Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Mulai berubah


__ADS_3

"Kau kira anak adalah sebuah makanan yang bisa di buat dengan begitu mudah. Jika kamu tetap tidak ingin bertanggung jawab maka aku akan memilih jalan ku sendiri!" ucap Juwita dengan manik mata yang berair sambil memegang sebuah cutter di tangan kanannya.


Juwita tidak menginginkan hal ini terjadi namun keegoisan Alex yang terus saja membuat sebuah kedudukan menjadi alasan utama untuk menolaknya, membuat Juwita pada akhirnya berusaha menguatkan niatannya untuk mengambil resiko terbesar dalam hidupnya. Tadinya Juwita pikir Alex akan luluh jika ia mengatakan bahwa dirinya sedang hamil namun ternyata tanpa di duga Alex malah menyuruhnya untuk melakukan aborsi dengan nada yang seenteng itu.


Juwita yang pikirannya sedang kalut lantas dengan sengaja mengiris nadinya menggunakan cutter tersebut, membuat Alex yang menyaksikan hal tersebut tentu saja terkejut bukan main.


"Juwita!"


Hhhhhhhhhh


Deruan nafas yang berhembus dengan kasar terdengar menggema memenuhi ruangan kamar Alex, di mana ia terlihat terbangun dari tidurnya setelah sebelumnya bermimpi buruk tentang kejadian yang terjadi pada masa lalunya. Dengan gerakan yang kasar Alex mengusap dahinya yang basah karena terkena keringatnya.


Mimpi buruk itu kembali datang dan menyapa tidurnya. Kejadian di masa lalu yang sama sekali tidak ingin Alex ingat kembali menghampirinya, entah mengapa mimpi buruk tersebut terus saja muncul dan menggangu kehidupannya.


"Mengapa? Mengapa kejadian itu selalu saja mengusik tidur ku?" ucap Alex sambil bangkit dari tempat tidurnya menuju ke arah kamar mandi.


Ini seperti sudah menjadi kebiasaan lama bagi Alex dimana ketika ia terbangun tengah malam karena bermimpi buruk akan Juwita, Alex selalu saja pergi ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Entah mengapa cara itu selalu ampuh mengurangi rasa stresnya meski efek sampingnya ia akan terbangun dengan kepala yang pening di pagi harinya, namun Alex sama sekali tidak pernah mempermasalahkan hal itu.


**


Keesokan paginya

__ADS_1


Errando yang sudah berpakaian degan rapi dan siap untuk pergi ke kantor, terlihat melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga menuju ke arah meja makan untuk sarapan. Namun sayangnya sebuah pemandangan yang tidak biasa nampak terlihat di meja makan, di mana meja makan kali ini terlihat bersih tanpa makanan ataupun buah-buahan yang biasanya memenuhi area meja makan ketika tiba waktunya untuk makan.


Errando yang tak melihat makanan apapun tersaji di sana termasuk kopi miliknya lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung. Hingga tidak berapa lama dari arah dapur terlihat Alena tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan sambil membawa sepiring salad di tangannya, membuat Errando semakin bingung akan tingkah Alena.


"Apa dia sudah baikan? Mengapa lidah ku sangat keluh untuk sekedar menanyakan keadaannya saja?" ucap Errando dalam hati ketika melihat Alena mengambil duduk di meja makan dan mulai menikmati salad nya.


Alena benar-benar acuh dan sama sekali tidak menoleh ke arah Errando, yang lantas membuat suasana semakin canggung di antara keduanya.


"Apa Bik Surti tidak masak pagi ini? Kemana dia?" ucap Errando pada akhirnya karena ia sidah tidak tahan lagi.


Mendengar pertanyaan tersebut Alena lantas menghentikan gerakannya kemudian melirik sekilas ke arah Errando setelah itu kembali memakan salad nya kembali dengan santainya.


"Apa kau lupa atau pura-pura lupa jika Bik Surti baru datang bekerja pukul 8 pagi?" ucap Alena dengan nada yang terdengar santai.


"Lalu siapa yang selalu menyiapkan segalanya?" tanya Errando kemudian dengan raut wajah yang bingung sekaligus penasaran.


Alena yang kembali mendengar pertanyaan keluar dari mulut Errando, lantas mulai menghela nafasnya dengan panjang kemudian bangkit dari posisinya sambil membawa piring salad miliknya yang telah kosong dan tak tersisa.


"Jika kamu masih punya otak maka kamu masih bisa berpikir dengan cermat, bukankah begitu Er?" ucap Alena dengan nada yang datar kemudian berlalu pergi dari hadapan Errando.


Errando yang mendengar jawaban dari Alena barusan langsung terdiam seketika. Ini bahkan pertama kalinya Alena mengatakan kata-kata dingin ini kepadanya. Lalu, apa yang membuat Alena tiba-tiba merubah sikapnya seperti ini?

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" ucap Errando dalam hati bertanya-tanya akan perubahan sikap Alena sambil terus menatap ke arah punggung Alena yang kini sudah terlihat memasuki area dapur.


***


FN Company


Di area meeting room, terlihat beberapa manager pada masing masing bagian penting di Perusahaan nampak tengah meeting penting perihal perkembangan bulanan perusahaan yang dirangkap menjadi satu dengan laporan tahunan. Sebenarnya agenda kali ini di buat secara mendadak mengingat Errando yang baru satu bulan lebih menjabat sebagai CEO perusahaan ini, membuat Errando ingin mengetahui seperti apa perkembangan maupun penurunan profit perusahaan selama setahun belakangan ini, tepat ketika ia belum menduduki kursi CEO Perusahaan ini.


Beberapa manager nampak saling berdebat antara satu sama lainnya ketika profit yang mereka pegang dan laporkan memiliki selisih, yang membuat perdebatan kian memanas karena dari keduanya sama sekali tidak ada yang mau mengalah dan tetap kekeh bahwa laporan yang mereka buat masing-masing adalah benar.


"Bukankah profit antara laba dan juga rugi pada laporan anda terlalu tidak masuk akal pak Michel?" ucap Sisi dengan lantangnya yang tentu saja membuat Michel berwajah merah padam ketika mendengar ucapan dari Sisi lebih mengarah kepada tuduhan bahwa ia telah menggelapkan dana perusahaan.


"Anda jangan asal menuduh saya, jika memang laporan anda paling benar, tolong tunjukkan dari sumber mana saja pendapatan tersebut berasal, apakah anda bisa?" ucap Michel tidak mau kala hingga membuat suasana kian menegang dan tidak lagi terkondisikan karena suara gemuruh yang lainnya ketika mendengar perdebatan keduanya.


Disaat yang lainnya tengah sibuk berdebat masalah laporan keuangan, Errando malah tampak melamun dan sama sekali tidak mendengarkan perdebatan keduanya sedari tadi. Pikiran Errando benar-benar melayang dan memutar segalanya, ucapan dan juga sikap Alena yang mendadak berubah tentu saja membuat berbagai pertanyaan timbul di benaknya. Hingga kemudian Errando teringat akan kejadian semalam dimana Surti sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaannya ketika Errando bertanya tentang 'resep baru' karena rasa makanan yang tersaji tidak lagi sama seperti biasanya.


Errando agak sedikit ragu ketika sebuah pemikiran terlintas jelas di benaknya.


"Tidak mungkinkan jika selama ini yang mengurus segalanya adalah Alena?" ucap Errando dalam hati bertanya-tanya.


Brak...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2