Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Bayangan kejadian semalam


__ADS_3

Keesokan paginya


Sinar mentari terlihat masuk melalui celah-celah jendela kamar, Riki yang terlihat tengah tidur di atas ranjang lantas mulai mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali ketika menerima pantulan dari sinar mentari pagi itu. Riki mengucek kelopak matanya beberapa kali kemudian bangkit dari tidurnya. Dipijatnya pelipisnya yang terasa berdenyut di sertai dengan tengkuknya yang terasa begitu berat.


"Sepertinya aku terlalu banyak minum kemarin." ucap Riki dengan nada yang terdengar lirih.


Riki terlihat merenggangkan otot-ototnya sebentar sekaligus mencoba mengumpulkan kesadarannya yang saat ini belum sepenuhnya pulih. Hingga beberapa detik melakukan perenggangan, Riki yang baru menyadari akan sesuatu hal lantas langsung mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Ada sedikit perasaan terkejut ketika ia menyadari bahwa saat ini dirinya tengah tidur di atas ranjang milik Alena, Riki bahkan sampai mengusap raut wajahnya beberapa kali seakan tidak percaya apa yang telah ia lakukan.


"Mati aku... Apa yang aku lakukan semalam hingga sampai ke tempat tidur nona Alena." ucap Riki dengan nada yang frustasi.


Riki yang takut melakukan sebuah kesalahan lantas mulai terdiam sambil memikirkan apa saja yang ia lakukan ketika mabuk semalam. Tentu bukan perkara mudah untuk mengontrol emosi ketika kita sedang mabuk, bukan? Semuanya benar-benar mengalir begitu saja tanpa bisa kita cegah dan sepertinya hal itu jugalah yang terjadi kepada Riki semalam.


"*Nona mengapa kau manis sekali ketika menyetir? Aku mencintai mu Nona.... Jangan tinggalkan aku..."


"Nona aku marah karena kamu dekat dengan Errando, jangan lakukan itu lagi..."


"Nona... Nona... Nona... huek..huek..."


"Aku mencintai mu dan juga Aksa Nona*...."


Bayangan satu persatu segala hal yang telah ia lakukan semalam kepada Alena benar-benar terlintas bagaikan kaset rusak di pikirannya. Riki bahkan sampai memejamkan matanya karena takut akan ada sesuatu hal yang fatal yang ia lakukan ketika mabuk semalam. Namun dipikirkan bagaimanapun juga semua yang ia lakukan semalam sangatlah konyol dan juga memalukan, bahkan ingatan tentang bagaimana ia mengotori mobil milik Alena semalam benar-benar terlintas dengan jelas di ingatannya, membuat Riki semakin merasa frustasi akan kenyataan tersebut.

__ADS_1


"Arggg benar-benar memalukan, bagaimana aku masih mempunyai muka untuk bertemu dengan nona Alena... Sungguh memalukan." ucap Riki dengan nada yang frustasi akan segalanya.


Riki mengusap rambutnya dengan kasar ke arah belakang kemudian terdiam beberapa menit memikirkan setiap hal konyol yang telah ia lakukan.


Sampai kemudian sebuah ingatan tentang dirinya yang bertingkah seperti anak kecil ketika di kamar lantas membuat Riki langsung melotot seketika. Bagaimana tidak? Riki bahkan jelas mengingat tentang dirinya yang minta dipeluk oleh Alena semalam, membuat Alena lantas pada akhirnya memutuskan untuk duduk di sebelahnya dan menepuk pundak Riki sebagai ganti dari sebuah pelukan. Layaknya sebagaimana Alena yang sedang menidurkan Aksa begitulah gambaran bagaimana ia menidurkan bayi besar semalam.


"Sepertinya aku harus benar-benar harus menghilang dari muka bumi ini!" ucap Riki sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut seakan mencoba untuk menghilangkan rasa malu yang menghampiri dirinya.


Disaat perasaan malu dan juga lainnya berkumpul menjadi satu dalam diri Riki, suara pintu yang di buka dari luar lantas mengejutkan Riki hingga membuatnya mendongak menatap ke arah pintu masuk. Melihat pintu kamar terbuka membuat Riki lantas menelan salivanya dengan kasar ketika ia melihat Alena masuk sambil membawa nampan berisi makanan ke dalam dengan langkah yang perlahan mendekat ke arah dimana Riki berada.


