
"Ada apa dengan wajah mu itu Al?" ucap Laura lagi dengan raut wajah yang penasaran.
Laura yang terlanjur penasaran akan perubahan raut wajah dari Alena begitu melihat kedatangannya, lantas terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alena berada. Hal itu membuat Alena begitu gugup dan terus membawa Aksa mundur ke arah belakang.
Alena yang tahu pasti bahwa percuma jika ia hanya tertekan tanpa bisa menghadapi Laura, membuat Alena pada akhirnya sebisa mungkin memilih kuat demi Aksa. Setidaknya sebagai seorang ibu ia sudah tidak bisa lagi bersikap lemah dan hanya menerima keadaan. Alena menghembuskan napasnya perlahan kemudian menghentikan langkah kakinya yang mundur sedari tadi, yang lantas membuat Aksa hampir terjatuh karena gerakan Alena yang berhenti tiba-tiba. Beruntung Aksa menggenggam dengan erat kaki Alena sehingga tidak sampai membuat tubuh kecilnya terjatuh ke lantai.
"Kita sudah tidak ada urusan apapun lagi Ra, aku dan Errando tidak lagi ada hubungan apapun lagi sedangkan antara kau dan aku semuanya telah berakhir ketika kita dinyatakan lulus dari kuliah. Aku hanya ingin menikmati waktu ku bersama dengan putra ku jadi ku harap kau jangan mengganggu kami!" ucap Alen dengan nada yang tegas dan penuh penekanan.
Mendengar nada suara Alena yang tegas membuat langkah kaki Laura langsung terhenti seketika. Laura yang tak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Alena lantas sedikit tertegun dan menatap tak percaya ke arah Alena.
Sementara Alena, setelah puas mengatakan hal tersebut kepada Laura tanpa ingin menunggu tanggapan apapun dari Laura lantas memutuskan untuk mengajak Aksa berlalu pergi dari sana.
"Mommy udangnya.." ucap Aksa yang mendadak diajak berlalu oleh Alena sebelum sempat membeli udang kesukaannya.
"Nanti saja ya nak, kita pilih yang lainnya dulu." ucap Alena mencoba untuk membuat Aksa mengerti akan situasinya saat ini yang tidak memungkinkan hanya untuk sekedar membeli udang.
Sebelum semuanya menjadi semakin rumit Alena memutuskan untuk segera membawa Aksa berlalu pergi dari sana meninggalkan Laura seorang diri dengan tatapan yang bingung mengarah ke arah punggung keduanya.
Sambil memasang posisi bersendekap dada Laura menatap kepergian Alena dan juga putranya dengan tatapan yang menelisik sekaligus penasaran akan apa yang saat ini tengah disembunyikan oleh Alena.
"Aku yakin ada yang Alena sembunyikan dari ku, indra penciuman ku bahkan bisa merasakannya. Cih benar-benar sombong sekali..." ucap Laura sambil terus menatapi punggung Alena sampai pada akhirnya punggung Alena tidak terlihat lagi pada pandangannya.
__ADS_1
***
Di dalam mobil
Alena yang baru saja menyelesaikan belanjaannya dengan terburu-buru terlihat tengah memasangkan sabuk pengaman kepada Aksa yang saat ini tengah meminum sekotak susu yang baru saja keduanya beli di Supermarket.
"Minumlah secara perlahan tak perlu buru-buru." ucap Alena sambil mencubit pipi Aksa dengan pelan karena saking gemasnya.
Helaan napas kemudian lantas terdengar berhembus dari mulut Alena begitu ia berhasil melewati sesuatu yang menjadi ketakutan terbesarnya selama ini. Alena tersenyum dan bangga kepada dirinya sendiri karena sudah berhasil hingga sampai ke titik ini. Diusapnya perlahan rambut milik Aksa membuat Aksa yang tengah meminum susunya, lantas terlihat langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan yang bertanya.
