
"Apa-apaan ini Al? Bukankah kita berdua sudah memutuskan untuk melangkah secara beriringan?" ucap Errando dengan nada suara yang tertahan.
Errando sungguh tidak habis pikir dengan keputusan mendadak yang dibuat oleh Alena saat ini, Errando bahkan masih ingat dengan jelas bagaimana Alena memintanya untuk berjalan dengan beriringan bersama dengannya melupakan masa lalu yang begitu perih di hati mereka masing-masing. Errando memijit pelipisnya dengan pelan yang saat ini terasa begitu berdenyut ketika menerima berkas perceraian dari Alena.
Alena yang mendapat pertanyaan dari Errando hanya bisa terdiam tanpa suara, Alena sendiri sebenarnya juga tidak menginginkan hal ini namun kenyataan lah yang menuntun Alena untuk mengambil jalan ini, suka atau tidak suka Alena harus terus melangkahkan kakinya ke depan.
Errando yang tak kunjung mendengar jawaban dari Alena lantas menggenggam dengan erat lengan Alena, membuat Alena langsung meringis menahan rasa sakit akibat cengkraman tangan Errando yang begitu kuat. Alena mencoba melepaskan genggaman tangan Errando sambil memasang wajah yang datar agar Errando tidak curiga kepadanya.
"Apa lagi yang ingin kamu ketahui Er? Bukankah berkas-berkas itu sudah menjelaskan semuanya?" ucap Alena dengan nada yang datar sambil mencoba untuk berbicara setenang mungkin.
Errando yang mendengar jawaban dari Alena barusan bukannya mengerti malah tambah semakin bingung lagi. Perkataan Alena saat ini sungguh berbanding terbalik dengan perkataan Alena yang biasanya, membuat Errando sedikit tersentak ketika mendengar jawaban dari Alena barusan.
"Bukankah kau mengatakan kalau kita akan melangkah bersama kemarin? Lalu apa yang membuat mu berubah secepat ini?" ucap Errando kembali bertanya seakan-akan ia masih tidak percaya akan keputusan Alena.
"Aku tipikal orang yang membalas perbuatan seseorang dengan apa yang aku terima, bukankah kau memperlakukan ku dengan buruk kemarin? Jadi aku membalas mu dengan hal yang sama Errando, bukankah kita berdua impas?" ucap Alena kemudian dengan pandangan mata yang kosong menatap ke arah samping kepala Errando karena jujur saja ia tidak sanggup untuk menatap kedua manik mata Errando.
"Apa-apaan kau?" pekik Errando dengan nada yang tertahan karena Errando bahkan sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
Alena yang mendengar perkataan Errando lantas tersenyum dengan sinis kemudian berbalik badan dan memunggungi Errando, diusapnya sudut mata Alena yang basah tanpa sepengetahuan Errando kemudian menarik nafasnya dalam-dalam.
"Kita sudahi saja permainan ini aku sudah benar-benar lelah, aku ingin mengakhirinya Er..." ucap Alena dengan nada yang lebih rendah.
__ADS_1
Errando yang mendengar ucapan Alena kembali tentu saja langsung emosi dan menarik tubuh Alena agar menatap ke arahnya.
"Akhiri yang bagaimana maksud mu? Kita berdua bahkan sudah tidur bersama dan kau bilang mengakhiri semuanya?" ucap Errando dengan nada yang kesal.
"Tidur bersama yang kau maksud adalah kewajiban ku sebagai seorang istri untuk melayani mu agar kelak aku sama sekali tidak berhutang apapun padamu. Jadi Er... Jangan terlalu kaku dan menganggap apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang spesial, bukankah kau dengan j**ang mu melakukan hal yang sama? Jadi anggap saja aku salah satu dari mereka." ucap Alena dengan nada yang enteng.
Setelah mengatakan hal tersebut Alena lantas melangkahkan kakinya pergi dari ruang keluarga meninggalkan Errando dengan keterkejutan yang luar biasa dibenaknya. Errando benar-benar masih belum percaya jika keadaan kini berbalik kepadanya dan melukainya hingga membuat Errando hancur berkeping-keping.
