
"Apapun yang kau inginkan." ucap Laura dengan senyum yang mengembang menghiasi wajahnya.
"Aku menginginkan hatimu, apa kau bisa?" ucap Steven kemudian dengan nada yang menantang.
Mendengar pertanyaan tersebut Laura nampak terdiam seketika, ia benar-benar bimbang akan menjawab apa pertanyaan tersebut. Hingga kemudian Laura yang tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menjadikan Steven partner, pada akhirnya langsung mengangguk tanpa memikirkan terlebih dahulu akan konsekuensinya.
Steven yang melihat anggukan kepala dari Laura tentu saja tersenyum, Steven benar-benar bahagia karena pada akhirnya ia bisa mendapatkan Laura setelah penantian yang begitu panjang. Dengan perasaan bahagia Steven membawa Laura masuk ke dalam pelukannya karena saking senangnya.
"Yang terpenting sekarang adalah Steven mau membantu ku, jika nanti Steven benar-benar berhasil aku akan memikirkan jalan keluarnya nanti." ucap Laura dalam hati sambil tersenyum tipis yang tentu saja tidak akan terlihat oleh Steven yang kini sedang memeluknya dengan erat.
***
Keesokan paginya
Sinar mentari yang begitu hangat masuk ke dalam celah-celah ventilasi membangunkan Alena yang tengah tertidur dalam selimut tebal yang membalut tubuhnya. Mata Alena terlihat menggantung dan juga bengkak karena semalaman ia habiskan dengan menangisi nasibnya yang begitu malang. Diliriknya sekilas ke arah belakang dimana ranjang sebelahnya kini sudah kosong yang menandakan bahwa Errando sudah pergi.
Alena memasukkan kepalanya pada selimut dan melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang apapun yang menempel pada tubuhnya. Air matanya kini bahkan kembali turun dan membasahi pipinya. Diusapnya dengan kasar air mata yang baru saja turun dan membasahi pipinya dengan kasar, Alen benar-benar tidak tahu harus bagaimana dan jalan apa yang akan ia tempuh selanjutnya.
Alena bangkit dari posisinya kemudian membalut tubuhnya yang polos dengan selimut yang tebal. Sambil melangkah dengan gerakan yang tertatih Alena mulai membawa dirinya masuk ke kamar mandi untuk berendam di air hangat menenangkan pikirannya. Alena terlihat meringis beberapa kali ketika merasakan rasa perih dan juga sakit di area kew***t**nnya. Hingga ketika langkah kakinya pada akhirnya sampai di bathtub, Alena langsung melepas selimut yang membalut tubuhnya dan mulai menyalak kran dan memenuhi bathtub dengan air hangat.
__ADS_1
Dengan hati-hati Alena mulai memasukkan tubuhnya ke dalam bathtub sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran. Pikiran Alena melayang jauh memutar kembali kejadian semalam ketika Errando merenggut keperawanannya secara paksa. Alena jelas-jelas tahu bahwa itu adalah hak Errando untuk melakukannya, hanya saja sikap Errando yang merenggutnya secara paksa dengan emosi, membuat Alena seakan tidak rela ketika Errando berhasil mendapatkan sesuatu yang selama bertahun-tahun ia jaga dengan segenap hatinya.
Bulir-bulir air mata terlihat kembali turun dan membasahi pipinya, apalagi di saat melihat bekas merah yang bertebaran hampir di seluruh tubuh Alena, membuatnya kian frustasi.
Alena yang mulai kesal akan keadaan yang selalu saja tidak berpihak kepadanya, lantas mulai menenggelamkan kepalanya ke dalam bathtub berharap dengan begitu ia bisa menjernihkan segala pikirannya.
