Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Sebuah keputusan


__ADS_3

"Mengapa kamu sangat marah? Papa juga melakukan ini semua untuk mu!" ucap Arga dengan tatapan yang bertanya ke arah Errando.


Mendengar perkataan dari Arga barusan tentu saja membuat Errando langsung menatap tak percaya ke arah Arga. Bagaimana bisa Arga mengatakan hal itu dengan begitu mudahnya sedangkan Alena sudah merawat Aksa hingga sebesar itu.


"Apa Papa tidak pernah berpikir bagaimana perasaan Alena ketika mendapat surat dari pengadilan tersebut? Papa kira melahirkan seorang anak begitu mudah hingga Papa dengan teganya merebutnya ketika ia sudah sebesar itu? Pa.. Aksa masih butuh Ibunya, jika memang Papa menginginkan seorang cucu Errando bisa memberikannya, asalkan jangan Aksa!" ucap Errando dengan nada yang kesal karena tidak habis pikir dengan jalan pikiran Arga saat ini.


Arga terdiam di tempatnya, Arga jelas-jelas tahu bahwa kejadian ini akan terjadi ketika ia memutuskan untuk menaikkan surat tuntutan hak asuh anak ke pengadilan. Arga bahkan sudah bersiap jika ia akan dimarahi habis-habisan dari pihak Errando, Alena maupun dari pihak istrinya sendiri. Hanya saja posisinya yang sulit, sama sekali tidak membuatnya berpikir dua kali dan langsung melakukan tindakan tersebut tanpa memikirkannya kembali konsekuensinya.


"Cobalah untuk mengerti Papa, Papa benar-benar melakukan ini dalam situasi yang sulit dan Papa berharap kamu dapat memahaminya." ucap Arga kemudian.


"Papa yang harusnya mengerti di sini, Ando harap Papa cabut tuntutan tersebut jika memang tidak bisa, lakukan apapun untuk menggagalkannya." ucap Errando dengan nada penuh penekanan.


"Maaf, Papa tidak bisa dan Papa harap kamu tidak memaksakannya." ucap Arga dengan nada yang kekeh.


"Pa..." panggil Errando dengan nada yang memanjang.


"Papa mohon kali ini saja, percayalah kepada Papa." ucap Arga kemudian.


Errando yang melihat Arga begitu kekeh mempertahankan keputusannya lantas berdecak dengan kesal sambil menatap tajam ke arah Arga. Entah dengan cara apa lagi Errando harus meyakinkan Ayahnya untuk mencabut tuntutan tersebut. Errando mengusap raut wajahnya dengan kasar seakan terlihat frustrasi karena tindakan Ayahnya yang sama sekali tidak mau mengalah dan tetap kekeh mempertahankan tuntutannya.


"Errando tidak mau tahu, hari ini juga tuntutan tersebut harus di cabut atau bahkan diberhentikan. Jika Papa tetap memaksa untuk meneruskannya maka Ando... Ando tidak akan menginjakkan kaki Ando di kediaman Valentino lagi sampai kapan pun juga!" pekik Errando dengan nada yang mengancam kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Arga seorang diri.


Arga yang mendengar ancaman dari Errando barusan tentu saja terkejut bukan main. Arga benar-benar tidak mengharapkan ini terjadi namun ia juga tidak bisa meminta Errando untuk mengerti posisinya saat ini.


"Errando berhenti.. Er... Errando..." teriak Arga yang melihat kepergian Errando dari sana.

__ADS_1


Hanya saja ketika suara teriakan Arga terdengar kian menyeruak sebuah perasaan nyeri terasa begitu hebat menyerang area dadanya, membuat Arga lantas menghentikan teriakannya dan memegang erat area dadanya. Rasa sakit yang begitu hebat membuat Arga hingga menggenggam dengan erat meja kerjanya menggunakan tangannya yang sebelah kiri sedangkan tangan sebelah kanan memegang erat area dadanya.


"Err... Errando..." panggilnya lirih sebelum pada akhirnya tubuhnya jatuh ke lantai.


Bruk...


***


Parkiran


Di dalam mobil miliknya, Errando nampak menutup pintu mobilnya dengan cukup keras. Dipukulnya setir mobilnya selama beberapa kali karena saking kesalnya akan sikap Ayahnya yang tanpa ada angin tanpa ada hujan, lantas tiba-tiba begitu kekehnya mengajukan tuntutan hak asuh anak ke pengadilan.


