
Di sebuah Apartment, terlihat Errando tengah melangkahkan kakinya menyusuri lorong lorong Apartment dan berhenti pada salah satu unit Apartment milik seseorang yang sangat ia kenal. Diciumnya satu buket bunga cantik dan berwarna warni dengan senyum yang mengembang, kemudian setelah itu Errando mulai memencet bel pintu selama beberapa kali, berharap pemilik unit Apartment tersebut akan segera membukakan pintu untuknya.
"Aku yakin kakak pasti suka." ucap Errando dengan senyum yang mengembang.
Errando yang tak kunjung melihat pintu unit Apartment kakaknya terbuka juga walau ia terus menekan bel pintu sedari tadi, lantas mulai menatap ke arah pintu dengan raut wajah yang penasaran. Hal ini tentu saja membuat Errando bertanya-tanya karena pasalnya sang kakak tidak pernah selama ini membuka pintu untuknya, padahal sebelumnya Errando sudah memberikan pesan singkat kepada kakaknya bahwa ia akan mampir pertama kali ke Apartment kakaknya, sebelum pada akhirnya pergi untuk menemui Alena setelah dua tahun menjalani hubungan jarak jauh dengan Alena karena hari ini merupakan hari kepulangannya pertama kali setelah selama dua tahun mengembangkan bisnis keluarganya di Perancis.
Errando yang tak kunjung mendapati pintu unit Apartment kakaknya terbuka, kemudian memutuskan menekan kode password kakaknya yang ia hapal di luar kepalanya. Dengan perasaan khawatir yang memenuhi hatinya, Errando mulai membuka pintu unit Apartment kakaknya dan masuk ke dalam mencari keberadaan kakaknya di sana.
**
Ketika Errando masuk ke dalam, suasananya sudah begitu kacau dan berantakan seakan baru saja terjadi gempa di sana, padahal kenyataannya sama sekali tidak ada gempa yang melanda ibu kota saat ini maupun ketika ia masih dalam perjalanan menaiki pesawat tadi. Melihat keadaan yang begitu kacau, Errando terus melangkahkan kakinya menyusuri setiap ruangan dan mencari keberadaan kakaknya di setiap sudut Apartment, namun sayangnya meski telah berkeliling Errando tak menemukan kakaknya dimanapun.
Errando yang mulai frustasi lantas mengusap rambutnya dengan kasar, sambil mencoba berpikir keras di mana keberadaan kakaknya saat ini, hingga kemudian sebuah rembesan air yang berasal dari pintu kamar mandi yang terletak di luar, membuat Errando mengernyit dengan bingung sekaligus penasaran mengapa air bisa sampai merembes keluar ruangan kamar mandi.
Dengan langkah yang bergegas Errando mulai membuka pintu kamar mandi tersebut dengan raut wajah yang penasaran, ketika pintu kamar mandi berhasil di buka dengan lebar betapa terkejutnya Errando ketika melihat sosok yang tak asing baginya sudah tenggelam di dalam bak air dengan posisi tangan menggantung keluar dan penuh dengan darah yang mengalir menetes hingga bercampur dengan air yang sudah merembes ke bawah. Errando yang melihat tubuh kakaknya sudah kaku di dalam air lantas langsung terkejut seketika dengan pandangan yang tak percaya bahwa kakaknya memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
__ADS_1
**
"Kak Juwita!" pekik Errando dengan nafas yang terengah-engah.
Hhhhh
Errando terbangun dari mimpi buruknya dengan nafas yang terengah-engah dan jantung yang berdebar kencang. Alena yang baru saja dari kamar mandi dan mendengar teriakan Errando tentu saja langsung berlarian dan menghampiri Errando dengan tatapan yang penuh kekhawatiran. Alena benar-benar terkejut ketika mendengar teriakan yang berasal dari Errando, sehingga langsung membuatnya berlarian mendekat ke arah Errando untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi dengan Errando.
