
"Errando berhenti... Mama bilang berhenti dan selesaikan! Errando...!" teriak Silvi namun Errando terus saja menutup pintunya dan mengacuhkan ucapan Silvi padanya.
Silvi yang melihat Errando menutup pintunya dengan keras lantas hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, ditatapnya Alena yang terlihat menunduk sambil memainkan jari jari tangannya. Silvi tahu Alena pasti sangat terkejut akan sikap Errando yang seperti itu. Dengan langkah kaki yang perlahan Silvi mulai mendekat ke arah Alena kemudian membawa gadis itu duduk di atas sofa.
"Mama minta maaf, kamu pasti terkejut ya? Errando memang seperti itu suka marah kalau segalanya tidak berjalan sesuai dengan kehendaknya. Jangan terlalu di pikirkan ya Len, nanti mama akan coba bicara lagi sama Errando." ucap Silvi mencoba untuk menenangkan Alena sambil memegang tangan Alena dengan lembut.
Alena yang mendengar ucapan Silvi barusan mencoba untuk tersenyum kepada mertuanya itu, walau hatinya masih terkejut akan perlakuan dari Errando namun sebisa mungkin Alena coba untuk terlihat baik-baik saja agar Silvi tidak terlalu khawatir.
"Mama tidak perlu khawatir seperti ini, aku baik-baik saja kok." ucap Alena dengan senyum yang di buat selebar mungkin agar membuat Silvi lebih tenang.
***
Di dalam kamar mandi
Errando yang baru saja menutup pintunya dengan keras, langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah wastafel. Dibasuhnya area wajahnya secara berulangkali kemudian menatap ke arah kaca dengan tatapan yang tajam.
Bayangan bagaimana kematian kakaknya saat itu benar-benar terekam jelas di ingatannya. Sungguh sulit melupakan sebuah kejadian buruk yang terjadi di sekitar kita, terutama yang terjadi kepada Errando di mana ia harus melihat sang kakak yang sangat ia sayangi tewas dengan kematian yang mengenaskan. Seberapa banyak hari, bulan dan tahun sekalipun berlalu sangat sulit menghapus kenangan pahit yang terus berputar di kepala Errando hingga kini.
Errando menatap bayangannya di cermin dengan tatapan yang tajam seakan mengandung kebencian yang sudah mendalam di hatinya. Hanya saja beberapa detik kemudian raut wajah yang semula penuh dengan kebencian perlahan lahan berubah menjadi datar dan dingin, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan mengira Errando adalah seseorang yang manipulatif.
__ADS_1
"Tidak akan ku biarkan dia lolos begitu saja, jika ia berani menyakiti kakak ku... maka aku akan pastikan adiknya menanggung segala perbuatannya!" ucap Errando dengan nada yang penuh penekanan.
**
Bruk
Suara pintu kamar mandi yang terbuka dengan lebar, membuat Alena dan juga Silvi yang masih terduduk dengan raut wajah yang kecewa nampak langsung bangkit dari tempat duduknya. Silvi yang melihat rambut putranya sudah basah kuyup lantas langsung mendekat ke arah Errando hendak memarahinya.
"Apa lagi yang ingin kau lakukan ha? tidakkah kau tahu bahwa sikap mu itu benar-benar keterlaluan?" ucap Silvi dengan nada yang meninggi sedangkan Alena yang juga mendengar Silvi marah hanya bisa menunduk tanpa berani menatap ke arah manik mata Errando yang kini tengah menatap ke arahnya.
Errando yang mendengar omelan ibunya itu perlahan lahan mulai memasang wajah yang cemberut dan menatap ke arah Ibunya dengan tatapan yang merajuk, membuat Silvi yang melihat hal tersebut terkejut akan tingkah Errando yang terlihat aneh.
