Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Kejutan Menyakitkan


__ADS_3

"Citra, Om dan Tante sudah tahu masa lalu mu. Kalau engkau masih menghormati kami, tolong jaga nama baik keluarga ini. Tahan dirimu sejenak setidaknya sampai Reza pulih secara psikisnya. Waktunya nanti, kamu akan menerima kebebasan." Kata om Rahman dengan suara lembut nan tegas.


Citra mengerutkan keningnya, berusaha memahami kata-kata papa Reza.


"Maaf Om, Citra tidak mengerti maksud Om Rahman." Kata Citra jujur.


"Saat Reza sudah bisa menerima keadaannya, kalian bercerai." Penjelasan om Rahman seperti petir yang menyambar. Citra tidak menyangka kalau ternyata pernikahannya dengan Reza yang dipaksakan bukan untuk benar-benar membina rumah tangga. Namun hanya untuk kesembuhan Reza? Citra menggelengkan kepalanya, ia tidak setuju dengan niat om Rahman. Bagaimanapun pernikahan adalah suatu hal yang sakral ia harus sebisa mungkin mempertahankan pernikahannya.


"Om.. Citra tidak setuju dengan rencana ini. Bagi Citra, pernikahan sekali untuk seumur hidup. Citra akan mempertahankan pernikahan ini." Tekat Citra.


"Plakkk" tamparan keras mendarat di pipi Citra. Meninggalkan rasa panas dan perih menyengat. Seketika air mata Citra mengalir deras membasahi pipi dan semakin membuatnya terasa perih. Citra memegangi pipinya yang terasa sakit.


"Semalam-malaman saya menahan diri. Sebenarnya aku tidak sudi punya mantu seperti mu. Aku sudah tahu ini bakalan terjadi. Namun aku tak menyangka kalau kamu begitu gatal sampai hari pertama pernikahanmu sudah menggoda pria di rumah ini." Tudingan tante Sita membuat hati Citra semakin sakit.


"Ti...tidak, saya tidak melakukannya. Toni yang menggodaku, ia yang melecehkan ku. Om, Tante... meskipun pernikahan ini ku lakukan dengan terpaksa. Namun aku akan berusaha menjadi istri yang baik. Tante dan Om sudah kenal Citra lama, setidaknya Om dan Tante tahu kalau aku tidak mungkin melakukan semua ini." isak Citra berusaha membela diri.


"Om dan Tante baru tahu siapa dirimu sebenarnya. Om tidak menyangka hanya untuk kesenanganmu kamu menjual tubuh pada lelaki kesepian. Om kasihan pada Reza yang telah dibutakan oleh cinta palsumu." Om Rahman mendesah dalam-dalam berusaha menghalau beban di hatinya.


"Om, Tante... Citra tidak seperti itu. Reza lah yang menjual kehormatan Citra. Dia menghianati Citra. Hik...hik..hik." Isak Citra meluapkan kekecewaannya.


"Untunglah Reza sudah menceritakan semua. Jadi air mata dan tangisanmu tidak bisa menipu kami." Tante Sita mengetatkan gerahamnya. Berniat melampiaskan amarahnya pada Citra.

__ADS_1


"Itu tidak benar Tante, Om... tolonglah dengarkan Citra." Protes Citra tak juga direspon Om dan Tante Sita. Membuat Citra memilih diam, ia hanya berdoa dalam hati semoga waktu memberi bukti bahwa dirinya tidak bersalah.


"Semakin cepat Reza sembuh maka kamu akan cepat bebas. Dan kamu bisa bebas kembali ke masa lalumu yang kelam. Tugas mu sekarang, layani dan senangkan Reza. Kami akan memperhitungkan semua, jadi saat kamu pergi dari rumah ini. Kami akan kasih kompensasi yang besar. Ini pertama dan terakhir kita bicara sebagai mertua dan menantu. Selebihnya selalu ingat posisi dan peran mu disini. Kami harap kamu mengerti !!" Ultimatum Om Rahman kembali menghancurkan hati Citra.


Dalam ketidak berdayaannya Citra hanya mengangguk. Rasa sesal menyelinap dalam hatinya. Mengapa ia harus setuju dengan pernikahan yang dipaksakan ini. Sementara keluarga Reza menganggapnya begitu hina. Ini semua ulah Reza. Citra menangis dalam diam. Ia keluar dari ruang kerja om Rahman. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, tak tahu harus pergi ke mana. Ia belum siap bertemu Reza setelah penghinaannya tadi siang.


