
Setelah mendapat informasi bahwa Hermawan kini tengah jatuh sakit, Alena dan juga Riki memutuskan untuk membawa Aksa dan menemui Hermawan di kota. Dengan perasaan yang cemas dan juga khawatir, Alena terlihat menatap ke arah jendela kaca sambil memangku Aksa yang kini sedang tertidur dengan pulasnya. Sepertinya perjalanan yang panjang menuju Ibukota membuat Aksa kecil begitu kelelahan dan pada akhirnya tertidur dengan lelap dipangkuan Alena.
Ditatapnya raut wajah Aksa yang kini tengah tertidur dengan lelap itu, entah dilihat dari sudut manapun wajah Aksa benar-benar mempunyai kemiripan dengan Errando. Dalam hatinya Alena bahkan sempat berpikir dalam kebingungan, jika sampai Aksa dan Errando bertemu entah apa yang akan ia katakan sebagai alasannya. Alena yakin jika Errando bertemu dengan Aksa ia pasti tidak akan percaya jika Alena mengatakan bahwa Aksa adalah putra dari Riki.
"Semoga saja aku tidak akan bertemu dengan Errando nanti di sana." ucap Alena dalam hati berdoa agar segalanya lancar.
***
Rumah sakit
Setelah mobil yang di kendarai oleh Riki sampai di plataran Rumah sakit, terlihat Riki melangkahkan kakinya berputar dan membukakan pintu untuk Alena. Sambil membantu Alena berdiri dan mengambil Aksa dari pangkuan Alena. Alena kemudian mulai bangkit dan keluar dari mobil dengan sesekali membenarkan bajunya.
"Aku akan ke supermarket sebentar untuk membeli beberapa makanan ringan untuk Aksa, kamu masuk lah dulu ke dalam." ucap Alena sambil mengambil kembali Aksa dari gendongan Riki.
"Biar saya saja yang membawa Aksa Nona eh maksud saya Vi, kamu boleh masuk ke dalam dan menemui pak Hermawan terlebih dahulu." ucap Riki mencoba untuk memberikan solusi karena jujur saja Riki tidak akan tega membiarkan Alena menggendong Aksa seorang diri dan berjalan ke area supermarket.
__ADS_1
Mendengar perkataan Riki barusan membuat Alena terdiam sejenak kemudian menghela napasnya dengan panjang. Bagaimanapun juga kondisi Hermawan tengah tidak baik saat ini, jika tiba-tiba Alena muncul itu pasti akan memperburuk keadaannya. Setidaknya jika Riki yang masuk lebih dahulu, Riki bisa menjelaskan gambaran besarnya kepada Hermawan, bukan?
"Jangan Rik, jika aku tiba-tiba muncul Papa pasti akan syok dan mungkin saja kondisinya bisa lebih buruk daripada saat ini." ucap Alena dengan raut wajah yang sendu.
"Apa anda yakin?" tanya Riki sekali lagi yang lantas dibalas Alena dengan anggukan kepala.
Melihat jawaban dari Alena barusan membuat Riki tidak bisa lagi membantah dan pada akhirnya membiarkan Alena dan juga Aksa pergi melipir sebentar ke arah Rumah sakit. Ditatapnya punggung Alena yang kini mulai menjauh dari hadapannya sambil menarik napasnya dalam-dalam.
"Jawaban apa yang harus aku persiapkan untuk keluarga ini? Haruskah aku menjelaskan segalanya atau menikmati permainan sebagai suami dari seorang Alena Viantika Hermawan sekaligus ayah dari Aksa? Apa yang harus aku lakukan?" ucap Riki dalam hati sambil terus menatapi kepergian Alena dari hadapannya.
**
"Wah benar-benar plot twist sekali, aku kira dia dan Stefen ada hubungan... Bodohnya aku yang percaya begitu saja tanpa mendengarkan perkataan dari Stefen kala itu!" ucap Errando dengan nada bicara yang sinis.
Sampai kemudian ketika Errando melihat Alena yang berlalu pergi sambil menggendong anak kecil di pangkuannya, lantas langsung turun dari mobilnya dan tanpa sadar mengikuti langkah kaki Alena yang entah akan pergi kemana. Errando terus melangkahkan kakinya mengikuti Alena secara perlahan sambil berusaha untuk melihat siapa yang saat ini tengah berada di gendongannya, hanya saja posisi anak kecil itu yang menunduk karena tertidur membuat Errando sama sekali tidak bisa melihat wajah anak kecil tersebut.
__ADS_1
Alena yang terus membawa langkah kakinya masuk ke dalam supermarket lantas terlihat mulai mengambil beberapa makanan khas untuk anak-anak kemudian kembali melangkah, membuat Errando yang memang sedari tadi mengikuti langkah kaki Alena lantas terus melangkah tak jauh dari Alena. Sampai kemudian Errando yang tidak lagi bisa untuk menunggu lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alena dan menarik tangan Alena, membuat Alena yang tidak bersiap akan tarikan tersebut lantas membuat beberapa belanjaannya terjatuh dan mengejutkan Aksa yang tengah tertidur.
"Apa sungguh menyenangkan membohongi semua orang dan berpura-pura telah tiada padahal jelas-jelas kau tengah asyik bersama laki-laki lain?" ucap sebuah suara yang tak asing di pendengaran Alena.
Alena yang terkejut akan gerakan tangan Errando yang menariknya dengan tiba-tiba lantas langsung terdiam di tempatnya. Apa yang Alena takutkan benar-benar menjadi kenyataan, Alena bahkan baru saja berdoa agar tidak bertemu dengan Errando di sini namun nyatanya malah keduanya benar-benar dipertemukan oleh takdir. Alena yang sedari tadi terdiam tak bisa berkata-kata apa lagi, begitu mendengar suara Aksa yang terbangun lantas langsung memegangi kepala Aksa agar tidak sampai menoleh ke arah Errando.
"Ada apa Mommy?" tanya Aksa dengan suara serak khas bangun tidur.
"Maafkan Mommy ya nak karena membangunkan mu barusan, tidurlah lagi saja hem..." ucap Alena sambil mengelus secara perlahan kepala Aksa agar kembali tertidur dan tidak sampai menoleh ke arah Errando.
Sedangkan Errando yang melihat interaksi keduanya hanya memutar bola matanya dengan jengah seakan malas untuk mendengar drama antara ibu dan anak tersebut.
"Sepertinya sia-sia aku menghancurkan hidup ku sendiri hanya untuk menangisi orang seperti mu!" ucap Errando dengan nada yang ketus membuat Alena lagi-lagi hanya bisa terdiam tanpa mengatakan sepatah kata apapun lagi untuk membalas perkataan Errando barusan.
Errando yang memang sudah puas meluapkan unek-uneknya lantas melangkahkan kakinya pergi begitu saja setelah mengatakan semua hal menyakitkan itu kepada Alena. Sedangkan Alena yang melihat kepergian Errando pada akhirnya hanya bisa menghela napasnya panjang sambil menatap sendu ke arah kepergian Errando. Sepertinya Errando tidak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya, lagi dan lagi Alena kembali disalahkan tanpa mencari tahu terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi kepadanya. Alena yang menerima segala cacian Errando sama sekali tidak berniat untuk menjawabnya karena tujuan perceraiannya sedari dulu adalah memang untuk membuat Errando membencinya. Jika sudah seperti ini, bukankah itu artinya Alena berhasil?
__ADS_1
"Setidaknya ini lebih baik untuk kita berdua Er..." ucap Alena dalam hati sambil menatap ke arah kepergian Errando.
Bersambung