
Hermawan yang sudah begitu kesal dengan tingkah putrinya yang semena-mena itu tanpa mempertimbangkan lebih dahulu tentang keputusan yang ia buat, lantas melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas mendekat ke arah Alena. Hermawan yang sudah diliputi emosi yang meninggi, tanpa sadar tangannya diangkat ke atas dan hendak berusaha untuk memukul putrinya itu. Namun siapa sangka sebuah tangan yang kokoh tiba-tiba menahan tangannya yang hampir saja mendarat di pipi Alena kala itu.
Hermawan yang tangannya ditahan oleh seseorang, lantas mengikuti arah tangan tersebut dan melihat siapa pemilik tangan tersebut yang ternyata adalah putranya sendiri yaitu Alex. Alex yang tadinya datang ke mansion karena merindukan masakan Ibunya, begitu melihat pemandangan yang tak mengenakan seperti ini. Membuat Alex yang tidak suka akan tingkah Ayahnya yang hendak memukul Alena, lantas terlihat menatap tajam ke arah Ayahnya itu. Membuat Hermawan kian menjadi kesal akan tingkah laku putra dan putrinya yang membuat kepalanya hampir meledak.
"Kau jangan ikut campur Lex!" ucap Hermawan dengan nada yang kesal namun Alex sama sekali tidak mengindahkan ucapan Ayahnya dan tetap memegang tangan Ayahnya dengan erat.
"Semuanya bisa dibicarakan baik-baik Pa, lagi pula bukankah tingkah laku Papa ini sama sekali tidak patut untuk dicontoh?" ucap Alex kemudian sambil perlahan-lahan menurunkan tangan Hermawan.
Hermawan yang mendengar ucapan Alex barusan tentu saja langsung terdiam seketika, apa yang dikatakan Alex ada benarnya juga. Sepertinya tadi Hermawan terlalu terbawa emosi hingga tanpa sadar hendak memukul putrinya, sedangkan Alena yang memang merasa bersalah sedari tadi hanya bisa menunduk dengan terdiam tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat Ayahnya yang begitu marah setelah mendengar keputusannya tersebut. Alena kini bahkan tidak tahu lagi harus berbuat apa disaat-saat seperti ini.
"Tidak ada lagi pembicaraan baik-baik, jika anak itu masih tetap menginginkan perceraiannya berlangsung. Maka jangan pernah injakkan kakinya sekalipun di rumah ini" ucap Hermawan dengan nada yang mengancam ke arah Alena, sedangkan Alena yang mendengar hal itu semakin menundukkan kepalanya tidak berani mengangkat sedikitpun kepalanya untuk menatap Ayahnya saat ini.
Setelah mengatakan hal tersebut Hermawan lantas melangkahkan kakinya pergi meninggalkan area meja makan. Nafsu makan Hermawan kali ini benar-benar sudah menghilang ketika mendengar perkataan Alena yang menginginkan perceraian, padahal jelas-jelas hubungan keduanya baik-baik saja tanpa ada masalah apapun yang mendasari perceraian itu berlangsung. Membuat Hermawan semakin geram mengingat kerjasama yang terjalin antara keluarga besar Hermawan dengan keluarga besar Valentino, bukanlah sesuatu yang main-main. Hermawan takut jika perceraian sampai terjadi diantara keduanya, maka keluarga Valentino akan menarik segala kerjasamanya.
"Ah benar-benar sialan!" ucap Hermawan sambil terus melangkahkan kakinya meninggalkan area meja makan.
__ADS_1
**
Setelah kepergian Hermawan dari area meja makan, suasana di meja makan mendadak menjadi hening. Baik Tika, Alex maupun Alena tidak ada satupun yang mengeluarkan suara apapun di sana. Diliriknya putrinya itu dengan tatapan yang menerka-nerka hingga kemudian helaan napas panjang lantas terdengar berhembus dari mulut Tika, membuat Alex dan juga Alena dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.
