
Jam sembilan malam, Dinda baru sampai di depan rumah. Ia segera turun dari mobil on line yang ditumpanginya. Saat ia turun bersamaan bu Inayah membuka pintu warung.
"Mbak Dinda sudah pulang?" sambut bu Inayah segera membantu membawakan bawaan Dinda yang lumayan banyak. Karena sepulang belanja tadi, Dinda sempatkan belanja peralatan catering. Segala jenis loyang saji dan panci sup. Tak lupa sebuah mangkuk kRiztal besar yang dibawanya dengan sangat hati-hati.
"Mbak Dinda, tadi bu Valentina bilang kalau untuk acara aRizan besok nambah dua puluh lima porsi." Kabar dari bu Inayah sangat mengejutkan Dinda, karena orderan bahan yang dipesannya hanya cukup untuk lima puluh porsi.
Seandainya ia dapat kabar lebih cepat ia bisa mengordernya lebih awal. Ini juga kesalahannya karena ia tidak mengantisipasi saat ia tidak ada di toko. Bu Inayah tidak punya hand phone sehingga ia tidak bisa berkomunikasi dengannya.
"Bu, saya keluar bentar ya, ada yang kelupaan belum terbeli," pamit Dinda. Ia pun pergi dengan mobil on line yang mengantarnya tadi.
Tidak lebih lima belas menit kemudian Dinda sudah kembali. Bu Inayah masih setia menantikan Dinda di depan warung. Ia sempat merasa bersalah, karena saat ia memberi tahu ada tambahan porsi catering tiba-tiba raut wajah Dinda berubah. Bu Inayah merasa bersalah karena seharusnya ia bisa menelephon atau menulis pesan pada Dinda secepatnya. Namun karena ia tidak punya handphone ia kesulitan untuk menyampaikan pesan padanya.
"Bu... kenapa nunggu Dinda di luar? Ayo kita masuk." Ajak Dinda.
Dinda membuka paper bag belanjaannya, ia menyerahkan sebuah hand phone pada bu Inayah. Dan ada sebuah tablet yang ia belikan untuk dipakai Niki dan Riki.
"Waduh Mbak Dinda, kenapa repot-repot beliin ibu handphone segala?" kata bu Inayah sungkan.
"Dinda baru kepikiran, ninggalin bu Inayah tanpa handphone itu akan sangat menyulitkan. Jadi ini saya belikan supaya kalau ada kabar apa pun akan segera tersampaikan." Kata Dinda sambil membukakan kotak ponsel.
"Ini sudah ada nomer juga sudah Dinda isi dengan pulsa dan kuota. Jadi kalau ada kabar apapun kita akan lebih mudah berkomunikasi." Kata Dinda sambil menyodorkan handphone baru itu pada bu Inayah.
"Terimakasih banyak ya Mbak Dinda." Kata bu Inayah bahagia. Ia tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya bisa memiliki phonsel sendiri.
Malam itu, mereka sempatkan untuk prepare segala jenis bumbu dan memarinasi daging ayam dan bebek. Dinda sudah memastikan semua persiapan sudah rampung saat mereka akan beRiztirahat.
__ADS_1
Jam sebelas siang Dinda sudah sampai di depan sebuah rumah megah. Berkali-kali ia mengecek alamat yang diterimanya dari Valentina. Ia tidak menyangka kalau bos diperusahaan Valentina sangat kaya raya. Rumahnya saja sangat besar dan seperti istana. Halamannya sangat luas dengan taman yang sangat indah. Dinda merasa sedikit minder, bagaimana orang sekaya ini bisa memakai jasa cateringnya yang sangat sederhana.
Dinda berdoa dalam hati, berharap pelanggan cateringnya puas dengan masakannya. Seorang satpam menunjukkan jalan menuju ke pintu samping. Dibantu Niki, Dinda mulai mengangkat barang-barang cateringnya.
Dua orang pelayan menyongsongnya dan ikut membantu. Dinda diarahkan ke sebuah ruangan tempat untuk prasmanan nanti disajikan. Ruangan itu cukup luas, dengan sofa disusun berjajar. Ada tiga buah meja di salah satu ujung ruangan.
Dinda segera menyusun masakannya di atas meja-meja itu. Dinda merasa ada yang kurang, ruangan itu terlihat gersang. Tidak ada dekorasi bunga yang menghiasi. Dinda berinisiatif untuk minta ijin pada pemilik rumah. Salah seorang pelayan masuk keruangan dalam dan kembali bersama seorang wanita paruh baya. Wanita itu masih memakai jubah mandi dan ada rol di rambutnya.
