
Area meja makan
Setelah kepergian semua orang dari area meja makan, suasananya begitu hening dan terasa semakin menikam perasaan Alena saat ini. Niat hati Alena melangkahkan kakinya pulang ke rumah agar disambut dengan hangat dan dikuatkan dalam permasalahan yang saat ini sedang dialaminya. Namun ketika ia sampai di rumah dan menceritakan segalanya. Bukan sebuah rasa saling menguatkan yang ia rasakan melainkan perasaan saling melempar kesalahan yang tidak akan pernah ada ujungnya.
Alena mengusap air matanya yang mendadak merembes di sudut matanya, sambil menatap ke arah tangga lantai dua Alena mulai menghela napasnya dengan panjang. Sepertinya kali ini tidak akan ada seseorang yang benar-benar berada di pihaknya. Semua orang yang mendengarkan perkataannya tentang perceraian pasti akan langsung menyalahkannya dan menuduhnya yang macam-macam, membuat Alena tidak lagi percaya akan semua orang termasuk keluarganya sendiri. Nyatanya rumah yang harus menjadikannya tempat pulang dan mencurahkan segala keluh kesahnya kini terasa begitu dingin dan juga hampa.
Alena yang tak kunjung melihat seseorang turun menghampirinya, pada akhirnya lantas mulai bangkit dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya berlalu pergi dari rumah yang kini tak lagi bisa menampung keluh kesahnya. Sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan keluar dari kediaman Hermawan, Alena terlihat sesekali melirik ke arah belakang seakan berharap ada seseorang yang mengejarnya dan menghentikannya agar tidak berlalu pergi dan merasa kesepian seorang diri.
Namun sayangnya hingga langkah kakinya sampai di pintu utama tak ada seorang pun yang menghampiri Alena atau bahkan memanggil namanya sekali saja. Membuat raut wajah Alena lantas berubah dengan sendu sambil terus melangkahkan kakinya pergi dari rumah tersebut.
"Ternyata aku memang tidak pernah diharapkan dalam kehidupan mereka. Entah itu Errando, Papa, Mama dan juga kak Alex... Mereka semua sama sekali tak menganggap ku ada ataupun menyayangiku." ucap Alena dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari pintu utama.
**
Sementara itu di kediaman Hermawan tepatnya di kamar utama, Tika yang sedari tadi mendengarkan segala kenangan masa lalu yang dimiliki oleh Alex putranya, lantas terlihat terdiam membeku. Tika benar-benar tidak menyangka bahwa segalanya memiliki hubungan saling tarik menarik antara kematian Juwita, Alex, pernikahan Errando juga Alena dan sekarang perpisahan antara Errando dan Alena. Semua benar-benar terhubung bagai sebuah aliran listrik pararel dimana ketika salah satu dari aliran listrik tersebut mati maka semua sambungannya juga akan ikut mati.
__ADS_1
Hal itulah yang saat ini dirasakan oleh keempatnya, ketika sakit hati dari seorang adik akibat kematian kakaknya kini berimbas pada orang lain yang terhubung dalam lingkup aliran listrik tersebut. Mulut Tika benar-benar terdiam tak bisa berkata apa-apa lagi, Tika bahkan kini tidak tahu keputusan apa yang akan ia ambil untuk permasalah pelik yang terjadi antara Alex dan juga Alena.
Ditatapnya raut wajah Alex yang terlihat begitu sendu dan juga menyesal tersebut. Putranya bukanlah pembunuh dan Tika percaya itu, hanya saja perkataan Alex yang langsung keluar begitu saja tanpa pernah dipikirkan secara jangka panjangnya, membuatnya terjerat dalam lubang penyesalan karena secara tidak langsung mengarahkan Juwita pada lubang kematian akibat perkataan Alex yang tanpa di dasari dengan pemikiran yang matang.
Tika nampak menghela napasnya dengan panjang kemudian mengusap pundak putranya dengan lembut. Tika tahu Alex kini pasti tengah bingung karena di satu sisi ia tidak ingin kerja kerasnya terbuang percuma namun disisi yang lainnya, Alex sama sekali tidak ingin mengorbankan kebahagiaan adiknya itu.
"Tenanglah Lex, kita cari solusinya sama-sama oke... Mama yakin Papa juga akan mengerti jika kita menjelaskannya kepada Papa secara bersama-sama." ucap Tika mencoba menenangkan Alex agar tidak terlalu larut dan menyalahkan dirinya sendiri seperti ini.
Mendengar perkataan Ibunya barusan membuat Alex langsung mengangguk tanda mengerti. Alex yakin ketika ia menceritakannya dengan perlahan kepada Tika, Tika akan mengerti dan mencoba untuk membantunya keluar dari permasalahan ini bersama-sama. Setelah memastikan bahwa Alex sedikit lebih tenang, Tika kemudian lantas mengajak Alex bangkit dan menyusul Alena di bawah. Tika yakin putrinya itu pasti tengah sedih saat ini karena berpikir tidak ada seseorang pun yang memihak dan mendengarkan ceritanya saat ini.
Dengan langkah yang perlahan keduanya lantas mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar utama menuju ke arah area meja makan. Namun sayangnya ketika mereka berdua sampai di sana, area meja makan benar-benar kosong dan tidak ada siapapun di sana. Membuat Alex dan juga Tika yang melihat pemandangan tersebut lantas langsung saling pandang satu sama lainnya, seakan bertanya dimana Alena saat ini.
Kediaman Errando
Dari arah parkiran terlihat Alena terdiam sambil termenung di dalam mobilnya selama beberapa menit. Alena nampak mulai mengatur perasaannya yang begitu kacau hari ini, sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar Alena mencoba untuk mengulum senyum di bibirnya sambil melangkahkan kakinya keluar dari mobilnya dan bersiap masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Aku sudah siap huft..." ucap Alena mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan memasuki area mansion, Alena mulai membawa langkah kakinya menyusuri area ruang utama yang terlihat begitu gelap kala itu karena memang lampu ruangan tersebut sudah dimatikan. Sambil menghela napasnya dengan panjang Alena terus melangkahkan kakinya hendak menuju ke arah kamar utama dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu lelah setelah melewati hari yang panjang hari ini. Namun ketika langkah kaki Alena hampir menaiki anak tangga menuju ke arah lantai dua, langkah kaki Alena lantas terhenti seketika disaat mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya.
"Ah aku kira kau lupa jalan pulang mangkanya sedari tadi sama sekali tidak terlihat dimanapun." ucap sebuah suara yang lantas membuat Alena langsung mendongak menatap ke arah sumber suara.
Alena yang melihat Errando menuruni satu-persatu anak tangga lantas langsung menelan salivanya dengan kasar ketika melihat bayangan Errando ditengah gelapnya ruangan tersebut terlihat begitu menakutkan bagi Alena.
"Aku hanya ingin pulang ke rumah sebentar tadi." ucap Alena menjelaskan kepada Errando setidaknya Alena harus menjelaskan kemana ia pergi walau hubungan keduanya tidak lagi akur.
"Tak tak tak"
Suara langkah kaki Errando yang beradu dengan lantai keramik saat itu terdengar begitu nyaring namun entah mengapa terasa begitu kosong bagi Alena, membuat Alena hanya bisa terdiam ditempatnya sambil terus menatap ke arah langkah kaki Errando yang semakin terlihat mendekat ke arahnya.
"Cih... Apakah rumah yang kau maksud benar-benar rumah mu?" ucap Errando dengan nada yang menyindir.
__ADS_1
"Maksud mu?"
Bersambung