Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Bagus sekali


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan sebenarnya?" pekik Laura sambil berusaha menghentikan langkah kaki Steven saat ini.


Apa yang akan dilakukan Steven bisa saja membuat rencananya hancur berantakan. Laura bahkan tidak habis pikir mengapa Steven tiba-tiba berbalik arah seperti ini padahal ia sudah bahagia ketika mendengar berita dari Steven barusan.


Steven yang tangannya dicengkeram dengan erat oleh Laura lantas menghempaskan tangannya begitu saja dan mulai mengusap rambutnya dengan kasar ke arah belakang.


"Cobalah untuk mengerti jika semua yang kau lakukan itu tidaklah benar. Aku memang mencintai mu tapi jika untuk mendapatkan mu aku harus memisahkan rumah tangga orang lain, maaf aku tidak bisa." ucap Steven dengan nada yang frustasi di tengah hiruk-pikuk musik yang terdengar menggema di ruangan tersebut.


"Kau jangan gila Steve, kita bahkan sudah menjadi pemenangnya tapi kau malah ingin mundur saat ini juga, apa kau masih waras?" teriak Laura yang kesal akan sikap Steven yang berubah-ubah.


"Terserah kau mau berkata aku gila atau apa, yang jelas aku tidak bisa menjadi perusak Rumah tangga sahabat ku sendiri!" ucap Steven dengan kekeh tetap ingin meluruskan segalanya.


Laura yang melihat Steven kembali melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang lebar, lantas kembali berusaha mengejar langkah kaki Steven hingga keduanya sampai di parkiran Sky Holic.


"Jika kamu tetap melangkahkan kaki mu pergi, maka bersiaplah untuk kehilangan diriku!" pekik Laura kemudian.


Mendengar perkataan Laura barusan membuat Steven lantas menghentikan langkah kakinya. Steven benar-benar tidak tahu lagi harus menjelaskannya dengan cara seperti apa lagi kepada Laura agar ia mau mengerti posisinya saat ini. Steven mengusap rambutnya dengan kasar karena bingung harus bersikap bagaimana disaat-saat seperti ini. Hingga sebuah kata-kata Alena yang mengatakan kepada Steven untuk membuka matanya dan melihat siapa Laura yang sesungguhnya, membuat Steven lantas terdiam seketika.

__ADS_1


Apa yang dikatakan Alena bukan hanya sebuah bualan, jika memang Laura adalah perempuan baik-baik tentu Laura tidak akan pernah tega menghancurkan Rumah tangga seseorang hanya karena cintanya yang tak terbalaskan. Seorang wanita yang baik-baik tidak akan pernah mempunyai pemikiran agar Steven mau mendekati Alena dan menjeratnya untuk merusak hubungan diantara Errando dan juga Alena. Sebuah cinta yang didasarkan pada obsesi membuat Laura melakukan segala cara untuk membuat obsesinya menjadi tercapai.


Steven melirik sekilas ke arah Laura kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Laura, membuat Laura lantas tersenyum karena mengira bahwa Steven mau mengikuti perintahnya kembali. Padahal kembalinya Steven mendekat ke arahnya bukanlah untuk menuruti perintahnya malah sebaliknya. Seulas senyuman tipis terlukis samar di wajah Laura ketika melihat langkah kaki Steven kian mendekat ke arahnya. Hingga sebuah ucapan dari Steven yang terdengar mendadak membuat raut wajah Laura berubah seketika.


"Ternyata apa yang dikatakan Alena adalah kebenarannya, harusnya dari dulu aku membuka mata dan melihat lebih luas lagi, namun nyatanya cinta ku padamu menutupi segala keburukan mu. Jika memang kamu ingin mengancam ku untuk pergi, pergilah... Aku tidak akan menghalangi mu!" ucap Steven pada akhirnya.


Kini mata Steven benar-benar telah terbuka lebar, selama ini apa yang menurutnya baik belum tentu benar-benar yang terbaik. Dengan langkah kaki yang lebar Steven melepaskan segalanya. Kali ini ia tidak akan lagi terperdaya oleh jeratan Laura, meski Laura memohon dan mengiba padanya ia tidak akan pernah merubah keputusannya kali ini.


