
Pengadilan
Dari arah dalam ruangan pengadilan, terlihat Errando dan juga Alena tengah melangkahkan kakinya keluar dari gedung pengadilan sambil membawa sebuah map berisi akta cerai keduanya. Selama satu jam lamanya proses persidangan terjadi di dalam sana, dengan perundingan yang alot dan juga mediasi selama beberapa kali pada akhirnya palu hakim memutuskan saat ini bahwa keduanya telah resmi bercerai.
Sambil menghela napasnya dengan panjang Alena melangkahkan kakinya dengan beriringan bersama dengan Errando keluar dari gedung pengadilan, namun dengan mulut yang terkunci dan pikiran masing-masing. Diliriknya sekilas Alena yang sedari tadi terdengar menghela napasnya dengan panjang, hingga membuat Errando bertanya-tanya tentang alasan Alena terus-terusan menarik napasnya seperti itu sedari tadi.
"Aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dan pastinya mendasari keputusan Alena yang ngotot untuk meminta cerai kepadaku." ucap Errando dalam hati sambil terus memperhatikan segala gerak-gerik Alena sedari tadi.
Alena yang tidak sadar bahwa Errando sedari tadi tengah sibuk memperhatikan dirinya, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya sebentar membuat Errando yang tidak terlalu fokus lantas terkejut dan hampir menabrak Alena, ketika mengetahui Alena menghentikan langkah kakinya dengan tiba-tiba.
Errando menatap Alena tanpa mengucapkan sepatah kata apapun juga. Sampai kemudian terlihat sebuah senyuman yang nampak begitu tenang menghiasi wajah Alena seakan seperti sebuah beban berat sudah terlepas dari dirinya saat ini. Membuat Errando yang melihat ekspresi wajah Alena semakin dibuat bertanya-tanya.
"Terima kasih atas segalanya Errando... Aku harap kita masih bisa berteman meski kita berdua tidak lagi hidup dalam satu atap dan membangun mahligai Rumah tangga bersama." ucap Alena kemudian dengan nada yang terdengar begitu lembut, membuat Errando lantas tertegun seketika disaat mendengar perkataan Alena barusan.
Mendengar perkataan Alena barusan membuat Errando terdiam, bukan karena perkataan Alena yang menyentuh hatinya, melainkan lebih kepada berbagai pertanyaan yang kini mulai berputar di kepalanya seakan sedang berusaha mencari jawaban akan segala permasalahan yang terjadi beberapa waktu ini antara Alena dan juga Errando.
Alena yang tidak mendengar jawaban apapun dari Errando, lantas hanya menatap Errando dengan tatapan yang bertanya. Baru setelah beberapa detik kemudian tidak kunjung juga ada jawaban dari Errando, Alena memutuskan untuk berlalu pergi dari sana karena Alena berpikir Errando saat ini pasti tengah membencinya. Mengingat apa yang terjadi selama beberapa hari kebelakang, Alena yakin Errando bahkan tidak akan sudi meski hanya menganggapnya sebagai seorang teman saat ini.
__ADS_1
Errando yang melihat Alena beranjak pergi dari sana, lantas dengan spontan langsung mengejar langkah kaki Alena dan menggenggam tangannya dengan erat, membuat langkah kaki Alena lantas langsung terhenti seketika di tempat dengan pikiran yang bertanya-tanya akan sikap Errando saat ini.
"Katakan alasan yang sebenarnya kepadaku Al akan segala perubahan sikap mu selama ini, masih ada waktu untuk menjelaskan segalanya. Ku mohon jangan seperti ini." ucap Errando mencoba untuk membujuk Alena untuk yang terakhir kalinya.
Entah mengapa Errando masih merasa bahwa segala hal yang diperbuat oleh Alena saat ini karena sesuatu hal yang Errando sendiri sama sekali tidak tahu apa itu. Sedangkan Alena yang mendadak mendapat pertanyaan tersebut tentu saja langsung terdiam di tempatnya. Sebuah kenangan indah yang telah ia lewati bersama dengan Errando mendadak terlintas bagaikan kaset rusak yang terus saja memutar alur filmnya.
Sebuah ingatan yang penuh kebahagian terputar dengan jelas pada kepalanya, membuat Alena lantas menatap ke arah Errando dengan tatapan yang menelisik. Hanya saja perlahan-lahan semua ingatan tersebut sirna ketika sebuah fakta tentang kematian Juwita yang disebabkan oleh Alex, lantas memporak-porandakan perasaannya dengan seketika.
Alena melepas pegangan tangan Errando dengan perlahan, membuat Errando lantas menatap ke arah Alena dengan tatapan yang bertanya akan sikap Alena saat ini.
"Semoga kamu menemukan ketenangan mu, jangan lagi ada dendam karena aku sudah menerima segala konsekuensinya. Aku pergi dulu, terima kasih atas segalanya Errando Aksa Valentino." ucap Alena dengan senyum di akhir kalimatnya setelah itu berlalu pergi dari sana meninggalkan Errando dengan beribu tanda tanya besar yang memenuhi isi kepalanya.
Errando yang yakin ada sesuatu yang terjadi dengan Alena, lantas terlihat merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel miliknya dan mendial nomor Rama di sana. Beberapa menit menunggu dengan perasaan yang khawatir sambil terus menatap punggung Alena yang kian menjauh dari pandangannya. Errando yang tak kunjung diangkat panggilannya lantas nampak berdecak dengan kesal. Hingga kemudian sebuah suara seseorang yang tak asing di seberang sana, lantas langsung membuat Errando geram seketika karena baru mendengar suaranya.
"Halo" ucap sebuah suara diseberang sana.
"Kemana saja kau? Apa kau tidak mendengar panggilan ku ha!" pekik Errando dengan nada yang meninggi, membuat Rama yang berada di sana tentu saja langsung terkejut dan dengan spontan menjauhkan ponsel miliknya dari telinga begitu mendengar nada bicara Errando yang meninggi tersebut, membuat telinga Rama bahkan sampai berdengung seketika disaat mendengarnya.
__ADS_1
"Maaf tuan saya baru saja dari pantry tadi." ucap Rama kemudian mencoba untuk menjelaskan kepada Errando.
"Alasan saja!"
"Jika saya boleh tahu ada perlu apa tuan?" tanya Rama kemudian dengan nada yang hati-hati agar tidak kembali membangunkan singa yang sedang terlihat menandai mangsanya itu.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Errando lantas menghela napasnya dengan panjang. Untuk menyelesaikan masalah ini setidaknya Errando harus berpikir waras dan tidak terlalu emosi. Diambilnya napasnya dengan kasar beberapa kali kemudian Errando hembuskan seakan mencoba untuk menenangkan hatinya yang tengah kacau saat ini.
"Cari tahu apa yang sebenarnya Alena ketahui tentang ku, atau jika tidak selidiki alasan di balik perceraian ku." ucap Errando memberikan perintah kepada Rama.
Sedangkan Rama yang mendengar perintah tersebut lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung ketika mendengar perintah aneh dari Errando saat ini.
"Bagaimana saya melakukannya tuan? Jika jawaban dari apa yang anda perintahkan ada pada diri anda dan juga Alena. Lalu saya harus bagaimana?" ucap Rama dengan nada yang lebih rendah, membuat Errando yang mendengar perkataan dari Rama barusan tentu saja langsung menjadi marah.
"Setidaknya pikirkanlah sesuatu apapun itu, aku akan menunggu jawabannya!" ucap Errando dengan nada yang ketus.
Bersambung
__ADS_1