Alena yang melihat Errando hanya terdiam di tempatnya, lantas langsung tersenyum kemudian melangkahkan kakinya mendekati Errando, di rangkulnya dengan erat lengan Errando kemudian di tarik menuju ke arah meja makan masih dengan senyum yang mengembang, membuat Errando semakin kebingungan akan sikap yang di tunjukkan oleh Alena saat ini.


"Baiklah kalau kamu ingin makan dulu, sebaiknya kamu duduk dengan tenang di sini biar aku yang menyiapkan segalanya." ucap Alena sambil menuntun Errando untuk duduk di kursinya dengan tenang.


Errando yang mendengar ucapan dari Alena hanya diam sambil terus memperhatikan gerak gerik gadis yang kini sudah berganti status dan resmi menjadi istrinya itu. Alena yang terus di pandangi oleh Errando sama sekali tidak salting dan tetap meneruskan pekerjaannya melayani suaminya itu.


Setelah mengambil beberapa makanan di piring untuk Errando, Alena kemudian meletakkannya di depan Errando dan juga memberinya segelas jus alpukat tanpa gula.


Alena kemudian melangkahkan kakinya naik ke atas setelah berpamitan dengan Errando, namun baru beberapa langkah Alena terlihat menghentikan gerakan kakinya dan menoleh kembali ke arah Errando.


"Oh ya By.. jangan meminta kopi kepada Bibi, aku tahu kamu menyukainya tapi aku harap kamu bisa menguranginya sedikit demi sedikit..." ucap Alena kembali memberikan pesan kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju ke atas.


Errando yang mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Alena, hanya bisa diam tanpa menanggapi ataupun menyangga ucapan Alena. Helaan nafas lantas terdengar berhembus dari mulut Errando, di saat ia menatap sepiring pasta lengkap dengan jus alpukat di sebelahnya. Di ambilnya perlahan garpu yang terletak di sebelah piring kemudian hendak mulai memakan pasta tersebut, namun ketika garpu itu akan menyentuh pasta di piring, gerakannya lantas terhenti kemudian detik berikutnya dengan gerakan yang sembarang Errando meletakkan sendok dan garpunya begitu saja, hingga menimbulkan bunyi yang nyaring di meja makan.


"Ini benar benar salah!" ucap Errando pada diri sendiri kemudian bangkit dari posisinya meninggalkan area meja makan.

__ADS_1


**


Sementara itu Alena yang baru masuk ke dalam kamar, lantas langsung menutup pintu kamarnya dengan cepat kemudian bersandar di pintu sambil mengambil nafas dengan cepat.


Jantung Alena benar benar berdebar dengan kencang ketika ia harus bersandiwara seperti tidak terjadi apa apa di meja makan. Alena bukannya bodoh atau apa, hanya saja Alena ingin terlebih dahulu mencari tahu apa penyebab sikap Errando berubah sepenuhnya. Bohong rasanya jika Alena mengatakan ia tidak sakit hati ketika melihat tingkah Errando yang keterlaluan dengan membawa wanita lain di malam pertama pernikahan keduanya. Hanya saja dengan mengumpulkan tekadnya sendiri, sebelum Alena mengetahui alasan apa yang membuat Errando berubah, Alena tidak akan pergi dari sisi Errando.


"Kuatkan dirimu Len... perjuangan kita masih panjang.. mari bertahan hingga akhir bersama..." ucap Alena pada diri sendiri sambil terus memberikan kata kata penenang untuk dirinya sendiri.


**


Di sebuah tempat hiburan ternama di ibu kota, terlihat Errando tengah melangkahkan kakinya memasuki area tempat hiburan tersebut dengan langkah kaki yang kesal. Errando yang melihat Steven tengah berdiri di meja bar sambil melayani para tamunya, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Steven berada dan mengambil duduk di depan meja minibar.


"Berikan aku satu minuman yang kuat" ucap Errando sambil mengambil duduk tepat di depan mini bar.


Sedangkan Steven yang mendengar suara tak asing di pendengarannya lantas dengan spontan menoleh ke arah sumber suara, ada sedikit perasaan bingung ketika Steven menoleh dan melihat Errando pagi pagi sudah main di club miliknya, padahal jelas jelas semalam adalah malam pertamanya bersama dengan Alena.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Steven kemudian sambil menyodorkan segelas kecil minuman beralkohol kepada Errando.


"Iya tentu saja ada masalah, apakah semua wanita selalu saja bersikap seperti dirinya? jika mendapatkan perlakuan seperti semalam?" ucap Errando sambil meneguk minumannya dengan sekali tegukan.


"Apa maksud ucapan mu?" tanya Steven dengan raut wajah yang bingung.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2