
Suasana di dalam mobil yang dilajukan oleh Riki lantas terasa begitu hening dan sunyi. Setelah memarkirkan mobilnya tepat di halaman kediaman Hermawan, Riki terdiam di tempatnya sejenak pikirannya benar-benar kacau membayangkan segala hal yang tadi ia dengar tanpa sengaja di telinganya sendiri.
Riki benar-benar tidak menyangka bahwa segalanya benar-benar terjadi karena campur tangan dari seorang Errando, nyatanya segala hal dan segala kerja keras yang ia lakukan selama berhari-hari tidak terbayarkan dengan maksimal. Riki memukul setir mobilnya beberapa kali saking kesalnya karena apa yang ia harapkan tidak sesuai dengan kehendaknya. Ditariknya dasi yang melingkar di lehernya dengan kasar ke arah kanan dan kiri, hingga membuatnya longgar dan tidak lagi terlihat rapi yang semakin membuatnya terasa begitu menyedihkan.
"Ah benar-benar sial! Mengapa tidak ada satupun yang berjalan dengan baik di hidup ku? Arggggg..." ucap Riki dengan nada yang kesal sambil kembali memukul stir mobilnya.
Riki menghembuskan napasnya berkali-kali dengan kasar seakan mencoba membuat dirinya tetap tenang, namun sayangnya meski berkali-kali mencoba suasana hati Riki sama sekali tidak terkontrol membuatnya semakin merasa kesal akan hal tersebut.
Pada akhirnya Riki memilih untuk keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion. Suasana mansion kali itu terasa begitu sepi dan juga kosong, melihat hal tersebut membuat Riki kembali menghela napasnya dengan panjang. Setidaknya dengan begini ia tidak akan ribet menjawabi satu persatu pertanyaan yang keluar dari mulut keluarga besar Hermawan. Entah kemana perginya orang-orang itu namun Riki sama sekali tidak tertarik akan hal tersebut.
Riki terus membawa langkah kakinya menaiki satu persatu anak tangga dengan langkah kaki yang lunglai. Sampai kemudian ketika ia baru saja sampai pada anak tangga paling ujung sosok Alena yang baru saja keluar dari kamar Aksa, nyatanya membuat Riki semakin mendengus dengan kesal ketika bayangan perkataan dari Errando kembali terngiang di kepalanya saat ini.
Sementara itu Alena yang tidak tahu akan apapun yang terjadi kepada Riki selama ia di kantor hanya menatap Riki dengan tatapan yang mengernyit. Keheningan nampak terjadi selama beberapa detik di antara keduanya, sampai kemudian helaan napas terdengar keluar dari mulut Alena.
Setelah memikirkannya selama seharian Alena sudah memutuskan akan mengakhiri segalanya. Lagi pula baik Alena maupun Errando keduanya sama-sama sudah berdamai jadi tidak ada alasan lagi untuk keduanya tetap berakting hingga saat ini, sudah waktunya mereka berdua mengakhiri segalanya sekarang.
__ADS_1
"Rik ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu." ucap Alena kemudian sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Riki berada.
"Aku lelah hari ini mungkin lain kali saja Nona..." ucap Riki kemudian sambil melangkahkan kakinya dan melewati Alena begitu saja.
Mendapati perlakuan Riki yang seperti itu tentu saja membuat Alena terkejut seketika. Alena yang mengira bahwa Riki tengah menghindarinya karena alasan tersebut lantas memutuskan untuk mengatakannya sekarang.
"Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri segalanya Rik, aku membebaskan mu untuk pergi dari sisiku, kamu tidak perlu lagi berakting dan berperilaku seakan-akan kamu adalah suamiku. Kamu bebas sekarang Rik... Kamu bisa pergi sesuka mu..." ucap Alena kemudian dengan nada yang lirih namun masih bisa terdengar di telinga Riki.
Mendengar perkataan dari Alena barusan tentu saja langsung membuat langkah kaki Riki terhenti dengan seketika, Riki yang memang pikirannya tengah kacau saat ini ditambah dengan kata-kata Alena yang seperti itu membuat emosinya semakin tidak terkontrol lagi.
"Apa kau kira hati ku ini hanya sebuah mainan yang bisa kau mainkan sesuka mu dan kau buang ketika kau tidak menyukainya? Apa menurut mu semua itu lucu? Di saat aku bahkan berusaha mati-matian untuk melakukan semuanya namun kau malah mengakhirinya begitu saja, aku akui kau memang ber uang tapi setidaknya berpikirlah pakai otak sebelum bertindak!" ucap Riki dengan nada yang meninggi membuat Alena langsung terdiam seketika.
Alena yang mendengar kata-kata tersebut keluar langsung dari mulut Riki tentu saja langsung terkejut dengan seketika, ia bahkan bingung dimana letak kesalahannya? Sedangkan disaat ia benar-benar ingin mengakhiri hubungan yang sudah dari awal ingin Riki akhiri, namun ketika Alena benar-benar ingin memulai dan mengakhirinya Riki mendadak menjadi marah, membuatnya sama sekali tidak mengerti akan sikap Riki saat ini.
"Apa yang terjadi kepadamu? Bukankah kamu yang menginginkan semuanya? Lalu mengapa kamu begitu marah?" tanya Alena dengan raut wajah yang bingung menatap ke arah Riki dengan tatapan yang penasaran.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut membuat Riki lantas tersenyum dengan simpul, diusapnya raut wajah Riki dengan kasar kemudian menatap ke arah Alena.
"Ya memang ini kemauan ku! Sepertinya aku yang terlalu bodoh di sini, bodohnya aku yang mau saja di perlakukan layaknya sebuah boneka tanpa ada satu pun dari kalian yang menanyakan tentang perasaan ku. Sekarang katakan Nona.. Apa kau pernah bertanya tentang perasaan ku? Apa kau pernah bertanya aku menyukainya atau tidak? Aku bahkan selalu memprioritaskan dirimu karena memang nasib ku yang hanya cocok menjadi babu mu!" ucap Riki dengan tatapan yang tajam ke arah Alena.
Plak...
Sebuah suara tamparan dengan keras mendarat tepat di area pipi sebelah kanan milik Riki, membuat keheningan terjadi di antara keduanya tepat setelah Alena melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi milik Riki. Alena benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadap Riki tadi hingga membuat dirinya meluap seperti ini. Namun kata-kata Riki yang terlalu menyakitkan membuat tangannya tanpa sadar malah melayangkan pukulan kepada Riki tanpa aba-aba sama sekali.
Alena sendiri tidak tahu apa alasannya, hanya saja semua perkataan yang keluar dari mulut Riki secara bertubi-tubi. Entah mengapa membuat hati Alena seakan merasa sakit ketika mendengarnya secara langsung seperti ini.
"Perkataan mu itu tidaklah pantas untuk kau ucapkan! Jika memang kau tidak menyukainya katakan dengan jelas sedari awal, jangan seperti ini. Apa kau tahu bahwa di rumah ini kau sudah di anggap bagian dari keluarga? Tidak hanya Papa, Mama bahkan juga kak Alex semuanya mengagung-agungkan dirimu. Harusnya kau itu bersyukur karena kau masuk ke dalam keluarga kami, jika kau berada di keluarga lain mungkin kau hanya akan menjadi keset bagi mereka!" ucap Alena yang ikut terbawa emosi ketika mendengar perkataan dari Riki yang terus-terusan menyudutkannya sedari tadi.
"Daddy... Mommy..." ucap sebuah suara dengan tiba-tiba yang lantas mengejutkan Alena dan juga Riki di sana.
Bersambung
__ADS_1