
Mansion Errando
Di ruang keluarga terlihat Alena tengah duduk dengan termenung sambil menatap ke arah layar televisi yang sama sekali tidak menampilkan gambar apapun karena memang dalam keadaan yang tidak dinyalakan. Pikiran Alena melayang jauh membayangkan satu-persatu kejadian yang menimpa dirinya hingga hari ini. Helaan napas terdengar jelas berhembus dari mulut Alena ketika ia begitu menyesali setiap langkah kaki yang hingga kini ia ambil dan tempuh dalam perjalanan hidupnya.
Semua hal begitu terasa silih berganti dan terjadi begitu cepat. Ingin rasanya Alena melaporkan segala tindakan Alex dan memintanya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun bayangan bagaimana Alex memohon kepadanya untuk merahasiakan segalanya, membuat hati Alena luluh dan tidak tega menghancurkan segala yang dibangun susah payah oleh Alex selama bertahun-tahun lamanya. Mewarisi sebuah perusahaan keluarga bukanlah perkara yang mudah, semua tanggung jawab yang di serahkan begitu saja kepada si pewaris, membuat pewaris tersebut harus mengupayakan segala cara agar perusahaan dapat terus berputar seperti sebelumnya atau jika perlu berkembang dengan lebih pesat lagi.
Alena memijit pelipisnya yang terasa berdenyut ketika memikirkan segala hal yang terjadi kepadanya. Hingga kemudian sebuah suara dari bel pintu utama terdengar menggema di ruangan, membuat Alena lantas mengernyit sekaligus bertanya-tanya siapa yang datang ke rumah untuk bertamu malam-malam seperti ini.
"Tidak mungkin Errando bukan? Jika memang iya, inikan Rumahnya.. Untuk appa dia memencet bel segala?" ucap Alena dengan menerka-nerka.
Alena yang terus mendengar suara bel berbunyi dengan keras, lantas mau tidak mau mulai bangkit dari posisinya menuju ke arah pintu utama.
"Tidak perlu Bik, biar saya saja." ucap Alena kemudian ketika ia melihat Surti sedang melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah pintu utama.
"Baik nona, kalau begitu Bibi mau lanjut beberes sebelum pulang ke rumah." ucap Surti yang dibalas anggukan kepala oleh Alena.
**
Pintu utama
Sambil bertanya-tanya Alena terlihat mulai membuka pintu utama dengan perlahan. Ada sedikit perasaan terkejut ketika melihat kejadian yang seperti sudah ia alami waktu itu, membuat Alena sedikit menggeser tubuhnya ke samping ketika melihat Steven yang saat ini tengah membopong Errando, begitu terasa sama persis seperti kala itu.
__ADS_1
Alena yang melihat Errando mabuk berat mencoba untuk menahan dirinya untuk tidak terlalu khawatir dan pada akhirnya membuat dinding pertahanannya kembali runtuh dan luluh lagi.
"Kamu lagi?" ucap Alena sambil menatap ke arah Steven yang saat ini juga tengah menatap ke arahnya.
"Bisakah kamu membantu ku?" tanya Steven kemudian.
"Maaf bukannya apa hanya saja aku tidak terlalu kuat memapah Errando, bisakah kamu membawanya ke kamar utama?" ucap Alena kemudian membuat alasan.
"Apa kamu bercanda?" ucap Steven sambil menatap ke arah satu persatu anak tangga yang terlihat menjulang cukup tinggi di sana.
Alena yang mendengar pertanyaan dari Steven barusan lantas mengangguk dengan cepat, membuat Steven langsung menelan salivanya dengan kasar ketika membayangkan perjuangannya memapah Errando untuk sampai ke lantai dua. Steven yang merasa sedikit keberatan lantas melirik sekilas ke arah Alena, namun Alena yang seakan tahu arti tatapan dari Steven barusan, lantas berbalik badan dan melangkahkan kakinya mendahului Steven dan Errando menuju ke arah lantai atas.
"Aku bahkan... Sudah memberikan segalanya kepadamu... Al... Tidakkah..."
Bruk...
Suara tubuh Errando dan juga Steven yang kembali terjatuh terdengar begitu nyaring, membuat Alena yang berjalan lebih dulu di depan keduanya lantas terkejut dan langsung berbalik badan menatap ke arah keduanya. Ada perasaan khawatir dan juga bersalah dalam diri Alena ketika melihat Errando yang seperti itu, namun detik selanjutnya Alena mencoba untuk menepisnya jauh-jauh dan tetap membulatkan tekadnya untuk tidak lagi perduli kepada Errando.
Steven yang melihat Alena hanya menatap keduanya lantas berdecak dengan kesal, ketika ia baru menyadari jika saat ini ia tengah berada diantara dua orang egois yang sama-sama mencintai, namun terus saja berakting dan terus menyakiti satu sama lainnya. Dihembuskannya napasnya dengan kasar kemudian bangkit dari posisinya dan memasang badan dengan berkacak pinggang.
"Tidakkah harusnya kau membantu ku saat ini Al?" ucap Steven kemudian dengan nada yang menyindir Alena.
__ADS_1
"Aku akan melihat keadaan kamar dulu, kamu teruskan memapah Errando hingga ke kamar ya, mohon bantuannya." ucap Alena kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Steven dan juga Errando.
Steven yang melihat tingkah Alena yang seperti itu, hanya bisa menatap tak percaya ke arah kepergian Alena yang malah meninggalkannya dan juga Errando begitu saja tanpa ada perasaan khawatir atau apalah yang semakin membuat Steven menjadi bertanya-tanya, tentang apa yang sebenarnya terjadi diantara Alena dan juga Errando saat ini.
"Ah benar-benar sialan!" ucap Steven dengan nada yang kesal.
Sambil terus menggerutu Steven kemudian kembali mencoba mengangkat tubuh Errando dan memapahnya lagi menuju ke arah kamar utama. Kali ini Steven mencoba mempercepat sedikit langkah kakinya agar ia segera sampai di kamar utama dan tidak lagi terjatuh ketika memapah Errando.
***
Kamar utama
Setelah perjuangan yang lumayan menguras keringat pada akhirnya Steven berhasil sampai di kamar utama. Dikibas-kibaskan bajunya beberapa kali yang entah mengapa saat ini terasa begitu gerah padahal ruangan kamar tersebut full dengan AC. Alena melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Errando berada kemudian melepas sepatu dan juga kaos kaki Errando dengan raut wajah yang datar, membuat Steven yang masih berada di dalam kamar utama malah memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh Alena.
Hingga kemudian setelah Alena menyelesaikan segala ritualnya kepada Errando termasuk dengan membuka jasnya, Steven yang melihat Alena beranjak dari kamarnya lantas langsung bangkit dan menyusul kepergian Alena dari sana. Ada beberapa hal yang mengusik hatinya sedari tadi, membuat Steven begitu penasaran dan sudah gatal ingin menanyakannya sedari tadi.
Steven mengejar langkah kaki Alena yang kian melangkah jauh kemudian menarik tangan Alena berusaha untuk menghentikan langkah kaki wanita itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi diantara kamu dan juga Errando Al?" ucap Steven dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Alena saat ini.
Bersambung
__ADS_1