Ditatapnya punggung Alena yang kian terlihat menjauh dari hadapannya itu. Setelah punggung Alena tidak lagi terlihat di pandangannya, dengan amarah yang meluap-luap dan juga perasaan yang kesal, Errando menendang meja ruang keluarga dengan keras hingga beberapa hiasan yang berada diatasnya langsung jatuh dan berhamburan memenuhi lantai ruangan tersebut.
Saat ini Errando benar-benar telah kehabisan akal, bagaimana mungkin sikap Alena berubah dengan seketika seperti itu? Errando bahkan jelas-jelas masih melihat senyuman tulus Alena semalam, mengapa kini keadaan berbalik dan menyakitinya?
Sebuah panggilan yang berasal dari ponsel miliknya membuyarkan segala pemikiran yang ada di kepalnya. Mendengar suara ponselnya yang terus-terusan berbunyi, membuat Errando langsung mengangkatnya dengan kasar.
"Batalkan saja segalanya hari ini, aku sama sekali tidak mood untuk melakukan pertemuan saat ini!" ucap Errando dengan nada yang kesal dan juga tajam padahal Rama bahkan belum menjelaskan segalanya.
"Tapi tuan..." ucap Rama lagi ingin membantah namun sambungan telpon keburu terputus dan membuat Rama tidak lagi bisa mengelak.
Setelah memutuskan sambungan telponnya Errando, lantas melangkahkan kakinya dengan kesal keluar dari mansion menuju ke suatu tempat yang Errando sendiri tidak tahu akan pergi kemana dia disaat seperti ini. Namun yang jelas ia hanya ingin pergi dan keluar dari sini sekarang juga.
**
__ADS_1
Sementara itu Alena yang melihat kepergian Errando dari balkon kamar utama hanya bisa menatapnya dengan raut wajah yang penuh penyesalan. Alena benar-benar tak menginginkan semua ini terjadi tapi apa yang dilakukan oleh Alena sekarang sudah merupakan keputusan yang tepat untuk semua orang. Memang sudah seharusnya pernikahannya dengan Errando tidak pernah terjadi, jika Alena mengetahuinya dari awal Alena tentu tidak akan meneruskan semua ini hingga melebar dan menyakiti Errando.
Setelah melihat mobil Errando berlalu pergi dari sana, Alena lantas ikut melangkahkan kakinya keluar dari mansion. Hari ini Alena harus meluruskan segalanya tentang kematian Juwita, jika memang kakaknya yang melakukannya sudah seharusnya Alex bertanggung jawab dalam hal ini, bukan malah lari dan bersembunyi seperti ini. Benar-benar sangat memalukan.
"Kakak harus mempertanggung jawabkan segalanya." ucap Alena dalam hati sambil mulai memasuki mobilnya dan bergegas melajukannya menuju ke arah perusahaan Alex.
**
HR Company
Dari arah lobi terlihat Alena tengah melangkahkan kakinya memasuki area lobi menuju ke arah ruangan CEO dengan langkah kaki yang bergegas. Hanya saja ketika ia hendak memasuki lift sebuah panggilan dari suara yang tak asing lantas menghentikan langkah kakinya dan membuat Alena menatap ke arah sumber suara.
"Apakah nona ingin bertemu pak Alex?" tanya sebuah suara yang ternyata adalah Fatur.
"Iya" jawab Alena dengan singkat sambil memencet tombol pada lift agar terbuka.
"Pak Alex sedang ada rapat penting, jika nona mau menunggunya nona bisa menunggunya di atas." ucap Fatur dengan nada yang sopan.
"Aku tidak bisa menunggu lagi, apapun yang terjadi aku akan bertemu dengan kakak saat ini juga!" ucap Alena kemudian dengan nada yang ketus sambil masuk ke dalam lift yang sudah terbuka itu.
"Tapi nona.. Tunggu nona!" pekik Fatur namun sayangnya pintu lift sudah keburu tertutup dan membawa Alena naik ke atas.
__ADS_1
Bersambung