***
Ruang kerja Errando
Terlihat Errando tengah menatap kosong ke arah depan sedari tadi. Errando kini bahkan tengah merutuki kebodohannya yang bisa-bisanya melakukan hal tersebut kepada Alena semalam. Dipukulnya kepala Errando cukup keras sambil mengumpat seakan tengah meluapkan emosinya. Errando benar-benar tidak berniat sama sekali merenggut segalanya dari Alena secara paksa, hanya saja ketika Alena membahas kata perpisahan membuat Errando kian emosi dan mencoba mencari pelampiasan akan rasa amarah dalam dirinya menghilang.
Errando menghela nafasnya dengan panjang ketika bayangan betapa beringasnya dirinya memperlakukan Alena semalam mulai kembali terlintas dibenaknya. Errando menyenderkan tubuhnya pada kursi kebesarannya sambil menatap ke arah langit-langit ruang kerjanya. Errando kini tengah mencoba untuk berpikir sekaligus mencari jalan keluar akan permasalah yang sudah ia timbulkan dengan sengaja itu.
Hingga kemudian ketika rasa bersalah tengah menggerogoti hatinya, sebuah ingatan tentang kematian Juwita membuat Errando lantas bangkit dari posisinya. Dengan penuh kekesalan Errando langsung mengambil vas bunga pada meja dan melemparnya begitu saja ke sembarang arah, membuat vas tersebut langsung pecah dan berhamburan begitu menabrak dinding ruangan itu.
Errando benar-benar mulai muak akan semua ini, antara cinta dan juga dendam yang mengisi hatinya, sama sekali tidak pernah membiarkannya hidup dengan tenang, justru rasanya Errando semakin kian terjebak dan masuk ke dalam sesuatu yang mungkin saja akan ia sesali nantinya.
"Aku sungguh tidak sanggup hidup terus-terusan seperti ini, aku mencintai kakak namun aku juga mencintai Alena. Antara kakak dan juga Alena aku sama sekali tidak bisa memilih diantara kalian berdua! Jangan coba aku seperti ini kak... ku mohon... aku benar-benar tidak bisa memilih antara kakak ataupun Alena!" ucap Errando dengan nada yang frustasi menatap ke arah foto yang terpajang cantik di meja kerjanya.
__ADS_1
Errando mengusap rambutnya dengan kasar kemudian bangkit dari kursinya. Dengan langkah kaki yang gamang Errando mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya. Entah mengapa setelah melakukan hal tersebut kepada Alena, membuatnya merasa bersalah dan ingin meminta maaf kepada Alena secara langsung.
**
Errando melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga menuju ke arah kamar utama. Ada sedikit perasaan gelisah dalam diri Errando ketika setiap langkah kakinya semakin mendekat ke arah kamar utama.
"Aku yang bersalah jadi aku yang harus minta maaf lebih dulu." ucap Errando meyakinkan dirinya sendiri bahwa hanya dengan meminta maaf tidak akan melukai perasaan Juwita karena Errando lebih memilih Alena.
Hingga ketika Errando sampai tepat di depan pintu kamarnya, Errando nampak terdiam sejenak sambil menghela nafasnya panjang berulang kali. Baru setelah perasaannya lebih tenang Errando mulai memutar handel pintu kamarnya dan masuk ke dalam.
"Al aku..." ucap Errando namun terpotong karena ia tak melihat kehadiran Alena di dalam kamar.
Errando yang tak melihat Alena dimanapun, lantas langsung mengernyit dengan bingung sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencoba mencari keberadaan Alena di sana.
Disaat Errando bingung akan Alena yang tidak ada dimanapun, suara gemericik air dari dalam kamar mandi terdengar samar-samar di telinga Errando, membuat Errando langsung melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi untuk memastikan apa yang ia dengar barusan adalah memang berasal dari kamar mandi.
"Pintunya tidak di kunci?" ucap Errando dengan tatapan yang bingung ketika melihat pintu kamar mandi yang sedang dalam posisi setengah terbuka.
Errando yang merasa seperti tidak asing dengan kejadian ini, lantas dengan spontan membuka pintu kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi di dalamnya.
__ADS_1
"Kak Juwita!" pekik Errando sambil berlarian ke dalam kamar mandi.
Bersambung