
6 tahun kemudian
Hari telah berganti hari, bulan telah berganti bulan dan tahun telah berganti tahun. Setelah kabar menghilangnya pesawat dengan rute penerbangan Indonesia-Perancis enam tahun yang lalu menjadi hari paling sendu yang terjadi di kediaman Hermawan dan tentu saja juga bagi Errando. Tidak ada yang benar-benar tahu dimana keberadaan Alena karena baik jasad Alena maupun Riki asistennya tidak ditemukan dimanapun juga. Keduanya seakan menghilang dan tidak lagi terdeteksi keberadaannya.
Semua orang bahkan terlihat hancur ketika mendengar kabar tersebut, namun sebisa mungkin mencoba untuk mengikhlaskan Alena jika memang ini sudah jalannya. Untuk mengenang dan mendoakan putrinya Hermawan membuatkan makam kosong untuk Alena, agar anggota keluarga yang merindukan sosok Alena bisa datang kesana dan mendoakan Alena agar tenang disisi-Nya.
Jika kalian tanya Errando bagaimana? Tentu saja jawabannya sangatlah hancur, apalagi ketika Errando mengetahui alasan tentang perceraiannya hanya karena Alena yang mengetahui fakta tentang kakaknya Juwita, membuat Errando kian menumpuk rasa penyesalan di dalam dirinya.
Selama lima tahun belakangan ini hidup Errando benar-benar kacau dan tak teratur. Errando hanya menghabiskan waktunya untuk kerja, kerja dan kerja. Jika sudah larut malam ia pasti akan ke tempat hiburan malam dan menghabiskan waktunya di sana dengan menikmati alkohol hingga tepar. Tidak lagi ada raut wajah ramah ataupun hangat yang selalu ditunjukkan Errando ketika Alena masih ada. Yang tersisa saat ini hanyalah sosok Errando yang urakan dan juga gila dalam hal pekerjaan.
**
Di sebuah ruangan rapat
Errando yang menemukan sebuah kesalahan kecil dalam sistem penulisan angka pendapatan dalam laporan keuangan bulanan perusahannya. Nampak sangat marah dan langsung melempar kertas tersebut di hadapan karyawannya. Errando yang tidak ingin menerima satu kesalahan kecil pun, ketika mendapati salah penulisan angka di dalam laporan tersebut tentu saja langsung memiliki sasaran empuk untuk melampiaskan kekesalannya akan sesuatu hal yang lain.
Brak...
Suara map yang dilempar dengan cukup keras membuat semua anggota rapat di ruangan tersebut lantas terkejut seketika. Mereka yakin sebentar lagi Errando pasti akan kembali mengamuk akan sebuah kesalahan yang mungkin terkesan sepele namun sangat fatal bagi Errando. Errando bangkit dari tempat duduknya dan memasang posisi tubuh berkacak pinggang menatap kesal ke arah karyawannya.
__ADS_1
"Kalian tahu apa kesalahan kalian?" ucap Errando dengan nada yang meninggi.
Mendengar hal tersebut membuat semua orang yang berada di sana lantas terdiam seketika. Beberapa orang terlihat saling pandang antara satu sama lainnya namun mereka tetap tidak tahu apa kesalahan yang telah mereka perbuat. Errando yang tidak mendapat jawaban apapun dari pertanyaannya, lantas langsung menatap dengan tatapan yang menelisik ke arah di mana mereka berada.
"Aku tanya sekali lagi, siapa yang menyusun laporan keuangan ini?" tanya Errando kembali dengan nada penuh penekanan ke arah para karyawannya.
Mendengar perkataan Errando barusan Inge yang memang adalah karyawan baru di sana dan kebetulan juga yang menyusun laporan keuangan tersebut, lantas perlahan-lahan terlihat bangkit dari tempat duduknya sambil mengangkat tangannya. Membuat semua orang yang ada di sana lantas langsung menatap ke arah Inge dengan tatapan yang bertanya-tanya sekaligus kasihan karena sebentar lagi Inge pasti akan jadi santapan empuk kemarahan Errando.
"Apa kau tahu apa kesalahan mu?" tanya Errando sekali lagi.
"Tidak pak" ucap Inge sambil menundukkan kepalanya.
Sedangkan setelah rapat tersebut selesai suasana menjadi hening seketika, beberapa karyawan yang lain lantas mendekat ke arah Inge dan menepuk pundak Inge secara pelan seakan berusaha untuk menenangkan gadis itu.
"Sabar ya Nge, sebaiknya kamu segera benahi laporan itu dan minta maaf pada pak Errando aku yakin beliau akan mengerti." ucap salah satu rekannya mencoba untuk memberikan solusi kepada Inge.
"Terima kasih" ucap Inge dengan lirih.
Satu persatu karyawan mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dan hanya menyisakan Inge seorang diri di sana. Helaan napas lantas terdengar berhembus dari mulutnya ketika ia baru saja mendapatkan peringatan secara langsung dari CEO perusahaan tempatnya bekerja. Inge mendudukkan dirinya pada kursi ruangan tersebut dan menatap ke arah langit-langit ruangan tersebut. Pikirannya kini bahkan tengah melayang memikirkan kembali perkataan seseorang yang mengatakan bahwa Errando adalah sosok yang hangat dan juga bijaksana. Inge yang tadinya begitu penasaran akan sosok Errando yang dimaksud, begitu mengetahui dan merasakan bekerja dibawah pimpinannya. Inge bahkan merutuki kebodohannya yang percaya saja dan malah dengan bodohnya bermimpi bekerja bersama dengan Errando.
__ADS_1
"Aku tarik kembali ucapan ku tentang aku yang mengagumi sosok Errando gara-gara kak Vivi." ucap Inge dengan cemberut ketika mengingat lagi saat-saat Errando memarahinya baru saja.
Disaat Inge tengah sibuk dengan pemikirannya sendiri kala itu, sebuah suara derap langkah kaki lantas terdengar menggema di ruangan tersebut membuat Inge langsung bangkit dengan seketika dari posisinya saat ini untuk melihat siapa yang baru saja datang.
"Apa aku mengganggu waktu berpikir mu?" tanya sebuah suara.
"Pak Rama" ucap Inge dengan spontan yang terkejut akan kehadiran Rama yang tiba-tiba tersebut.
***
Sementara itu di sebuah tempat yang jauh dari peradaban kota, terlihat seorang pria kecil tengah berlarian mengejar kupu-kupu kesana kemari dengan raut wajah yang gembira. Parasnya yang tampan dan hidung yang mancung membuat pria kecil itu selalu saja menjadi pusat perhatian ibu-ibu ketika ia sedang berada dimanapun.
Pria kecil itu terus berlari dan terus berlari dengan riangnya, hingga tanpa sadar kakinya yang begitu mungil itu nampak tersandung sebuah akar kayu yang terlihat sedikit menonjol di atas tanah dan langsung membuat terkejut semua orang yang memperhatikannya. Seorang pria yang tahu bahwa pria kecil itu tengah terjatuh ketika mengejar kupu-kupu nampak langsung berlarian dan menghampiri pria kecil tersebut.
"Aksa, bukankah sudah Daddy katakan untuk tidak berlarian seperti ini? Mommy bisa marah jika sampai mengetahui hal ini." ucap pria tersebut sambil membantu Aksa bangkit berdiri.
"Jangan beritahu Mommy ya Daddy plissss..." ucap Aksa dengan gaya cadelnya membuat pria itu lantas menghela napasnya dengan panjang ketika mendengar permintaan dari Aksa barusan.
"Apa yang jangan beritahu Mommy? Aksa... Riki...!"
__ADS_1
Bersambung