"Bagaimana kalau setelah ini kita ke..." ucap Alena hendak mengatakan sesuatu namun terpotong ketika mendengar suara notifikasi ponselnya yang baru saja terdengar.
Sebuah pesan singkat yang berasal dari Riki lantas membuat Alena lagi-lagi menghela napasnya dengan panjang. Jika Alena mengatakannya kepada Aksa pasti Aksa akan sangat sedih karena Riki tidak jadi ikut makan siang bersama dengan mereka berdua. Sampai kemudian sebuah deringan ponsel miliknya lantas kembali terdengar, namun kali ini bukan berasal dari Riki melainkan dari Errando yang menelponnya dengan tiba-tiba.
Alena yang melihat nama Errando tertera di layar ponselnya lantas mengernyit dengan seketika sambil bertanya-tanya tentang Errando yang tiba-tiba menelponnya. Aksa yang melihat Alena malah terbengong meski ponselnya terus saja berbunyi lantas terlihat menarik baju Alena pelan yang langsung membuyarkan lamunan Alena dengan seketika.
"Mengapa tidak diangkat Mom? Apakah tidak penting?" tanya Aksa kemudian yang merasa aneh karena Alena malah hanya terbengong menatap ke arah layar ponselnya.
Mendengar perkataan Aksa barusan lantas membuat lamunan Alena buyar seketika. Dengan getakan yang perlahan Alena kemudian mulai menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Halo" ucap Alena dengan nada yang lirih begitu sambungan telponnya terhubung dan berhasil ia angkat.
__ADS_1
"Al apa kamu sibuk?" ucap Errando dengan nada suara yang terdengar serak membuat Alena langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar suara Errando barusan.
"Apa kamu mabuk di siang bolong seperti ini?" tanya Alena dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir sekaligus penasaran akan apa yang tengah di lakukan oleh Errando saat ini.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Errando yang diseberang sana terdengar tertawa cukup keras yang lantas membuat Alena semakin kebingungan akan tingkah Errando yabg seperti ini.
"Ada rapat perjamuan dengan klien dan aku minum satu gelas, hanya satu gelas tak perlu khawatir hihihi." ucap Errando yang mulai melantur dalam berbicara membuat Alena langsung terdiam seketika di tempatnya.
"Al... Aku mencintai mu sungguh, tidakkah kau merasa iba padaku? Aku bahkan hanya berpura-pura menyakiti mu waktu itu, apa aku benar-benar menyakiti perasaan mu?" ucap Errando lagi namun kali ini dengan nada yang mulai melantur.
Alena yang mendengar semua keluh kesah Errando barusan lantas terdiam seketika. Sebuah ungkapan yang mungkin tidak akan pernah bisa Alena dengar jika Errando tidak mabuk seperti ini, membuat perasaan Alena langsung melega dengan seketika begitu mengetahui bahwa apa yang dilakukan Errando kepadanya dulu bukanlah berasal dari hatinya sendiri. Paling tidak semua rasa sakit yang diberikan Errando kepadanya hanyalah sebuah permainan semata untuk membalas perbuatan Alex atas kematian Juwita.
"Apa ada sesuatu yang terjadi Mom?" tanya Aksa kemudian sambil menatap ke arah Alena dengan raut wajah yang penasaran, sepertinya pria kecil tersebut sedikit sensitif perasaannya mengingat apa yang baru saja terjadi pada keduanya di Supermarket tadi.
Mendengar pertanyaan dari Aksa barusan membuat Alena lantas membalasnya dengan senyuman seakan mengatakan kepada Aksa bahwa ia baik-baik saja saat ini. Diusapnya perlahan wajah Aksa kemudian kembali fokus terhadap telponnya.
"Katakan dimana kamu sekarang Er?" ucap Alena pada akhirnya memutuskan untuk menyusul Errando ke sana karena takut apalagi terjadi sesuatu dengan Errando.
"Aku...."
Bersambung
__ADS_1