
Mbak... putrinya bu Rahmah ya?" Tanya seorang wanita seumuran ibunya.
"Iya bu."
"Saya yang menelephon tadi. Saya menemukan bu Rahmah di pinggir jalan, beliau kena serangan jantung. Jadi saya bawa beliau ke sini." Jawab wanita paruh baya itu menjelaskan.
"Nama saya Dinda bu. Saya sangat berterimakasih atas pertolongan ibu." Kata Dinda.
"Saya bu Ani teman grup pkk bu Rahmah. Saya belum pernah melihat mbak nya di warung".
"Iya bu saya masih kuliah, jadi jarang bisa bantu ibu saya jualan di warung."
"Sepertinya bu Rahmah tadi siang sedang mencari mbak Dinda, karena saat terkena serangan jantung terus menyebut - nyebut nama mbak Dinda. Saya sangat takut jadi bu Rahmah segera saya bawa ke rumah sakit. Di hp bu Rahmah ada no hp mbak Dinda, tapi tidak diangkat sama sekali. Sampai ada telephon masuk tapi sayangnya habis baterai. Kebetulan saya gak bawa hp. Saya tunggu - tunggu dari tadi, saya kira mbak Dinda gak dapat infonya tapi syukurlah sudah datang." Kata bu Ani panjang lebar.
"Terimakasih bu Ani sudah menolong ibu saya." Kata Dinda tulus.
"Iya mbak, sama - sama. Mbak maaf saya permisi pulang dulu ya, karena tadi saya belum mengabari keluarga, semoga bu Rahmah cepat sembuh." Bu Ani buru - buru melangkah pergi meninggalkan rumah sakit. Dinda hanya mengiringnya dengan tatapan mata. Saat bu Ani berjalan jauh, datanglah seorang perawat menghampiri Dinda.
" Apakah mbak ini putrinya bu Rahmah?" Tanya perawat itu pada Dinda.
"Iya mbak saya putrinya bu Rahmah."
"Mbak diminta dokter Toni untuk keruangannya membahas kelanjutan perawatan bu Rahmah."
"Baik mbak, kalau boleh tahu ruangan dr Toni sebelah mana?"
"Ruangan dokter Toni sebelah Ruang Rawat Cendana."
"Terimakasih informasinya mbak."
perawat itu segera berlalu untuk melanjudkan tugasnya. Sementara Dinda menghela nafas dalam - dalam. Ia pun melangkah mencari ruangan dr Toni spesialis jantung.
Didepan ruangan dokter Toni sudah mengantri banyak orang, sampai tempat duduk yang disediakan habis terpakai. Dinda menuju kearah perawat untuk mengambil nomer antrian. Ia mendapatkan nomer Antrian 45. Saat itu baru antrian ke 35 yang dipanggil masuk. Beberapa saat ia terpaksa berdiri karena tidak mendapat tempat duduk.
Dinda memain-mainkan hp ibunya, mencoba menghilangkan kegalauan hatinya. Sampai tak terasa no urutnya mendapat panggilan. Dinda masuk ke dalam ruangan dokter.
Ternyata dokter Toni spesialis jantung masih sangat muda mungkin sekitar tiga puluh tahunan. Parasnya tampan dan berkulit putih. Dinda segera mengemukakan niat nya berkonsultasi mengenai kondisi ibunya. Ia menyerahkan amplop berisi hasil pemeriksaan kehadapan dr Toni. Sesaat dr Toni menyibukkan diri memeriksa berkas- berkas yang baru diterimanya.
__ADS_1
"Begini mbak... saya akan memberikan penjelasan mengenai keadaan jantung ibu Rahmah. Sepertinya ada sumbatan di pembuluh darah jantung yang mengakibatkannya mengalami serangan jantung. Obat-obatan tidak cukup membantu sehingga diperlukan tindakan operasi pemasangan ring jantung segera. Dan tindakan operasi baru bisa dilaksanakan saat kondisi Bu Rahmah stabil dan tentunya administrasinya sudah beres."
Penjelasan dr Toni membuat jantung Dinda berdetak lebih kencang. yang jelas ini bukan karena jatuh cinta. Tapi nyawa ibunya seperti sedang ditaruh di dalam genggaman tangannya.
"Kira- kira berapa biaya operasinya dok?" Tanya Dinda lirih.