"Apa kamu bermimpi buruk By? minumlah ini dan tenangkan dirimu.." ucap Alena kemudian sambil menyodorkan segelas air yang baru saja ia ambil dari atas nakas.
Sedangkan Errando yang masih terbayang akan wajah kakaknya yang telah tiada, melihat wajah Alena dihadapannya membuat Errando menjadi kesal seketika. Bayangan tentang bagaimana raut wajah kakaknya itu tergambar jelas di ingatannya, membuat Errando kian membenci Alena dan juga keluarganya. Errando yang terbawa emosi lantas menepis gelas pemberian Alena hingga gelas itu terjatuh dan terbentur ke tembok sedangkan pecahannya berhamburan ke lantai. Alena yang mendapat perlakuan tersebut tentu saja terkejut bukan main dan langsung terdiam di tempatnya.
"Pergi dari hadapan ku! jangan muncul di hadapan ku karena wajah mu itu membuat ku merasa sangat kesal!" teriak Errando yang membuat Alena langsung memejamkan matanya perlahan karena terkejut akan teriakan Errando barusan.
Alena bahkan tidak tahu apa kesalahannya dan Errando malah dengan gampangnya mengatakan bahwa tidak ingin melihatnya, bukankah Errando keterlaluan? Disaat pasangan suami istri di luaran sana ingin terus bersama-sama dan melihat wajah satu sama lain setiap harinya, namun Errando malah sebaliknya, membuat Alena benar-benar bingung harus berbuat apa disaat-saat seperti ini.
__ADS_1
**
Sedangkan dari arah luar kamarnya Silvi yang mendengar suara ribut-ribut di atas langsung masuk ke dalam kamar utama untuk mengecek apa yang tengah terjadi di sana. Pemandangan aneh Silvi dapatkan ketika ia memasuki kamar utama di mana Errando yang terlihat sangat kesal, Alena yang terus menunduk dengan perasaan bersalah dan juga pecahan gelas kaca yang terlihat berserakan di lantai, membuat siapapun yang melihatnya pasti akan mengira telah terjadi pertengkaran besar di antara keduanya.
"Apa yang terjadi Er?" tanya Silvi kemudian yang lantas membuat Alena dan juga Errando menoleh ke arah sumber suara.
Errando yang melihat Silvi datang dengan tiba-tiba, lantas memijit pelipisnya dengan pelan kemudian bangkit dari tempat tidur dengan raut wajah yang kusut. Errando benar-benar lupa jika Silvi sedang menginap di rumahnya semalam, mimpi buruk yang menghantuinya membuat Errando menjadi emosi dan melupakan segalanya, bahkan kepada Silvi sekalipun Errando tetap tidak bisa menahannya, yang ada di dalam benaknya saat ini hanyalah wajah membiru kakaknya yang terendam di dalam bak air kamar mandi Apartment kakaknya.
"Errando ke kamar mandi dulu Ma." ucap Errando sambil berlalu pergi hendak masuk ke dalam kamar mandi namun suara Silvi lantas menghentikan langkah kakinya.
"Jangan seperti itu Er! Selesaikan dengan baik baik. Jadilah seorang pemimpin rumah tangga yang bijak." ucap Silvi kemudian sambil menatap tajam ke arah Errando.
Errando yang mendengar ucapan dari Silvi barusan, lantas menatap ke arah Silvi dengan tatapan yang tidak bisa di artikan kemudian menatap ke arah Alena yang hingga kini masih menundukkan kepalanya tanpa berniat menatap ke arahnya sama sekali.
"Mama gak tahu apa-apa, jadi Mama jangan pernah berat sebelah akan masalah yang tengah aku hadapi saat ini." ucap Errando kemudian kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi dan langsung menutup pintunya dengan kasar.
__ADS_1
"Errando berhenti... Mama bilang berhenti dan selesaikan! Errando...!" teriak Silvi namun Errando terus saja menutup pintunya dan mengacuhkan ucapan Silvi padanya.
Bersambung