"Oh cateringnya sudah sampai. Bagaimana, sudah selesai di susunnya?" Tanya sang nyonya rumah.
"Sudah Nyonya, tapi sepertinya ruangan ini ada yang kurang Nyonya." Kata Dinda hati-hati.
"Maksudnya?" Tanya Nyoya Desy terkejut.
"Begini Nyonya kalau diijinkan, Apakah bisa saya tambahkan dekorasi rangkaian bunga disini?" Dinda berusaha memberanikan diri.
Bu Desy tersenyum. "Boleh... atur saja yang terbaik ya. Waktumu satu jam lagi apakah sempat?" Tanya nyonya Desy ragu.
"Cukup nyonya, serahkan pada saya." optimis Dinda.
Nyonya Desy mengacungkan ibu jarinya. Ia mempercayakan urusan dekorasi sepenuhnya pada Dinda.
Dinda segera menghubungi Dina sahabatnya. "Din... kalau aku borong semua bungamu berapa harganya?" Tanya Dinda tanpa basa-basi.
"Dua juta lima ratus." jawab Dina sedikit bingung. Ia tidak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu dari sahabatnya yang ia tahu sama-sama kurang mampu seperti dirinya.
__ADS_1
"Ku beli tiga juta sama merangkainya ya. ku serlok langsung kesini. Waktumu lima belas menit." Kata Dinda tegas. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu.
Sebelum waktu yang ditentukan Dinda habis, Dina sudah sampai dengan mengendarai pickup nya. Sebenarnya ia meragukan kata-kata Dinda, namun karena sepagian ini kios bunganya sepi pengunjung, ia memutuskan untuk datang.
Ia sempat heran dengan rumah mewah yang ditujunya. Rasa ragu mulai menghinggapi hatinya, karena rumah mewah itu terlalu sepi. Beruntung ia melihat Dinda keluar dari pintu samping rumah besar.
"Dinda...!" panggil Dina kegirangan melihat Dinda yang terlihat panik.
"Hai... ayo... cepat, ada proyek." Dinda menuntun tangan sahabatnya memasuki ruangan besar bernuansa putih gading.
Dinda menunjukkan ruangan yang harus di make over kurang dari satu jam itu. Dina segera paham pada konsep yang dijabarkan Dinda. Mereka berdua bekerja sama membuat berbagai rangkaian bunga yang sangat indah.
Dua gadis itu berhasil menyelesaikan dekorasi tepat waktu. Dina dan Dinda nampak kelelahan. Mereka duduk di kursi panjang dapur. Seorang pelayan membawakan mereka minuman dingin.
"Din... sejak kapan kamu buka catering?" tanya Dina penasaran.
"Awalnya karena ada pesanan mendesak sementara ibu masih di rawat di rumah sakit. Jadi aku coba-coba menerima orderan itu, eh.. ternyata ada orderan nasi kotak lanjutannya." Cerita Dinda pada temannya. Cerita mereka terhenti saat nyonya Desy menghampiri mereka.
"Saya sangat puas dengan hasil dekorasi kalian. Saya sudah lama sekali tidak melihat dekorasi bunga di rumah saya. Saya berharap nanti saat acara pernikahan anak saya, akan ada lebih banyak rangkaian bunga indah." Kata nyonya Desy sambil melemparkan tatapan penuh arti pada Dinda.
"Bagaimana dengan makanannya? Apakah semua sudah ditata di meja?" tanya nyonya Desy mengecek persiapan Catering dari Dinda.
"Tinggal kuah sop, aneka camilan dan buah saja nyonya. Nanti akan disajikan saat akan mulai acara makan. Tadi saya sudah menjelaskannya pada pelayan." Kata Dinda menjelaskan.
"Nyonya, sepertinya pekerjaan kami di sini sudah rampung. Jadi kami permisi pulang dulu." Kata-kata Dinda membuyarkan rencana nyonya Desy. Buru-buru, ia mencegah ke dua gadis itu pulang.
__ADS_1
"Begini, alangkah baiknya kalau Mbak Dinda tetap di sini karena biasanya tamu akan banyak bertanya mengenai nama makanan atau cara memasaknya. Kalau saya yang jawab tentu kurang pas, lebih baik kalian berdua tetap tinggal ya. Nanti saya tambahi uang lemburnya." Dinda dan Dina mengangguk setuju.