"Sekitar sepuluh juta." Dokter Toni mengamati Dinda yang terlihat resah. Ia teringat adik perempuannya yang sebaya dengan gadis di depannya. Segera ia membayangkan bagaimana kalau ia dalam posisi seperti gadis ini? Didorong rasa simpati ia pun memberi tawaran kepada Dinda. "Ehm... mengingat kondisi ibu Rahma saat ini perlu segera dioperasi, Kalau mbak nggak ada dana. Saya bersedia meminjamkan uang. Mbak bisa mengangsur sesuai kemampuan."
Dinda berbinar "Benarkah Dok?? Kegundahan hati Dinda terobati. Akhirnya ibunya bisa segera dioperasi. Air mata bahagia merembes dari ujung matanya. Segera dihapusnya dengan tissue yang baru diambilnya dari atas meja dokter Toni.
"Yank.... apa artinya ini?" Suara seorang gadis mengejutkan Dinda juga dr Toni. Membuat mereka seketika menolehkan kepala ke arah sumber suara. Seorang gadis cantik nan seksi berdiri di ambang pintu. Gadis itu bertubuh tinggi langsing dengan dada dan pinggul yang sangat menawan.
"Sayank.... kapan datang? Kenapa tidak kasih kabar?" dr Toni yang semula terlihat profesional dan berwibawa, berubah seratus delapan puluh derajat. Ia segera beranjak berdiri dari kursinya dan hendak menyongsong gadis cantik di depan pintu. Namun langkahnya seketika terhenti saat melihat sorot mata si gadis melemparkan ancaman mematikan. Dokter Toni benar- benar menggambarkan seorang lagi bucin. Dinda hanya mengamati interaksi kedua orang itu, tanpa bisa melakukan apapun.
"Toni.... kamu selingkuhi aku?" Tanya si gadis cantik dengan suaranya yang lembut dan sangat merdu. Bagi Dinda terdengar seperti suara gadis merayu. Namun kejadian selanjutnya tidak pernah disangkanya.
"Apa maksud mu sayank? Aku cinta mati sama kamu. Tidak akan ada yang lain." Dokter Toni segera mendekati gadis itu dan berlutut dihadapannya. Dinda terperangah melihatnya. Ia tidak percaya pada penglihatannya, bagaimana mungkin seorang dokter spesialis sampai berlutut di hadapan seorang gadis?
"Yank... sebentar lagi kita akan menikah, apakah kamu lupa pada nasehat papa ku supaya kamu menabung?" Kata si gadis cantik sambil mengerling kesal memandang Dinda.
"Oh... maafkan aku sayank. Aku akan membatalkannya." Dokter Toni berdiri dan melangkah kembali ke mejanya. Ia mengambil nafas dalam sebelum berkata kepada Dinda.
"Mbak... tolonglah ibu ku harus segera dioperasi. Berilah saya pinjaman saya akan segera mengembalikannya. Setidaknya ijinkan dokter Toni untuk meminjami saya uang." Dinda terisak, berharap gadis cantik di depannya juga punya hati yang cantik. Saat ini ia hanya mengharap kemurah hatian dokter Toni juga gadis tunangannya. Namun sepertinya, tidak semudah harapannya.
"Aku tidak kenal kamu dan aku tidak mau terlibat dengan masalah mu. Sebaiknya, kamu segera pergi dari sini dan jual tubuh mu untuk bisa membayar biaya operasi juga biaya perawatan ibu mu selama di rumah sakit ini!"
Kata-kata gadis tunangan dokter Toni membuat Dinda begitu terpukul. Kata-kata gadis cantik di depannya telah merendahkan harga dirinya. Rasa sakit di hatinya seketika begitu menyayat hatinya. Dinda segera menyambar tas juga map berisi hasil pemeriksaan ibunya. Ia ingin segera pergi dari ruangan dokter Toni.
Dinda berjalan limbung, seakan tanpa tujuan. Ia baru berhenti saat melihat taman Rumah Sakit yang cukup Asri. Dinda memilih sebuah bangku taman yang ternaungi pohon rindang.
"Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan? Dari mana aku bisa dapatkan uang yang cukup besar untuk pengobatan ibu?" Gumamnya pelan. Air matanya seketika menetes tanpa bisa ditahannya.
"Mungkin aku bisa ngejual ginjalku pada seseorang?" Terbersit sebuah ide gila. Namun ia kembali tercenung.
