
"Apa Papa Errando adalah Papa kandung Aksa?" ucap Aksa dengan raut wajah yang polos namun berhasil membuat Alena terkejut akan pertanyaan tersebut.
Alena benar-benar tidak menyangka jika Aksa akan langsung cepat tanggap ketika ia mengatakan hal tersebut. Tadinya bahkan Alena sempat bingung bagaimana menjelaskan hubungan yang terjalin diantara keduanya.
"Bagaimana Aksa bisa secerdas itu sih?" ucap Alena dalam hati.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Alena dengan raut wajah yang penasaran.
"Teman-teman ku di desa mengatakan jika aku dan Daddy tidaklah mirip, namun ketika aku sampai ke kota dan di kejar penjahat kemarin aku mendengar paman yang menolong ku mengatakan jika wajah ku mirip dengan Papa Errando. Apakah aku salah Mommy?" ucap Aksa menjelaskan segalanya.
Diusapnya secara lembut rambut Aksa kemudian tersenyum.
"Tidak salah nak, Mommy memang ingin mengatakan hal tersebut kepadamu hanya saja Mommy belum sempat untuk menjelaskannya, apa kamu marah pada Mommy karena sudah berbohong?" ucap Alena kemudian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Aksa.
"Tidak Mommy, Aksa malah senang karena ternyata Aksa punya dua Ayah yang sangat tampan." ucapnya dengan senyuman yang polos.
"Dasar anak nakal" ucap Alena kemudian sambil tersenyum simpul.
Ketika Aksa dan juga Alena sedang berbicara mengenai Errando dan Riki, sebuah panggilan yang begitu lirih lantas terdengar dan membuat Alena terkejut dengan seketika.
"Al.."
"Om Arga..." pekik Alena kemudian sambil menarik Aksa agar ikut mendekat ke arah Arga.
Alena yang melihat Arga membuka matanya tentu saja bahagia bukan main. Digendongnya Aksa dengan spontan agar Aksa juga bisa melihat Arga yang saat ini sudah membuka matanya dengan lebar.
"Om Arga baik-baik saja? Mau Alena panggilkan dokter?" ucap Alena yang lantas di balas anggukan secara perlahan oleh Arga.
Dari balik masker oksigen yang saat ini terpasang pada hidung dan mulutnya, terlihat senyuman tipis dari Arga membuat Alena lantas langsung mendudukkan Aksa di ranjang pasien agar Arga bisa melihat Aksa dengan lebih jelas.
__ADS_1
"Apa Oppa baik-baik saja? Mau Aksa ceritakan sebuah dongeng agar Oppa cepat sembuh? Mommy dan Daddy biasanya selalu membacakan dongeng untuk ku ketika aku sedang sakit." ucap Aksa dengan nada khas anak kecil.
"An..nak yang manis." ucap Arga dengan nada yang lirih.
"Tak perlu banyak bicara Om, aku akan memanggil dokter agar segera memeriksa keadaan Om, Errando dan Tante pasti akan sangat senang ketika melihat Om sudah siuman." ucap Alena yang terlihat hendak berlalu pergi.
"Ti..dak perlu Al, Om ingin ber..bicara dengan mu..." ucap Arga kemudian menolak.
Alena yang mendengar perkataan Arga barusan, lantas kembali mendekat ke arah Arga dan menatapnya dengan tatapan yang intens.
"Maafkan Om.. Kamu adalah gadis yang baik, Om sudah tahu segalanya... Kematian Juwita bu..kanlah kesalahan mu melainkan takdir dari Sang Pencipta. Om minta maaf karena Er... hh Errando pasti sudah menyusahkan mu, bukan?" ucap Arga dengan napas yang terengah-engah membuat Alena tidak tega ketika melihatnya.
"Jangan banyak bicara Om, nanti saja kita bicara lagi ya Om..." ucap Alena sambil mengusap lembut lengan Arga, namun Arga malah menggeleng dengan perlahan.
"Waktu Om tidaklah ba...nyak, yang Om minta hanyalah satu.. Kem..balilah bersama dengan Errando, Errando dan juga Silvi lebih membutuhkan mu ketimbang Om..." ucap Arga dengan mulut terbuka seakan sedang berusaha mengatur napasnya.
