
Errando yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya untuk besok, lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar utama. Sambil sedikit merenggangkan otot-ototnya yang kaku, Errando mulai mendudukkan bokongnya ke atas sofa sambil sesekali melirik ke arah Alena yang terlihat tengah tertidur dengan pulas kala itu.
"Dasar tukang tidur!" ucap Errando sambil merebahkan tubuhnya di sofa kamarnya dengan senyuman tipis yang mengembang di wajah tampannya.
Ditatapnya langit-langit kamarnya dengan pandangan yang jauh menelisik. Errando bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia lakukan saat ini, setiap harinya Errando selalu saja bersikap tarik ulur kepada Alena, yang tentu saja pasti akan sangat melukai hati wanita itu. Terkadang marah, terkadang semena-mena, namun juga terkadang lembut, bukankah Errando seorang aktor yang hebat? Errando bahkan tidak menyangka bahwa ia bisa sebejat ini dengan sosok wanita yang ia cintai selama bertahun-tahun lamanya.
Errando menghela nafasnya dengan panjang sambil terus menatap ke arah langit-langit kamarnya. Hingga kemudian ketika Errando sedang asyik melamun dan memikirkan segalanya, sebuah suara seperti erangan kecil lantas mulai terdengar secara samar di pendengaran Errando, membuat Errando langsung bangkit dari posisinya dan menatap ke arah sekitar mencoba untuk mencari tahu sumber suara tersebut, namun sayangnya ketika Errando bangkit dan menatap ke arah sekitar Errando sama sekali tidak menjumpai apapun di kamarnya.
Errando yang mengira ia hanya halusinasi saja, lantas kembali merebahkan tubuhnya ke sofa dan berusaha untu memejamkan kelopak matanya bersiap untuk pergi tidur. Hanya saja ketika Errando baru menutup matanya sebuah suara seseorang lantas kembali terdengar di pendengarannya.
"Apa yang kalian lakukan... jangan!" ucap sebuah suara ketakutan yang lantas membuat Errando langsung membuka kelopak matanya dengan lebar karena terkejut akan suara tersebut.
Errando yang mendengar suara itu lantas terlihat bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alena untuk melihat keadaan Alena. Ketika Errando sampai tepat di sebelah Alena, wajah Alena sudah terlihat sangat pucat disertai keringat yang sudah membasahi baju dan juga sarung bantal miliknya, membuat errando tentu saja sedikit tersentak ketika melihat hal tersebut.
"Apa yang terjadi dengannya? Apakah dia sedang bermimpi buruk?" ucap Errando pada diri sendiri bertanya-tanya.
__ADS_1
Melihat Alena yang terus-terusan seperti itu Errando yang khawatir Alena tengah bermimpi buruk, lantas berusaha menggoyang-goyangkan bahu Alena beberapa kali dan mencoba untuk membangunkan Alena dari tidurnya. Hingga kemudian entah yang ke berapa kalinya Errando menggoyangkan bahu Alena pada akhirnya Errando berhasil juga membangunkan Alena, walau dengan disertai teriakan yang tiba-tiba dari Alena terdengar menggema di kamar tersebut tepat ketika Alena membuka kelopak matanya.
"Tidak!" teriak Alena sambil langsung membuka kelopak matanya dengan lebar, membuat Errando lantas menghela nafasnya dengan lega ketika melihat Alena sudah bangun.
"Apa kau bermimpi buruk?" tanya Errando kemudian ketika melihat Alena hanya diam saja sambil menatap ke arah sekeliling dengan raut wajah yang ketakutan.
