
Pukul 12 malam
Di area halaman depan terlihat Riki yang baru saja pulang dari kantor lantas mulai melangkahkan kakinya turun dari mobil. Sambil memasang senyuman yang mengembang Riki terlihat mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion tersebut dan langsung naik menuju ke arah kamar untuk segera beristirahat.
"Tumben gelap? Apa Alena sudah tidur?" batinnya dalam hati ketika melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
Riki yang tahu Alena tidak terlalu menyukai kegelapan, lantas sengaja menghidupkan lampu tidur kamar tersebut berniat agar Alena bisa tidur lebih tenang jika ada salah satu cahaya yang mengisi ruangan kamar. Hanya saja ketika Riki baru menyalakan lampu tidur di kamar tersebut, Riki yang baru menyadari tidak ada siapapun di kamar lantas terlihat mengernyit dengan tatapan yang bingung.
"Kemana Alena tengah malam seperti ini? Apa mungkin di kamar Aksa? Sebaiknya aku cek sebentar ke sana entah mengapa tiba-tiba perasaan ku menjadi tidak enak." ucap Riki kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju ke arah kamar Aksa.
***
Kamar Aksa
Riki yang sudah mulai khawatir lantas terlihat dengan terburu-buru mulai memutar handel kamar Aksa dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalamnya untuk mengecek apakah Alena ada di dalam atau tidak. Namun setelah langkah kaki Riki berhasil masuk ke dalam, ruangan kamar Aksa kosong dan hanya terisi dengan Aksa yang saat ini tengah tertidur dengan pulasnya.
"Kemana Alena?" ucap Riki kemudian sambil menjambak rambutnya dengan kasar.
Riki yang tak mendapati Alena di sana lantas mulai melangkahkan kakinya kembali keluar dari ruangan kamar Aksa. Riki benar-benar bingung harus mencari Alena kemana jika nomor ponselnya saja juga tidak aktif. Riki yang tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lantas mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Alex. Meski ada sedikit keraguan dalam hatinya antara meminta tolong pada Alex atau tidak. Namun yang jelas Riki tidak bisa hanya berdiam diri seperti ini tanpa tahu dimana keberadaan Alena kini.
Tok tok tok
Diketuknya pintu kamar Alex selama beberapa kali, berharap agar Alex segera keluar dari kamar dan menemuinya. Syukur-syukur Alex tidak akan marah karena ia yang mengetuk pintu kamarnya tengah malam seperti ini.
Cklek
__ADS_1
Tak berapa lama pintu kamar Alex nampak terbuka dengan lebar disertai dengan sosok Alex yang saat ini tengah berdiri di ambang pintu sambil menatap ke arah Riki dengan tatapan yang kesal karena merasa terganggu dengan suara ketukan pintu dari Alex yang sangat mengganggunya.
"Tuan Alex, aku minta maaf sudah mengganggu waktu istirahat anda. Hanya saja bisakah anda memberikan saya akses untuk bisa mengecek rekaman kamera pengawas di area lobi?" ucap Riki kemudian dengan raut wajah yang khawatir.
Sedangkan Alex yang mendengar semua perkataan dari Riki barusan tentu saja langsung mengernyit dengan seketika. Ditatapnya arloji yang melingkar ditangannya yang saat ini menunjukkan pukul setengah satu dini hari.
"Tengah malam begini? Untuk apa? Apa kau kurang kerjaan?" ucap Alex kemudian sambil mengucek matanya yang terasa perih saat ini.
"Anu tuan... Alena menghilang." ucap Riki pada akhirnya yang tidak tahu lagi harus bagaimana saat ini.
"Apa? Hilang? Bagaimana bisa? Bukankah tadi ia pergi ke kantor untuk mengantarkan mu makanan?" ucap Alex yang seakan tidak percaya akan perkataan Riki barusan.
"Memang benar tuan tapi hingga kini Alena belum pulang. Saya tidak mempunyai akses untuk melihat rekaman kamera pengawas mengingat saya baru di angkat menjadi seorang Presdir tadi pagi." ucap Riki menjelaskan segalanya.
Alex yang mendengar perkataan dari Riki barusan tanpa menjawab ataupun memberi akses kepadanya, Alex malah melangkahkan kakinya pergi masuk ke dalam kamar begitu saja meninggalkan Riki dengan raut wajah yang kebingungan. Riki yang melihat tingkah Alex yang malah masuk ke dalam lantas mulai terlihat frustasi. Namun beberapa detik kemudian Alex nampak sudah rapi dengan mengenakan jaket kulit berwarna hitam metalik keluar dengan langkah terburu-buru dari kamarnya.
"Mau mencari Alena lah!" ucap Alex sambil melangkahkan kakinya pergi begitu saja melewati Riki.
"Tapi tuan..." ucap Riki hendak menolak karena takut merepotkan Alex, namun langkah kaki Alex sudah lebih dulu meninggalkannya membuat Riki tidak lagi bisa menolak ajakan dari Alex barusan.
**
HR Company ruang kontrol
Di dalam ruang kendali yang terdapat pada perusahaan keluarga tersebut. Terlihat Alex dan juga Riki tengah fokus menatap ke arah layar monitor seakan sedang mencari keberadaan Alena di sana. Dari awal kedatangan mobil Alena sampai Alena yang turun dari mobil dan menunggu Riki di lobi sama sekali tidak luput dari pandangan mata keduanya.
__ADS_1
"Bukankah seharusnya kamu mengantarnya pulang?" ucap Alex kemudian nampak sedikit protes kepada Riki yang malah membiarkan Alena pulang seorang diri.
"Saya sudah menawarkannya kepada Vivi, namun Vivi malah bersikukuh untuk pulang dan menyetir sendiri." ucap Riki mencoba untuk membela diri.
"Meski begitu kamu sebagai suaminya harusnya itu..." ucap Alex hendak kembali menceramahi namun terpotong dengan perkataan Ali yang memotong pembicaraan keduanya begitu saja.
"Maaf tuan ada yang datang..." ucap Ali sambil menunjuk ke arah layar monitor.
Mendengar suara Ali barusan tentu saja membuat Alex dan juga Riki dengan spontan menoleh ke arah sumber suara. Keduanya yang tadinya saling berdebat akan masalah antar mengantar begitu mendengar Ali yang mengatakan ada yang datang, lantas langsung sibuk dan kompak memperhatikan ke arah layar monitor. Ketika keduanya tengah sibuk menatap ke arah layar monitor, keduanya langsung terkejut seketika disaat mengetahui jika seseorang yang datang ternyata adalah Errando.
"Bukankah itu Errando?" ucap Riki yang terkejut akan kehadiran seorang laki-laki yang ternyata adalah Errando.
"Dia benar-benar si pembuat masalah!" ucap Alex kemudian dengan raut wajah yang kesal menatap ke arah layar monitor di depannya.
***
Keesokan paginya
Di suatu hutan yang terletak di bawah jalan tol, Errando yang merasakan sebuah cahaya yang begitu menyilaukan matanya membuat kelopak mata Errando perlahan-lahan mulai terbuka. Errando memaksimalkan pandangannya yang sedikit terasa mengabur. Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya Errando mulai memaksakan diri untuk bangkit. Errando yang tidak tahu ia saat ini sedang berada di mana, lantas mengedarkan pandangannya ke arah sekitaran di mana sekelilingnya hanya terdapat pepohonan dan semak belukar saja.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" ucap Errando sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
Disaat Errando tengah sibuk memikirkan apa yang terjadi. Pandangan matanya lantas tertuju pada seorang wanita yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berada.
"Alena!"
__ADS_1
Bersambung