Mendengar ucapan Errando barusan membuat Silvi dan juga Alena dengan spontan menatap ke arah Errando dengan tatapan yang penuh kebingungan karena sama sekali tidak mengerti akan maksud dari kata kata Errando barusan. Silvi yang mulai kesal akan sikap putranya itu kemudian memukul punggung putranya beberapa kali sambil mengeluarkan beberapa kata-kata mutiara, membuat Errando langsung meringis kesakitan akan ulah dari ibunya itu.
Alena yang mulai kasihan akan Errando yang terus di pukuli oleh Silvi lantas langsung mendekat ke arah keduanya berusaha untuk menghentikan seorang ibu yang menghukum anaknya tersebut. Hingga sebuah kata-kata yang keluar dari mulut Errando membuat gerakan Silvi dan juga Alena lantas terhenti seketika.
"Alena tidak ingin menambah jatah untuk ku Ma, mangkanya aku marah kepada Alena tadi, aku akui aku salah tapi untuk gelas yang berserakan di lantai aku tidak sengaja menjatuhkannya." teriak Errando kemudian yang lantas membuat Silvi menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi memukuli punggung Errando.
"Apa? Jadi masalah kalian hanya prihal urusan ranjang begitu?" ucap Silvi dnegan raut wajah yang terkejut begitu pula dengan Alena.
__ADS_1
Alena yang mendengar jawaban absurd dari Errando hanya melongo seakan tidak percaya Errando malah mengucapkan kata-kata tersebut sebagai alasan untuk membuat Silvi percaya kepadanya.
"Maka dari itu Mama sebaiknya pulang dan biarkan kami menyelesaikan masalah kami, bukankah Mama ingin segera menimang cucu?" ucap Errando sambil mengerlingkan mata sebelah kanannya kepada Silvi.
Silvi yang mendengar ucapan Errando barusan tentu saja senang bukan main, dengan tersenyum lebar Silvi kemudian datang dan menghampiri Alena. Ditatapnya menantunya itu dengan senyum yang mengembang kemudian mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Alena dan membisikkannya sesuatu, yang tentu saja membuat Alena langsung melotot seketika disaat mendengar bisikan dari mertuanya itu.
"Mengapa kamu tidak bilang kalau masalah kalian ini? Mama pulang ya... kalau kamu mau ramuan untuk meningkatkan gairah, hubungi saja Mama oke?" ucap Silvi dengan nada yang genit membuat Alena langsung melotot seketika disaat mendengar bisikan Silvi tepat di telinganya.
Silvi yang melihat wajah Alena bersemu merah lantas langsung tersenyum dengan gemas, padahal tadinya Silvi mengira permasalahan yang di hadapan oleh Alena dan juga Errando adalah masalah yang serius, namun ternyata hanya perkara hubungan suami istri yang tidak tersalurkan dengan benar.
"Mama pulang dulu ya.. buat cucu yang banyak untuk mama." ucap Silvi sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar utama meninggalkan Errando dan juga Alena dengan sesekali tertawa geli mengingat kelakuan keduanya yang aneh.
Errando yang melihat Silvi melangkahkan kakinya pergi dari kamarnya, lantas mulai bergerak dan menutup pintu kamarnya dengan sekali dorongan, Alena yang sedari tadi sudah gatal hendak bertanya maksud dari ucapan dan tingkah laku Errando, melihat Silvi pergi dari kamar Alena langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Errando berada saat ini.
"Apa maksudmu mengatakan hal itu By? kamu bahkan tidak pernah menyentuh ku, tapi kamu malah seenak jidat mu menjadikan ku sebuah alasan! Sebenarnya apa masalah mu?" ucap Alena dengan nada menyolot karena kesal akan tingkah Errando yang selalu saja semena-mena.
Errando yang mendengar ucapan tersebut keluar dari mulut Alena, lantas langsung dengan spontan mendorong tubuh Alena hingga terpojok ke sudut tembok.
"Jika kamu ingin mengetahuinya, tanyakan pada kakak kesayangan mu itu!" ucap Errando dengan nada penuh penekanan.
__ADS_1
Bersambung