Alena yang sadar semua yang ia alami barusan hanyalah sebuah mimpi buruk lantas mulai mengatur nafasnya secara perlahan, sambil masih terus menatap ke arah sekeliling takut tikus-tikus yang ada di dalam mimpinya mendadak muncul di ruangan kamar ini. Alena benar-benar takut dan fobia dengan hewan itu, bahkan pernah dulu Alena sampai pingsan dan sakit berhari-hari hanya karena ketika sekolah ia tanpa sengaja menduduki anak tikus di gudang sekolah ketika bersih-bersih. Hal itulah yang pada akhirnya membuat keluarga Hermawan benar-benar sebisa mungkin menjauhkan Alena dari hewan pengerat itu, walau tidak sepenuhnya berhasil mengingat tikus selalu saja berada di mana-mana.
Errando yang melihat Alena terus-terusan menatap ke arah sekeliling, lantas terlihat mendudukkan bokongnya di sebelah Alena dan menatap ke arah Alena dengan tatapan yang menelisik.
"Apa yang kau cari?" tanya Errando kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Mendengar hal tersebut Errando langsung menghela nafasnya dengan panjang. Diambilnya beberapa lembar tisu di atas nakas kemudian Errando berikan kepada Alena.
"Tidak ada tikus di sini, sudah tidak perlu takut semua hanyalah mimpi buruk, tidurlah lagi karena ini masih malam dan ini.. lap lah keringat mu dengan ini." ucap Errando kemudian bangkit dari tempatnya hendak melangkahkan kakinya kembali ke sofa.
__ADS_1
Hanya saja ketika Errando hendak pergi dari sana sebuah tangan lembut lantas melingkar di telapak tangannya, membuat Errando langsung menoleh seketika ke arah pemilik tangan tersebut yang tentu saja adalah Alena. Errando menatap ke arah Alena dengan tatapan yang bertanya-tanya sekaligus penasaran akan maksud dari genggaman tangan Alena kepadanya.
Sambil menarik nafasnya dengan panjang Alena menundukkan kepalanya dalam-dalam seakan bersiap jika Errando akan menolak permintaannya kali ini. Lagi pula Alena tidak ada pilihan lain bukan selain meminta Errando untuk menemaninya malam ini.
"Bisakah kamu tidur di ranjang bersama ku malam ini, aku... aku sangat takut..." ucap Alena dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Alena.
Mendengar ucapan Alena barusan, membuat Errando kemudian menghela nafasnya dengan panjang. Errando yang melihat raut wajah memelas dari Alena tentu saja tidak tega dan langsung melepas genggaman tangan Alena secara perlahan.
"Baiklah tapi hanya kali ini saja!" ucap Errando kemudian sambil melangkahkan kakinya ke arah samping dan naik ke atas ranjang.
"Terima kasih banyak" ucap Alena kemudian sambil mengikuti arah langkah kaki Errando yang terlihat mulai naik ke atas ranjang tepat disebelahnya.
Errando yang mulai merasa canggung dengan spontan merebahkan tubuhnya begitu saja dan mengambil posisi memunggungi Alena. Sedangkan Alena yang di punggungi oleh Errando sama sekali tidak marah atau bahkan protes, Alena bahkan merasa lebih lega karena ada seseorang di sampingnya yang akan menemaninya tidur malam ini.
Alena menatap punggung lebar milik suaminya itu dengan tatapan yang sendu, kesepian terus saja terjadi dan memenuhi hati Alena meski Errando selalu berada satu atap dengannya. Entah mengapa Alena lebih merasa gelar suami yang disematkan untuk Errando lebih tepat seperti sebuah status di atas kertas saja dan tidak lebih dari itu. Sambil mengusap air mata yang jatuh di sudut matanya, Alena terus menatap ke arah punggung Errando dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti. Cintanya benar-benar membutakan segalanya hingga ia bahkan sanggup menerima segala perlakuan Errando kepadanya.
__ADS_1
"Apakah aku salah jika terlalu mencintainya? Egois kah aku jika ingin selalu berada di dekatnya walau Errando tidak menginginkannya sekalipun?" ucap Alena dengan nada yang lirih, membuat Errando yang sebenarnya belum tidur hanya terdiam di tempatnya dengan tatapan yang kosong ke arah depan.
Bersambung