Laura yang melihat langkah kaki Steven kembali dan semakin menjauh lantas mengepal dengan tatapan yang penuh amarah. Lagi-lagi seseorang yang ia sayangi direnggut begitu saja oleh Alena. Ia benar-benar sendiri saat ini, Alena sudah merenggut dan membawa pergi orang-orang yang berada didekatnya satu-persatu.


"Alenaaaa kau benar-benar sesuatu, lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk membalas segalanya!" ucap Laura sambil menatap tajam ke arah kepergian Steven yang kian menjauh dari dirinya.


Kafe Kencana


Sepuluh menit berlalu namun Steven tak kunjung terlihat juga di sana, membuat Alena semakin kesal karena merasa bahwa dirinya telah dipermainkan oleh Steven kali ini. Sambil menatap ke arah sekitar mencoba untuk mencari keberadaan Steven sekali lagi, Alena kemudian bangkit dari kursinya dan bersiap untuk pergi. Hingga sebuah suara lantas menghentikan gerakan langkah kakinya yang hendak berlalu dari sana.


"Maaf aku terlambat" ucap sebuah suara yang berasal dari Steven dimana ia terlihat tengah melangkahkan kakinya dengan langkah yang tergesa menghampiri meja Alena.

__ADS_1


Melihat kedatangan Steven barusan membuat Alena lantas berdecak dengan kesal. Alena kini bahkan sudah terlanjur bete karena Steven yang datang terlambat dan membuatnya menunggu.


"Baiklah kita per singkat saja pembicaraan ini karena aku sudah terlanjur tidak mood membahas sesuatu sekarang." ucap Alena kemudian dengan nada bicara yang datar.


"Baiklah aku mengerti, tujuan ku meminta kita berdua untuk bertemu adalah... Aku ingin meminta mu membatalkan perceraian kalian berdua. Ini tidaklah benar Al, Errando benar-benar mencintaimu dan aku berani bersumpah akan hal tersebut. Aku yakin ada kesalahpahaman yang terjadi diantara kalian berdua." ucap Steven dengan nada yang memohon kepada Alena saat ini.


Mendengar perkataan Steven barusan lantas membuat raut wajah Alena berubah seketika. Tanpa Steven mengatakannya sekalipun Alena sudah tahu hal tersebut, hanya saja kenyataan bahwa kakaknya terlibat dalam kematian Juwita membuat Alena tidak berani untuk meneruskan pernikahan ini. Alena benar-benar takut bahwa kehadirannya akan menjadi bayang-bayang Errando untuk terus mengingat kematian tragis kakaknya.


Sedangkan Steven yang melihat Alena hanya diam lantas kembali menghela napasnya dengan panjang. Steven benar-benar tahu di hati Alena sebenarnya hanya ada nama Errando begitu pula sebaliknya. Namun sebuah keadaan yang memaksa keduanya untuk berpisah membuat jarak diantara Errando dan juga Alena kian membesar.


"Tak perlu khawatir Steve, semua yang terjadi antara aku dan juga Errando bukan karena dirimu. Antara kami berdua mempunyai permasalahan yang sulit sekali untuk kami selesaikan dan aku harap kamu tidak merasa bersalah lagi." ucap Alena pada akhirnya karena merasa tidak enak ketika Steven terus mengatakan ini semua karenanya.


Steven yang mendengar kata-kata dari Alena barusan tentu saja dibuat bingung, ia tidak mengerti apa yang tengah dimaksud oleh Alena saat ini. Tadinya Steven pikir perpisahan yang terjadi diantara Alena dan juga Errando terjadi karenanya, namun ternyata Steven salah.


"Jika bukan karena aku, lalu karena apa Al?" ucap Steven dengan raut wajah yang bertanya-tanya menatap ke arah Alena.


"Aku..." ucap Alena ragu-ragu, hingga kemudian sebuah suara yang tanpa diduga-duga mendadak terdengar menggema di telinga keduanya, yang lantas membuat Alena dan juga Steven menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Wah bagus sekali, tidak cukup bertemu di rumah kalian berdua juga bertemu di sini rupanya?"


Bersambung


__ADS_2