"Siapa yang mau membeli ginjalku?" Gumam Dinda. Ia kebingungan bagaimana caranya ia bisa menjual ginjal. Apakah mendatangi dokter rumah sakit saja? Entahlah... ia ragu tentang hal itu.
Dinda kembali termenung, ia ingat Fariz, kekasihnya. Bukankah Fariz berjanji akan segera menikahinya? Pastinya kalau ia meminjam uang darinya. Tidak apa-apa bukan?
__ADS_1
Dinda segera mengetikkan nomor telephone Fariz yang dihafalnya di luar kepala. Tidak berapa lama ada jawaban dari seberang.
"Hallo..." Terdengar suara cewek. Seketika jantung Dinda berdegup. "Siapa cewek itu? Jangan-jangan..." Batin Dinda galau.
"Hallo... dengan siapa ini?" Tanya wanita di seberang.
"Hallo, saya Dinda. Fariz ada?" Tanya Dinda ragu-ragu.
"Fariz lagi di kamar mandi. Ada perlu apa? Nanti saya sampaikan pada Fariz." Wanita diseberang menawarkan bantuan.
"Ehm... bisa minta tolong, kasih tahu saja supaya Fariz menghubungi balik." Jawab Dinda ragu.
"Oke." Jawab wanita di seberang dan langsung mematikan telephonnya.
Hati Dinda berdesir perih, ada rasa curiga dan cemburu yang langsung menyergap perasaannya. "Siapa cewek itu? Mengapa sampai dia yang menjawab telephonku? Apakah Fariz berselingkuh?" Gumam Dinda menuangkan segala tanda tanya di hatinya.
"Tringgg..." terdengar suara notifikasi pesan masuk. Pesan dari Fariz.
"Dinda... maaf aku ada kerjaan sampingan. Kalau sudah gak sibuk aku hubungi."
Dinda segera membalasnya, "Riz... ibuk masuk rumah sakit. Bisakah engkau membantu untuk biaya operasi ibuk?"
"Maaf Din... aku belum dapat gajian. Coba minta sama papa dan mama." Balas Fariz.
Dinda termangu. Tidak mungkin baginya minta tolong pada papa dan mama Fariz. Ia malu, ia merasa sungkan. Karena selama ini mereka terlalu banyak membantunya. Dan untuk kali ini Dinda tidak ingin merepotkan papa dan mama Fariz.
Dinda menghirup udara dalam-dalam, Ia menengadahkan kepala ke atas melihat bintang-bintang di atas langit. Ia merasa cemburu pada bintang-bintang kecil. Begitu tinggi dan tak perlu menghadapi masalah seperti dirinya.
Air mata meleleh membasahi pipinya. Ia menyesali keadaan dirinya yang tak berdaya. Pada saat ibunya sedang sakit seperti sekarang ini, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Dinda menangis dalam diam. Setelah beberapa saat ia menumpahkan kesedihannya, ia memutuskan pulang ke rumah. Mungkin ada barang-barang yang bisa dijualnya nanti. Uangnya bisa untuk biaya operasi ibunya.
Dinda berjalan gontai. Seakan tidak ada tenaga lagi yang menyemangati hidupnya. Sebenarnya ia ingin berlama-lama di rumah sakit. Namun disini pun ia tidak bisa apa-apa. Ibunya dirawat di ICU, semuanya dilakukan perawat. Ia hanya bisa memandang ibunya dari balik kaca. Jadi keberadaannya di Rumah sakit malah membuatnya semakin bersedih.
Dinda memutuskan untuk pulang saja. Ia berjalan gontai menyusuri jalan raya. Hingga kakinya terasa pegal, seketika membuatnya sadar. Ia telah berjalan cukup jauh, tanpa memperhatikan langkah kakinya melangkah. Sekarang di jalan sepi yang dilaluinya ini ia merasa takut.
Saat ia menoleh ke sana ke mari, jalanan benar-benar sepi. Bagaimana kalau ia bertemu hantu? Atau mungkin orang jahat yang mengganggunya? Dinda kebingungan.
__ADS_1
Hingga ia dikagetkan suara klakson mobil yang semakin membuatnya takut. Dinda mempercepat langkahnya. Namun mobil dibelakangnya mengikuti dan sesekali membunyikan klakson. "Apa mungkin orang dalam mobil itu mengenalku?" Gumam Dinda. Ia menolehkan kepalanya berusaha melihat pengemudi mobil. Namun lampu mobil sangat menyilaukan.