Errando menjambak rambutnya dengan kasar, berbicara dengan Arga selalu saja tidak pernah mendapat sebuah hasil yang memuaskan. Dulu bahkan Errando pernah gagal untuk menghentikan Arga mencabut semua kerja sama dengan keluarga Hermawan, membuatnya lantas berdecak dengan kesal ketika harus dihadapkan kenyataan jika ia harus kembali gagal dalam membujuk Ayahnya hanya untuk masalah yang sepele.


"Sebenarnya apa yang ada di pikiran Papa sih? Mengapa ngotot sekali? Lagi pula urusan seperti itu harusnya didiskusikan terlebih dahulu kepadaku, mengapa Papa malah mengambil keputusan secara sepihak seperti ini?" ucap Errando dengan nada yang kesal.


***


Kediaman Hermawan


Di ambang pintu kamar Aksa terlihat Alena tengah menatap ke arah Aksa yang saat ini tengah bermain dengan Tika. Helaan napas terdengar berhembus dengan kasar ketika bayangan bagaimana sebentar lagi ia akan kehilangan masa-masa seperti sekarang ini lantas kembali membuat hatinya gusar.


Sepertinya berpisah dengan Riki adalah keputusan yang tepat untuk Alena ambil saat ini, lagi pula ia dan juga Riki memang akan berpisah bukan? Jadi secepatnya atau nanti, bukankah itu sama saja?


"Apakah aku terlalu jahat di sini? Aku rasa posisi ku juga sangat sulit saat ini, aku harap Riki akan mengerti dengan keputusan yang aku buat kali ini, bukankah Riki juga mendukung cara ini? Ya meski ia memang tidak tahu sepenuhnya tahu akan cara apa yang bisa menggagalkan tuntutan hak asuh anak tersebut." ucap Alena pada diri sendiri sambil menutup pintu kamar Aksa dan membiarkannya bermain bersama dengan Tika di kamarnya.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu lakukan Al?" ucap sebuah suara yang tak asing di pendengarannya membuat Alena lantas langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Kakak sudah pulang?" ucap Alena ketika mengetahui suara tersebut berasal dari Alex kakaknya.


"Iya baru saja, dimana Aksa?" ucap Alex kemudian.


"Kak..." panggil Alena yang lantas membuat Alex mengernyit begitu mendengar panggilan tersebut.


"Apa terjadi sesuatu? Mengapa wajah mu lesu sekali?" tanya Alex kemudian.


"Apakah kakak punya kenalan pengacara hebat? Aku ingin mengurus perceraian ku." ucap Alena kemudian dengan raut wajah yang sendu.


"Apa?" ucap Alex yang terkejut ketika mendengar perkataan dari Alena barusan.


***


Sementara itu di sebuah daerah yang masih terletak di Ibukota, terlihat mobil Errando nampak terparkir tepat di pinggiran sungai. Errando benar-benar ingin menenangkan hatinya untuk saat ini. Sebanyak panggilan telpon berapapun yang masuk di ponselnya sama sekali tak Errando hiraukan. Errando benar-benar ingin mendinginkan kepalanya yang terlanjur panas karena memikirkan sikap Arga yang terlalu berlebihan dalam segalanya.


Deringan ponsel nampak kembali terdengar dan memenuhi area mobilnya, membuat Errando yang sedari tadi memejamkan matanya lantas berdecak dengan kesal begitu kembali mendengar deringan ponsel yang berasal dari miliknya.


Diambilnya dengan kasar ponsel miliknya untuk melihat siapa yang tengah menelponnya saat ini. Ketika nama Rama tertulis dengan jelas pada layar ponsel miliknya kemudian lantas membuat Errando mengernyit dengan tatapan yang bertanya.


"Halo, jangan mengganggu ku saat ini karena aku sedang ingin bermeditasi!" pekik Errando begitu ia menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponselnya.


"Tuan besar masuk Rumah sakit Tuan, saya menelpon untuk mengabarkannya kepada anda karena Nyonya sama sekali tidak bisa menghubungi ponsel anda." ucap Rama kemudian dengan nada yang terburu-buru karena takut Errando menutup panggilan telponnya.

__ADS_1


"Apa?"


Bersambung


__ADS_2