Tepat setelah mengatakan hal tersebut suara elktrodiagram yang tiba-tiba naik lantas membuat Alena terkejut dengan seketika. Arga benar-benar kesulitan dalam bernapas dan terus menggeliat seakan seperti sedang menahan rasa sakit di area dadanya. Alena yang melihat hal tersebut tentu saja langsung panik dan berlarian keluar memanggil dokter, membuat Silvi dan juga Errando yang tengah menunggu di luar ikut panik dan langsung menghampiri Alena.
"Om Arga... Om Arga..." ucap Alena namun terpotong.
Beberapa dokter dan juga perawat nampak berdatangan dan langsung memasuki ruangan ICU untuk memberikan pertolongan kepada Arga, yang lantas membuat pembicaraan keduanya terhenti.
Salah seorang perawat nampak keluar sambil menggendong tubuh Aksa kecil.
"Mommy" panggil Aksa kemudian.
Alena yang mendengar panggilan tersebut tentu saja terkejut dan langsung mengambil alih Aksa. Alena bahkan sampai melupakan jika Aksa masih ada di dalam sana.
"Kamu duduklah sebentar di sini ya, jangan kemana-mana..." ucap Alena kemudian sambil meletakkan Aksa di kursi panjang kemudian kembali menghampiri Errando.
__ADS_1
**
"Apa yang terjadi sebenarnya Al?" tanya Errando kemudian dengan raut wajah yang khawatir.
"Aku juga tidak tahu, Om Arga hanya terbangun dan mengatakan jika Aksa anak yang manis setelah itu Om Arga mengatakan jika waktunya tidak banyak dan .... Dan..." ucap Alena dengan raut wajah yang bingung.
"Dan.. Dan apa Al?" tanya Errando yang tak sabar menunggu perkataan dari Alena.
Cklek...
Suara pintu ruang ICU yang terbuka dengan lebar lantas menghentikan pembicaraan keduanya dan langsung membuat Alena, Errando dan juga Silvi menoleh ke arah sumber suara.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?" ucap Silvi kemudian seakan tak sabar menanti kabar dari dokter.
"Kami sudah berusaha menolong pak Arga semampu kami, dengan berat hati saya menyampaikan jika pak Arga telah tiada." ucap dokter tersebut.
Semua orang yang ada di sana tentu saja langsung terkejut dengan seketika. Tubuh Silvi luruh ke lantai begitu mendengar ucapan dari dokter tersebut. Errando terdiam di tempatnya seakan seperti tak percaya jika Ayahnya benar-benar telah tiada.
Dipeluknya dengan erat tubuh Silvi yang saat ini tengah rapuh oleh Alena. Alena tahu Silvi pasti sangat terpukul sekali menerima kenyataan ini.
"Papa..." ucap Silvi dengan tangis tersedu-sedu membuat Alena semakin mengeratkan pelukannya berusaha untuk menenangkan Silvi saat ini.
Sementara itu Errando yang juga terkejut akan informasi ini, lantas terlihat melangkahkan kakinya mundur beberapa kali dan terhenti ketika langkah kakinya membentur tembok lorong rumah sakit. Tubuhnya luruh begitu saja di lantai, membuat Errando lantas mengusap raut wajahnya dengan kasar. Disaat perasaan hancur menyelimuti hatinya sebuah tangan mungil dan hangat terasa melingkar di lehernya, membuat Errando langsung mendongakkan kepalanya dengan seketika.
"Papa jangan menangis ada Aksa di sana, tadi Oppa mengatakan kepada Aksa untuk menjaga Papa dan juga Oma." ucap Aksa dengan nada bicara yang polos membuat Errando langsung memeluk tubuh kecil Aksa dan menangis dengan tersedu di sana.
***
Sedangkan tanpa mereka semua sadari, Riki yang sedari tadi melihat kesedihan yang tergambar jelas di raut wajah ketiganya lantas terdiam mematung di tempatnya.
__ADS_1
"Aku sudah membuat keputusan ku." ucap Riki sambil menatap lurus ke arah Alena dan juga Aksa yang tengah berjuang menguatkan Silvi dan Errando.
Bersambung