
Ruangan kerja Errando
Di ruangan tersebut terlihat Errando tengah memperhatikan satu persatu dokumen yang diberikan oleh Rama tentang Riki suami baru Alena. Ada beberapa hal yang membuat Errando tidak mengerti akan data yang diberikan oleh Rama tentang pernikahan keduanya. Rama yang tahu tuannya mencium sesuatu yang mencurigakan, lantas kembali memberikan sebuah foto yang mungkin akan mengejutkan Errando ketika melihatnya.
"Apa ini?" tanya Errando kemudian ketika melihat foto masa kecilnya disandingkan dalam satu layar.
"Disebelah kanan adalah foto anda tuan sedangkan di sebelah kiri adalah foto Aksa putra Alena. Bukankah keduanya mempunyai kemiripan tuan? Tidakkah anda mencurigai sesuatu akan kemiripan yang terlalu kebetulan ini tuan?" ucap Rama kemudian yang semakin membuat Errando berpikir yang tidak-tidak setelah mendengar perkataan dari Rama barusan.
Errando menatap dengan tatapan yang menelisik mencoba memperhatikan dengan seksama antara fotonya dengan foto milik Aksa. Benar-benar terlihat begitu mirip meski di lihat dari sudut pandang manapun, hanya di bagian mata saja yang nampak berbeda dan lebih cenderung kepada Alena, selebihnya benar-benar mirip dan hampir tak bisa dibedakan.
"Apa jangan-jangan... Tapi itu tidak mungkin, kita berdua hanya melakukannya selama beberapa kali saja lagi pula itu pun atas dasar hasrat antara satu sama lain, bagaimana mungkin bisa terjadi?" ucap Errando dengan tatapan yang bingung.
Sedangkan Rama yang mendengar perkataan dari Errando yang keceplosan, lantas membuatnya sedikit mengernyit ketika mendengar perkataan polos Errando tentang hubungannya dengan Alena dahulu.
"Masih ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan kepada anda tuan." ucap Rama kemudian sambil menyerahkan sebuah selembaran kepada Errando.
Errando yang mendapat selembaran kertas seperti akta surat nikah lantas menatap dengan tatapan tidak mengerti di sana, membuat Rama kemudian kembali menjelaskan tentang maksudnya memberikan selembaran itu kepada Errando.
__ADS_1
"Ada yang aneh dari akta nikah ini tuan, setelah saya selidiki baik Alena maupun Riki tidak pernah melakukan pemberkatan di manapun, keduanya malah langsung membuat sebuah akta nikah tepat setelah satu bulan dari kecelakaan pesawat kala itu, bukankah ini sangat aneh tuan? Jika hanya sebuah akta nikah saja yang keduanya miliki itu tidak bisa menjadikan bukti yang kuat bagi keduanya, seolah-olah baik Alena maupun Riki memang sengaja melakukan hal tersebut untuk mengecoh orang lain terhadap status pernikahannya." ucap Rama menjelaskan segala kemungkinannya.
Errando yang mendengar perkataan dari Rama barusan tentu saja semakin di buat kepikiran perihal tentang pernikahan Alena dan Riki juga Aksa yang begitu mirip dengannya. Apapun itu semua nampak terasa aneh bagi Errando, membuat kepala Errando terasa begitu pening ketika semua kemungkinan yang bisa terjadi kini berputar memenuhi kepalanya. Tidak ada yang tidak mungkin mengingat semua clue menuju ke arah yang bagi Errando tidak mungkin namun bisa saja terjadi.
"Ada apa sebenarnya yang terjadi selama 6 tahun belakangan ini?" ucap Errando dalam hati bertanya-tanya pada diri sendiri.
**
Kamar Aksa
Alena menghembuskan napasnya dengan kasar sambil melirik sekilas ke arah Aksa yang saat ini sudah tertidur dengan lelapnya, membuat Alena lantas menatapnya dengan tatapan yang sendu. Hingga kemudian sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas terdengar menyapa telinganya, membuat Alena dengan spontan langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Kamu disini rupanya, aku sudah mencari mu sedari tadi." ucap Riki yang saat ini terlihat melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Aksa dan mendekat ke arah Alena.
Alena yang mengetahui Riki mencarinya sedari tadi lantas menatapnya dengan tatapan yang mengernyit sekaligus bertanya-tanya akan alasan Riki mencari keberadaannya sedari tadi.
"Apakah ada sesuatu yang kau butuhkan?" tanya Alena kemudian namun Riki lantas menggeleng dengan seketika begitu mendengar pertanyaan dari Alena barusan, membuat Alena yang melihat respon Riki yang seperti itu lantas menatap ke arah Riki dengan tatapan yang bingung.
__ADS_1
"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana Nona, hanya saja jika saya ikut bergabung dalam perusahaan keluarga anda rasanya itu sungguh tidak pantas bagi saya Nona. Saya bukanlah menantu sungguhan di keluarga ini, jadi saya rasa permainan ini sudah terlalu dalam untuk saya masuki Nona." ucap Riki kemudian dengan raut wajah yang merasa bersalah.
Mendengar perkataan dari Riki barusan tentu saja langsung membuat Alena bangkit dari posisinya kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Riki berusaha untuk memperkecil suaranya agar tidak membangunkan Aksa sekaligus memancing orang rumah untuk datang mendekat dan mendengarkan segalanya.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan tentang hal tersebut Rik, kamu hanya perlu datang dan melakukan semuanya biar aku yang bertanggung jawab atas segalanya." ucap Alena dengan nada setengah berbisik agar tidak ada orang lain yang mendengar ceritanya.
"Saya paham akan hal itu Nona, hanya saja saya tidak bisa melakukan ini. Apapun itu antara berakting di desa dengan di rumah anda adalah dua hal yang berbeda, saya sudah terlalu banyak berbuat kebohongan Nona dan saya tidak ingin menambah beban saya dengan ikut bergabung di perusahaan inti." ucap Riki yang kekeh tidak menginginkan hal tersebut.
Alena yang mendengar perkataan dari Riki barusan tentu saja panik bukan main, pasalnya semua hal baik baru saja terjadi di keluarga ini. Jika tiba-tiba Alena mengatakannya kepada Hermawan dan juga Tika entah apa yang akan terjadi selanjutnya, hanya dengan memikirkannya saja Alena benar-benar tidak sanggup apalagi jika hal itu sungguh terjadi saat ini. Alena menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, seakan mencoba untuk mencari jalan keluar terbaik untuk permasalahan kali ini.
Alena terdiam sejenak mencoba untuk berpikir realistis di sini, bagaimanapun juga posisinya dan juga posisi Riki sana-sama sulit di sana, membuat Alena seakan berada di tengah-tengah keputusan yang sulit. Jika Alena memposisikan dirinya tentu ia tidak ingin mengakhiri drama ini sama sekali namun jika Alena memposisikan di posisi Riki tentu rasanya begitu tidak adil bagi Riki. Alena menghela napasnya secara perlahan sebentar kemudian menatap ke arah Riki.
"Aku mohon untuk kali ini saja bertahanlah sebentar Rik..." ucap Alena dengan nada yang meminta namun terhenti ketika sebuah suara pintu kamar yang terbuka dari luar lantas mengejutkan keduanya.
Cklek...
Bersambung
__ADS_1