Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Sebuah rasa yang tak seharusnya ada


__ADS_3

Setelah mendapat nasihat yang aneh dari Tika tadi di bawah, lantas membuat Riki saat ini tengah berada di dalam kamar Alena. Ada sebuah perasaan berdebar dalam jantungnya ketika ia memasuki kamar Alena seperti ini, membuat Riki hanya bisa duduk di tepi kasur sambil menunduk dengan malu layaknya seorang pengantin baru.


"Mengapa mendadak aku menjadi berdebar seperti ini?" ucap Riki dalam hati bertanya-tanya apa yang sedang terjadi padanya saat ini.


Ketika Riki tengah di landa perasaan yang gugup sebuah suara pintu kamar mandi yang terbuka dengan lebar, membuat Riki yang semula menunduk langsung terkejut seketika dan dengan spontan berusaha untuk menutup matanya karena mengira Alena saat ini sedang dalam keadaan tanpa sehelai benang apapun atau bahkan hanya memakai handuk mini saja.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Alena dengan raut wajah yang bingung ketika melihat respon dari Riki barusan yang terkesan secara mendadak dan juga aneh.


Riki yang mendengar nada suara santai Alena lantas sedikit kebingungan kemudian perlahan-lahan mulai mengintip untuk melihat apakah Alena memakai pakaian yang lengkap atau tidak. Sayangnya apa yang ada dipikiran Riki dari awal nyatanya tidaklah seperti itu, ketika Riki mencoba mengintip Alena yang terlihat pertama kali olehnya adalah Alena yang sudah berpakaian piyama tidur lengkap namun dengan rambut yang basah, membuat Riki langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu mengira bahwa Alena sedang bertelanjang bulat tadi ketika ia baru keluar dari kamar mandi.


Alena yang melihat ekspresi aneh yang di tunjukkan oleh Riki lantas langsung menatapnya dengan tatapan yang tajam karena Alena tahu dengan betul apa yang saat ini tengah ada di kepalanya.


"Jangan bilang kamu mengira aku tidak memakai baju tadi ya? Hayo ngaku..." ucap Alena sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Riki membuat Riki menjadi terpojok karena langkah kaki Alena yang kian maju dan mendekat ke arahnya.


"Bu...bukan begitu Nona, anda salah paham saya hanya...." ucap Riki kemudian mencoba untuk menjelaskan segalanya kepada Alena.


Sedangkan Alena yang mendengar penjelasan a i u e o dari Riki malah semakin menguatkan dugaannya. Sambil melempar handuknya begitu saja Alena mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Riki sambil berusaha memukul lengan pria itu karena kesal akan isi kepala Riki yang mesum tersebut.


"Dasar pria mesum kamu ya.... Bisa-bisanya kamu malah berpikir yang tidak-tidak tentang ku.... Benar-benar menyebalkan!" ucap Alena sambil memukuli Riki dengan membabi buta secara berulang kali.

__ADS_1


"Ampun Nona ampun... Maafkan saya...." ucap Riki kemudian mengatakannya dengan berulang kali mencoba untuk memohon ampunan kepada Alena.


Hanya saja Alena yang keburu kesal sama sekali tidak memperdulikan teriakan dari Riki, hingga ketika pukulannya meleset tepat ketika Riki mencoba menghindar, Alena malah terhuyung dan hendak jatuh sampai pada akhirnya Riki yang melihat hal tersebut berusaha untuk menarik Alena. Namun bukannya tertolong keduanya malah jatuh dalam posisi saling menindih di atas ranjang milik Alena dengan posisi Alena di bagian atas sedangkan Riki di bagian bawah.


Bruk..


Keduanya nampak terdiam membeku selama beberapa detik karena terkejut dengan apa yang baru sajan terjadi. Pertemuan manik mata keduanya yang tanpa sengaja membangkitkan sesuatu di dalam diri Riki yang tidak seharunya ia miliki saat ini. Alena yang sadar bahwa posisi keduanya kali ini adalah salah lantas dengan perlahan berusaha bangkit dari posisinya sambil mencoba mencairkan suasana yang terasa begitu canggung saat ini.


"Jangan pernah berpikir yang macam-macam Riki, lagi pula tidak mungkin aku keluar tanpa memakai baju sama sekali, dasar!" ucap Alena mencoba untuk mencairkan suasana.


Membuat Riki yang mendengar hal tersebut lantas langsung bangkit dari posisinya sambil membenarkan bajunya yang sedikit berantakan.


Setelah kejadian tersebut keduanya lantas kembali terdiam di dalam keheningan, membuat Alena yang tidak biasa dalam hal ini lantas menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Baiklah karena kita sama sekali tidak ada pilihan lain jadi mari kita berbicara. Aku tidak terlalu yakin apakah kamu akan setuju atau tidak akan hal ini, hanya saja bagaimana pendapat mu tentang tidur di sofa?" ucap Alena kemudian yang lantas membuat Riki dengan spontan langsung menoleh ke arahnya dengan seketika.


Riki terdiam sejenak mendengar perkataan dari Alena barusan, lagi pula apa yang ia harapkan dari pernikahan yang pura-pura ini? Tidur satu ranjang dengan Alena? Atau bahkan berharap Alena benar-benar jatuh hati kepadanya? Jangan pernah berharap karena itu pasti akan membuat Riki sakit hati ketika mengetahui kebenarannya.


"Apa yang kamu harapkan Riki? Kau dan Errando benar-benar jauh berbeda, sungguh tidak mungkin jika non Alena mendadak jatuh hati kepada mu. Ayolah jangan menghayal terlalu tinggi!" ucap Riki dalam hati sambil menatap ke arah manik mata Alena yang begitu cantik menurutnya.

__ADS_1


"Tak perlu mengkhawatirkan aku Nona, di lantai pun aku juga bisa tidur dengan nyenyak." ucap Riki dengan nada yang merendah namun malah membuat Alena simpati akan ketulusan Riki.


"Jangan di lantai kamu bisa sakit nantinya, kamu tidur saja di sofa nanti biar aku pikirkan lagi cara untuk menyelesaikan masalah ini." ucap Alen dengan nada yang merasa bersalah kepada Riki.


"Terima kasih banyak Nona." ucap Riki sambil memberi sedikit hormat kepada Alena karena sudah baik kepadanya.


***


Keesokan harinya di taman


Dari dalam mobilnya, Errando terlihat memasang raut wajah yang kesal karena pagi-pagi buta Steven sudah mengusik tidurnya dan menyuruhnya datang ke taman kota padahal hari ini adalah weekend yang tentu saja membuat Errando begitu malas untuk sekedar keluar berolahraga seperti ini di cuaca yang begitu terik pagi ini.


"Cih alat fitnes di mansion bahkan lebih lengkap dari yang ada di taman tapi si Steven tetap saja memaksa ku untuk datang ke sini, benar-benar menyebalkan." ucap Errando dengan nada yang kesal.


Dengan raut wajah yang masam, Errando yang baru saja memarkirkan mobilnya lantas bersiap untuk membuka pintu mobilnya tanpa memastikan dahulu posisinya saat ini. Membuat seorang anak kecil yang tadinya sedang asyik berlarian hendak menerobos ke arah parkiran mobil, begitu pintu mobil Errando terbuka tentu saja langsung membuat anak kecil tersebut terjatuh dengan seketika dan mengejutkan Errando yang hendak turun dari mobilnya.


Brukkk...


"Ah sial!" gerutu Errando yang mengetahui jika ada sesuatu yang baru saja menabrak pintu mobilnya dan jatuh dengan suara cukup keras ke bawah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2