Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Surat dari pengadilan


__ADS_3

Kediaman Hermawan


Riki yang masih tidak enak badan pada akhirnya memutuskan untuk tidak berangkat bekerja, Riki yang baru saja mencuci mukanya dan mandi lantas perlahan-lahan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya mencoba untuk mencari udara segar siapa tahu akan membuat tubuhnya menjadi lebih fresh.


Dengan langkah kaki yang perlahan Riki mulai menuruni saru persatu anak tangga dan menuju ke arah taman samping untuk melihat beberapa tanaman dan menghirup udara segar di sana. Di saat langkah kaki membawanya hingga ke taman samping, Riki melihat Tika terlihat tengah memangkas beberapa tanaman yang terlihat menjulur dan sudah berantakan, membuat Riki lantas terdiam sejenak di tempatnya seakan bingung harus bersikap bagaimana, sampai kemudian Tika yang mengetahui kedatangan Riki lantas membuat Tika menoleh ke arahnya.


"Bagaimana kondisi mu Rik? Apakah sudah lebih baik? Alena tadi cerita jika kamu sedang tidak enak badan, mau Mama panggilkan dokter?" ucap Tika dengan nada yang begitu lembut membuat Riki lantas tersentuh.


Selama Riki berada di kediaman Hermawan dan menjadi bagian dari keluarga mereka, Riki benar-benar mendapatkan segalanya. Tidak hanya jabatan dan kedudukan bahkan Riki juga mendapatkan arti sebuah keluarga. Hermawan memanglah orang yang berada namun mereka tahu cara mamanusiakan sesama.


"Tidak perlu Bu, aku rasa dengan berjalan-jalan sebentar dan menghirup udara segar aku akan merasa lebih baik..." ucap Riki kemudian merasa tidak enak kepada Tika.


Mendengar jawaban dari Riki barusan lantas membuat Tika langsung meletakkan barang-barang yang ia gunakan untuk berkebun, Tika membuka sarung tangan yang ia gunakan untuk berkebun saat itu kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Riki berada. Membuat Riki yang melihat langkah kaki Tika semakin mendekat, lantas langsung menatap dengan bingung seakan bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Tika kepadanya.


Disaat jarak diantara keduanya sudah dekat Tika kemudian mendudukkan pantatnya di sebuah kursi dan memanggil Riki untuk duduk bersamanya. Sudah lama sekali Tika ingin berbicara berdua dengan Riki namun selalu saja tidak mempunyai kesempatan, maka dari itu Tika ingin melakukannya saat ini.


Riki yang melihat Tika menyuruhnya untu bergabung lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Tika dan ikut mengambil duduk di sebelah Tika.


Helaan napas terdengar berhembus dari mulut Tika, membuat Riki lantas menatap ke arah Tika dengan tatapan yang menelisik.


"Apa ada sesuatu Bu?" tanya Riki kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Bagaimana hubungan mu dengan Alena? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Tika kemudian yang lantas membuat Riki terdiam.

__ADS_1


Riki yang mendengar pertanyaan dari Tika barusan tentu saja langsung terdiam tanpa suara. Bohong rasanya jika Riki menginginkan perceraian atau meninggalkan kehidupan Alena karena di sinilah ia mempunyai arti untuk hidup, di sinilah ia memiliki keluarga baru dan juga mendapatkan segalanya. Bukankah terlalu bodoh jika Riki menyia-nyiakannya? Hanya saja jika mengingat bagaimana rasa cinta Alena kepada Errando, tentu Riki tidak akan setega itu untuk tetap memaksakan kehendak dan tetap berada di sisi Alena, memutar kembali segalanya lantas membuat helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Riki.


"Apa pendapat Ibu jika saya dan Alena berpisah?" ucap Riki kemudian dengan raut wajah yang sendu.


Mendengar pertanyaan tersebut lantas membuat Tika langsung mengernyit dengan seketika seakan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi diantara Alena dan juga Riki, sehingga mereka berdua berlomba-lomba untuk berpisah namun yang tergambar di raut wajah mereka berdua bukanlah sebuah kebencian melainkan sebuah rasa kecewa dan juga penuh kekhawatiran terlihat jelas di sana. Membuat Tika yang melihat hal tersebut lantas semakin dibuat bertanya-tanya tentang segala yang terjadi selama keduanya bersama.