"Jadi sekarang siapa yang akan menjelaskan? Kamu Al atau kamu Lex? Mama tahu kalian berdua punya alasannya hanya saja ini sudah keterlaluan. Sekarang berikan Mama alasan yang bisa membuat Mama mengerti dengan permasalahan Alena." ucap Tika dengan tatapan yang tajam ke arah Alex dan juga Alena.
Alena yang mendapat pertanyaan tersebut, tentu saja langsung terdiam dan kembali menunduk. Dimainkannya jari-jari tangan Alena dengan pelan, membuat Tika yang melihat hal itu lantas langsung mengernyit seketika. Apa yang dilakukan oleh Alena saat ini adalah kebiasaan buruk yang dilakukan Alena sedari dulu, dimana ketika ia gugup atau merasa bersalah akan sesuatu hal maka Alena akan menunduk dan memainkan jari-jari tangannya. Tika tentu tahu jika sudah seperti itu, Alena tidak akan menjelaskan permasalahan apa yang tengah dihadapinya. Membuat Tika lantas langsung melirik ke arah Alex seakan tengah meminta penjelasan kepadanya saat ini.
"Sebenarnya Alex..." ucap Alex hendak menjelaskan namun terpotong dengan suara Alena yang tiba-tiba mengatakan hal yang tidak masuk akal dan membuat Tika dan juga Alex terkejut ketika mendengarnya.
"Apa kau sudah gila ha? Mama benar-benar kecewa padamu Al..." ucap Tika dengan manik mata membulat seakan masih tidak percaya akan ucapan putrinya barusan.
Tika yang sudah tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada putrinya itu, lantas detik itu juga langsung meninggalkan area meja makan dan berlalu pergi dari sana. Sedangkan Alex yang melihat kepergian ibunya itu lantas bingung harus mengejar ibunya atau meminta penjelasan terlebih dulu kepada Alena.
"Ini tidaklah benar Al, jika kau memang ingin menutupi kesalahan kakak... Bukan begini caranya! Jika kau melakukan ini sama hal nya dengan melukai dirimu sendiri dan tentu saja hal itu melukai harga diriku sebagai seorang kakak yang tidak bisa menjaga dirimu dan mengorbankan mu dalam masalah ku!" ucap Alex dengan nada yang lembut namun entah mengapa terdengar begitu menyakitkan di telinga Alena saat ini.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut kepada Alena, Alex kemudian lantas berlalu pergi dan meninggalkan Alena di area meja makan untuk mengejar Ibunya dan memberikan penjelasan akan semua permasalahan ini. Dan kini tinggallah Alena seorang diri di sana. Tidak akan ada seorang pun yang mau berdiri disisinya termasuk kedua orang tuanya maupun kakaknya sendiri.
"Apakah keputusan yang aku ambil adalah jalan yang salah? Aku bahkan sudah mempertimbangkan segalanya terlebih dahulu." ucap Alena dengan nada yang sendu sambil menatap ke arah tangga lantai dua yang terlihat begitu kosong seperti tak berpenghuni.
***
Sementara itu di kediaman Errando, terlihat Errando tengah melangkahkan kakinya memasuki area mansionnya. Ditatapnya area sekeliling yang kala itu terlihat gelap gulita seperti tanpa berpenghuni sama sekali hanya beberapa ruangan saja yang terlihat terang, membuat Errando mengernyit dan seakan bertanya-tanya di mana keberadaan Alena saat ini. Pandangan Errando kemudian terhenti pada area dapur dimana terlihat Surti tengah duduk sambil termenung seperti tengah menanti sesuatu di sana.
"Belum pulang Bi?" tanya Errando ketika melihat Surti yang masih ada di rumahnya sampai larut malam seperti ini.
Surti yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung mendongak ke arah sumber suara, seulas senyum nampak terbit dari wajah Surti ketika melihat Errando tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya saat ini.
"Belum tuan, saya tengah menanti kedatangan anda dan juga nona. Jika salah satu dari tuan muda atau nona belum datang tentu saya tidak akan berani untuk pulang." ucap Surti yang tentu saja langsung terkejut seketika disaat mendengar Alena yang ternyata belum pulang juga.
"Alena belum pulang?"
__ADS_1
Bersambung