Citra menuju ke ruang belakang. Deretan kamar asisten rumah tangga berjajar seperti rumah kos-kosan. Ada empat kamar berukuran tidak terlalu besar. Seingat Citra, ia hanya melihat ada tiga art di keluarga Om Rahman. Harusnya ada satu kamar yang tersisa. Citra berniat mengetuk salah satu kamar untuk menanyakan kamar yang kosong. Belum sempat jemarinya menyentuh daun pintu. Ada seseorang yang menyentuh bahunya.


"Sstttt... mbak jangan bikin keributan di sini." bisik suara perempuan memperingatkannya.


"Maaf, saya hanya perlu kamar untuk istirahat malam ini." Bisik balik Citra.


"Sini mbak... ada satu kamar yang kosong." Kata art itu menunjukkan sebuah kamar paling ujung. Ia menyalakan lampu kamar sebelum menguncinya. Citra hanya memandangi dengan rasa penasaran.


Citra melihat kagum pada Imah. Ia seorang gadis muda yang cukup cantik. Namun seketika ada rasa getir menghinggapi hatinya. Bagaimana Imah bisa bertahan bekerja dikeluarga Om Rahman. Apakah ia juga telah jadi mangsa Reza? Citra tersadar dan segera menepiskan pikiran buruknya.


"Mbak Citra, tunggu sebentar di sini. Kuambilkan makanan dulu ya. Jangan lupa kunci pintu dengan ini." Imah menunjukkan sepotong kayu cukup besar yang dipakai sebagai palang pintu yang sangat kuat.


Imah berlalu pergi, Citra menuruti nasehat Imah. Ia mengunci pintu dengan palang kayu. Citra membaringkan tubuhnya dikasur kapuk. Pandangannya menyapu langit-langit kamar. Pikirannya mulai menerawang.


"Tok...tok...tok mbak Citra." Panggilan lirih Imah menyadarkannya dari lamunan. Citra bergegas bangun dan membukakan pintu. Imah membawa sepiring nasi dan segelas air putih. Ia meringsek masuk, padahal Citra mengira Imah hanya menyerahkan makanan dan segera meninggalkannya.

__ADS_1


"Gak papa kan mbak saya disini?" Imah meletakkan nasi dan air putih di atas ranjang. Karena di kamar itu hanya ada sebuah kursi dan ranjang saja. Tidak ada lemari ataupun meja.


Citra hanya mengangguk, sebenarnya ia merasa tidak nyaman. Saat ini ia sangat ingin sendirian. Merenungkan semua kepedihan yang terus saja menimpa hidupnya.


"Mbak Citra." Teguran lirih Imah menyadarkannya dari buaian lamunan.


"Maaf." Citra merasa serba salah karena ketahuan melamun.


"Mbak cepat dimakan takutnya keburu dingin." Imah duduk di kursi kayu. Ia sengaja nungguin Citra makan untuk memastikan Citra makan dengan benar.


Citrapun mulai memakan sedikit demi sedikit makanannya yang terasa pahit.


"Mbak dihabisin makannya, supaya mbak Citra tetap sehat." Bujuk Imah saat melihat Citra tak berselera menghabiskan makanannya.


Citra merasa tidak enak dengan Imah yang sudah repot-repot membawakan makanan untuknya. Meskipun terpaksa, sepiring nasi itu akhirnya habis dimakannya.


"Mbak Citra maaf kalau saya lancang. Saya ingin tanya sesuatu. Mbak Citra cinta ya sama mas Reza?" Tanya Imah penasaran.


Citra terdiam, ia berfikir sejenak. Apakah ia perlu jujur atau berbohong pada Imah? Ia belum mengenal gadis ART di depannya. Bagaimana kalau ternyata Imah adalah mata-mata Reza atau om dan tante Sita?


Tatapan mata Imah begitu menuntut jawaban darinya segera. Citra memutuskan untuk jujur, apa pun akibatnya nanti ia sudah menyiapkan diri.

__ADS_1


Cerita ini saya revisi dengan nama tokoh yang berbeda. Jalan cerita juga semakin menarik, menegangkan dan semakin panas. Kalau penasaran dengan kelanjutannya kunjungi karya saya yang akan mulai terbit awal bulan November di p.f si kuning. Nama pena Carissa. Dengan judul Ujian Cinta.


Untuk info selengkapnya bisa chat di obrolan. Trimakasih.


__ADS_2