"Sebenarnya ada apa diantara kalian berdua hingga kalian berlomba-lomba untuk berpisah? Apakah semua sudah tidak bisa dibicarakan baik-baik lagi?" ucap Tika kemudian mencoba untuk menengahi permasalahan Putrinya.


Seulas senyum terlihat jelas di wajah Riki membuat Tika lantas bertanya-tanya akan maksud dari senyuman tersebut.


"Hubungan kami berdua terjadi hanya karena sebuah insiden, tidak ada yang benar-benar terjadi kepada kami berdua setelahnya, saya berdiri bersama Alena hanya karena sebuah rasa tanggung jawab yang saya miliki begitu pula sebaliknya..." ucap Riki kemudian dengan raut wajah yang sendu.


"Lalu apakah kamu tidak mencintai Alena selama kalian berdua bersama? Entah mengapa Mama rasa semua perkataan yang kamu lontarkan berbanding terbalik dengan apa yang kamu rasakan, apakah kamu sungguh-sungguh akan hal ini?" ucap Tika kembali bertanya seakan masih berpikir jika ada yang aneh diantara Alena dan juga Riki.


***


Siang harinya


Mobil yang dikendarai oleh Alena terlihat terparkir di depan halaman kediaman Hermawan, siang ini Alena dan juga Aksa baru saja sampai setelah pulang dari Sekolahan. Ini adalah hari pertama Aksa pergi ke Sekolah dan Alena rasa Aksa begitu menyukainya terlihat dari raut wajah ceria yang ditunjukkan oleh Aksa sedari tadi pagi.


"Apa kamu menyukai Sekolah itu? Bagaimana teman-teman kamu di sana? Apakah mereka baik kepadamu?" tanya Alena kemudian dengan raut wajah yang penasaran sambil melepas sabuk pengamannya.


Aksa yang mendapat pertanyaan tersebut lantas tersenyum dengan ceria kemudian mulai bercerita segalanya kepada Alena.

__ADS_1


"Suka, mereka semua baik dan menyenangkan. Aksa bahkan di ajak membuat pesawat kertas yang indah.. Nanti Aksa akan tunjukkan kepada Mommy kehebatan Aksa dalam membuatnya." ucap Aksa dengan ekspresi wajah yang sumringah.


"Benarkah? Wah Mommy sudah tidak sabar menantikannya..." ucap Alena kemudian sambil mengusap rambut Aksa beberapa kali.


"Mommy... Apakah Opa dan juga Uncle Alex akan datang hari ini?" tanya Aksa kemudian sebelum melangkahkan kakinya turun dari mobil.


Mendapat pertanyaan tersebut Alena nampak berpikir sejenak kemudian mengusap kembali rambut Aksa dengan gemas.


"Entahlah, tapi Mommy rasa sepertinya hari ini mereka akan pulang." ucap Alena sambil mengingat-ingat kapan tepatnya kepulangan Hermawan dan juga Alex dari dinas mereka.


"Asyik... Nanti pasti Aksa akan dibelikan oleh-oleh yang banyak..." teriak Aksa sambil turun dari mobil dan berlarian masuk ke dalam.


Melihat hal tersebut lantas membuat Alena tersenyum dengan bahagia, sebuah perasaan yang wajar di rasakan oleh kebanyakan Ibu-ibu di luaran sana ketika melihat Putra mereka begitu bahagia.


Dengan langkah kaki yang perlahan Alena kemudian mulai melangkahkan kakinya keluar dari mobil dan bersiap masuk ke dalam Mansion. Hanya saja ketika sebuah suara terdengar menyapa telinganya lantas membuat Alena langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


"Permisi.. Apakah ini kediaman Ibu Alena Viantika Hermawan?" ucap sebuah suara yang langsung membuat Alena berbalik badan.


"Iya dengan saya sendiri, ada apa ya?" ucap Alena dengan raut wajah yang bertanya-tanya.


"Ada surat dari pengadilan untuk anda, silahkan tanda tangan di sini untuk tanda terimanya." ucap kurir tersebut.


"Surat dari pengadilan?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2