Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Berkas perceraian


__ADS_3

Alena yang baru saja mendapat pesan singkat dari Riki, lantas langsung melangkahkan kakinya dengan terburu-buru turun ke bawah tanpa mencuci wajahnya terlebih dahulu atau bahkan berganti pakaian terlebih dahulu. Alena benar-benar hanya memungut kemeja Errando yang ada di lantai dan ia kenakan dengan gerakan yang terburu-buru.


Alena menuruni setiap satu persatu anak tangga menuju ke arah dapur untuk mencari keberadaan Surti. Hingga kemudian langkah kakinya terhenti ketika Alena melihat Surti tengah asyik bersih-bersih di area dapur.


"Apakah tadi ada yang datang dan menitipkan sesuatu kepada Bibi?" tanya Alena kemudian sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar mencoba mencari berkas yang di maksud Riki tadi di pesannya.


Mendapat sebuah pertanyaan yang tiba-tiba, membuat Surti lantas terdiam seketika sambil mencoba mengigat benda yang di maksud oleh Alena saat ini.


"Ah map itu, saya menaruhnya di atas nakas ruang keluarga nona, biar saya ambilkan sebentar." ucap Surti sambil menaruh kain lapnya hendak mengambil amplop tersebut.


Hanya saja Alena yang mendengar ucapan Surti barusan langsung menahannya sambil mengatakan jika Alena ingin mengambilnya sendiri. Surti hanya bisa mengiyakan perkataan Alena tanpa bisa menolaknya lagi ketika Alen ingin mengambil sendiri map coklat tersebut yang Surti sendiri tidak tahu isi dari amplop berwarna coklat yang ia terima tadi.


**


Ruang keluarga


Alena terlihat memasuki area ruang keluarga dengan langkah kaki yang bergegas. Sambil mengingat-ingat letak map tersebut, Alena mulai


mencari kesana ke mari map tersebut. Hingga kemudian pandangannya terhenti tepat di atas nakas lemari kacanya. Dengan langkah kaki yang perlahan Alena mulai mendekat ke arah nakas dan langsung mengambil amplop berwarna coklat tersebut.


Diputarnya tali yang melilit bagian atas map, setelah itu mengambil isinya secara perlahan. Ada sedikit perasaan berdenyut dalam diri Alena ketika melihat berkas surat perceraiannya bersama dengan Errando. Setetes air mata menetes tepat di atas kertas berkas perceraian tersebut, hati Alena benar-benar belum siap kehilangan sosok Errando yang baru saja ia dapatkan kembali setelah melewati berbagai perang batin dan juga pikiran yang begitu menguras energinya.

__ADS_1


Alena mengambil langkah mundur beberapa saat dan berakhir dengan menyandarkan tubuhnya pada tembok ruangan tersebut. Alena tidak tahu lagi harus dengan cara apa Alena mengatakan perpisahan ini kepada Errando. Padahal jelas-jelas ia sendiri meminta Errando untuk melupakan masa lalunya tanpa mencari tahu terlebih dahulu masalah apa yang tengah dihadapi oleh Errando. Alena bahkan merasa begitu sangat egois ketika dengan memasang wajah seperti orang bodoh yang terus menanyakan kepada Errando tentang alasan sikapnya yang berubah dengan tiba-tiba.


Diusapnya area perutnya dengan perlahan, sambil terisak dengan kecil Alena berdoa dalam tangisnya.


"Semoga kamu bisa segera tumbuh di dalam janin mama sebelum papa dan mama bercerai ya, jika mama kehilangan papa setidaknya masih ada kamu yang bisa menyemangati mama kelak." ucap Alena sambil menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh siapapun saat itu.


Ini adalah salah satu alasan yang mendorong Alena membawa Errando ke dalam permainannya semalam. Pikiran Alena yang begitu buntu sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih. Sehingga yang ada di dalam pikirannya hanyalah membuat Errando kembali tidur dengannya agar kelak ada seorang janin yang lucu berkembang di sana sebagi pengganti pelipur laranya di kala ia sudah bercerai dari Errando. Alena bahkan sudah bertekad untuk tidak memberitahu Errando jika memang setelah perceraiannya nanti Alena dinyatakan positif hamil. Ia hanya ingin hidup bahagia dengan anaknya nanti tanpa kembali menjadi beban tersendiri bagi Errando ketika melihat dirinya.


***


Meja makan


Dikecupnya kening Alena sekilas kemudian mengambil duduk di sana, membuat Alena yang mendapat kecupan di pagi hari tersebut tentu saja langsung tertegun seketika.


"Pagi Al..." sapa Errando sambil menarik kursi di meja makan dan bersiap menunggu Alena melayaninya.


Alena yang mendapat perlakuan tersebut benar-benar merasakan sedih. Dikala ia sudah berada di dalam sebuah rumah tangga yang ia impikan. Menapa Alena harus membuka tabir rahasia yang selama ini ditutupi oleh Errando? Alena bahkan sangat menyesal mengapa ia mencoba berinisiatif dan mencari tahu tentang hubungan antara Alex dan juga Errando, jika sudah seperti ini tentu Alena akan menyesali keingintahuannya.


Errando yang melihat Alena hanya terdiam mematung di tempatnya, lantas mengernyit dengan bingung. Ditepuknya pelan bahu istrinya itu, membuat Alena langsung tersadar dari lamunannya.


"Apakah ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" tanya Errando kemudian dengan raut wajah yang penasaran sekaligus khawatir.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan tersebut Alena langsung menggeleng dengan kuat kemudian kembali melangkahkan kakinya meletakkan piring yang ia pegang di atas meja makan. Sambil memasang senyum yang dipaksakan Alena mulai melayani Errando dan mengambilkannya beberapa lauk di piring Errando.


"Tidak ada, aku hanya sedikit mengantuk saja." ucap Alena kemudian sambil meletakkan piring yang ia pegang tepat di depan Errando.


"Apa kamu yakin?" tanya Errando yang tidak terlalu percaya, apalagi ketika melihat gurat wajah sendu Alena saat ini.


"Iya tentu." ucap Alena sambil mengambil posisi duduk di sebelah Errando dan mulai membuka piringnya. "Setelah selesai makan nanti ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sebentar dengan mu, aku janji tidak akan lama." ucap Alena mulai meminta ijin.


"Santai saja, aku tidak terlalu terburu-buru hari ini." jawab Errando kemudian sambil tersenyum menatap ke arah Alena.


***


Ruang keluarga


Sesuai janjinya dengan Alena tadi di meja makan, setelah menyelesaikan sarapannya baik Alena dan juga Errando memilih untuk melipir ke ruang keluarga dan mulai berbicara. Sayangnya pembicaraan yang di maksud Alena bukanlah sebuah pembicaraan intim tentang bulan madu atau pun kata-kata mesra lainnya, melainkan sebuah kata yang seharusnya Errando sangat senang ketika mendengarnya, namun nyatanya tidak sedemikian rupa.


Errando menggenggam sebuah berkas perceraian ditangannya dengan erat, kilatan amarah terlihat jelas di matanya. Membuat Alena yang mengetahui hal tersebut langsung menelan salivanya dengan kasar karena Alena tahu sebentar lagi Errando pasti akan murka kepadanya.


"Apa-apaan ini Al? Bukankah kita berdua sudah memutuskan untuk melangkah secara beriringan?" ucap Errando dengan nada suara yang tertahan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2