"Aku benar-benar tidak mempunyai muka saat ini, apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Riki dalam hati sambil menatap setiap langkah kaki Alena yang terlihat kian melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya.


"Bagaimana perasaan mu? Apakah sudah lebih baik? Aku membuatkan mu wedang jahe, minumlah selagi hangat..." ucap Alena sambil meletakkan nampan yang ia bawa ke atas nakas.


"Minumlah selagi hangat, jika kamu kurang enak badan sebaiknya kamu tidak usah pergi bekerja dulu. Aku minta maaf tidak bisa menemani mu karena hari ini Aksa sudah mulai bersekolah jadi aku harus mengantarnya." ucap Alena dengan nada yang terkesan santai seakan tidak terjadi apa-apa kemarin.


Melihat ekspresi raut wajah gang ditunjukkan oleh Alena membuat Riki lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung seakan bertanya-tanya akan ekspresi santai yang ditunjukkan oleh Alena barusan.


"Ba...baiklah..." ucap Riki dengan tergugup.


Setelah mengatakan hal tersebut Alena kemudian melangkahkan kakinya berlalu pergi meninggalkan Riki di kamar seorang diri. Hanya saja ketika langkah kaki Alena sampai tepat di ambang pintu sebuah suara yang berasal dari Riki lantas membuatnya menghentikan langkah kakinya dengan seketika.

__ADS_1


"Apa aku berbuat sesuatu ketika mabuk semalam?" ucap Riki dengan nada yang berhati-hati karena takut jika Alena akan menjawab yang tidak-tidak ketika pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


Alena yang mendapat pertanyaan tersebut lantas berbalik badan dan menatap ke arah Riki beberapa detik sampai kemudian gelengan kepala terlihat dengan jelas Alena tunjukkan saat itu.


"Tidak ada semuanya tampak wajar menurut ku, apa kau mengingat sesuatu?" ucap Alena balik bertanya ketika merasa bahwa Riki seperti mengingat sesuatu tentang kejadian semalam.


Mendengar jawaban sekaligus pertanyaan dari Alena lantas membuat Riki langsung menggeleng dengan spontan.


"Tidak ada, syukurlah jika aku tidak bertindak kelewatan batas." ucap Riki pada akhirnya.


"Baiklah aku pergi dulu jika tidak ada lagi yang ingin kamu tanyakan." ucap Alena yang lantas dibalas anggukan kepala oleh Riki.


***


Sementara itu di ruangan kerjanya terlihat Arga tengah memainkan jari-jari tangannya selama beberapa kali di meja. Pikirannya benar-benar melayang memikirkan segala hal yang mungkin akan terjadi di masa depan. Sebuah pemberitahuan tentang kesehatannya yang memburuk lantas membuat Arga menjadi gelisah dan takut tidak bisa melihat hari esok. Arga terdiam ditempatnya mencoba merenung tentang segala kemungkinannya. Hingga kemudian suara derap langkah kaki yang terdengar menggema memasuki area ruang kerjanya lantas membuyarkan lamunan Arga dengan seketika.


"Pak" sapa Farhan sambil memberi hormat kepada Arga.


"Apa kamu sudah mengurus segala hal yang aku katakan kemarin?" tanya Arga secara langsung tepat ketika ia mengetahui kedatangan Farhan ke ruangannya.


"Saya sudah mengurusi segalanya Pak, tapi apakah anda yakin akan melakukan hal ini? Saya tidak terlalu yakin jika pengadilan akan mengabulkan permohonan kita, mengingat Nona Alena merupakan ibu yang bertanggung jawab bagi putranya." ucap Farhan dengan nada yang terdengar ragu membuat Arga langsung terdiam dengan seketika.

__ADS_1


"Jika memang tidak bisa, maka buatlah menjadi bisa. Bagaimanapun juga kita harus memenangkan hak asuh tersebut." ucap Arga dengan nada penuh penekanan membuat Farhan langsung terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi.


Bersambung


__ADS_2