
"Ibu... jangan tinggalkan Dinda sendiri. Ajak Dinda bersama mu Bu. Hik...hik...hik" Dinda menangis pilu di pusara ibunya. Ia tidak menyangka ibu yang dicintainya akan begitu cepat meninggalkannya.
Bu Inayah membiarkan Dinda sendiri. Ia memilih menunggu di bawah sebatang pohon rindang. Bu Inayah tahu, ini adalah masa terberat dalam hidup Dinda. Ia terus setia menunggu sampai Dinda merelakan ibunya.
Matahari sudah mulai menyengat, namun sepertinya Dinda masih enggan untuk meninggalkan pusara ibunya. Bu Rahmah mulai kawatir. Ia mendekati Dinda.
"Mbak sudah siang, ayo kita pulang." Ajak bu Inayah.
"Bu Inayah... kenapa ibu ku pergi apakah ia sudah tak sayang pada ku?" isak Dinda.
"Mbak Dinda, bu Rahmah sangat mencintai mu. Jangan pernah berpikir seperti itu. Kalaupun bu Rahmah dipanggil Tuhan, karena itu adalah kehendak Tuhan. Mbak Dinda harus merelakannya. Mbak Dinda harus tabah dan kuat ya."
Mereka berpelukan saling memberikan penghiburan. Saat ini Dinda sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Lebih-lebih saat Dinda mengalami masa duka. Bu Inayah ingin menjadi pelindung buat Dinda.
"Ayo kita pulang Mbak." Bu Inayah memapah Dinda untuk bangkit. Meskipun awalnya enggan, akhirnya Dinda menurutinya juga.
Saat mereka tiba di rumah, ada beberapa tetangga yang datang ke rumah. Tanpa disuruh mereka memasakkan makanan untuk Dinda juga keluarga bu Inayah.
Valentina dan Nyonya Desy datang saat sore hari. Dinda bertanya-tanya dalam hati, mengapa Ridho tidak datang? Dari informasi Nyonya Desy, Ridho sedang di Boston untuk mengurus bisnis di sana. Ridho juga menyampaikan duka Dinanya, ia juga menitipkan sebuah amplop beRizi sejumlah uang yang cukup banyak.
Ada perasaan kecewa saat Ridho tidak datang. Dinda merasa kehadiran Ridho akan lebih berharga dari gepokan uang yang diberikannya. Namun Dinda menepis perasaan aneh yang mulai tumbuh di hatinya. Bagaimanapun ia hanyalah pungguk yang merindukan bulan.
Hari-hari berkabung, Dinda habiskan dengan berdiam diri di kamarnya. Bisa seharian ia tidak keluar sama sekali dari kamarnya. Bu Inayah dengan setia mengantarkan makanan ke dalam kamarnya. Bahkan ia akan menunggui sampai Dinda memakannya walau hanya beberapa suapan.
Sudah hampir satu bulan, Dinda masih saja mengurung diri di kamar. Hal itu membuat bu Inayah sangat kawatir. Ia pun menyusun rencana untuk memaksa Dinda keluar dari kesedihannya.
__ADS_1
"Tok...tok...tok.."
"Mbak Dinla... mbak Dinla... tolong ibu ku. Ibu ku sakit mbak...!!!" teriak Riki dengan suara cadelnya.
Dinda yang saat itu sedang memandangi foto masa kecilnya bersama bapak dan ibunya seketika terperanjat. Ia segera membuka pintu. Nampak Riki terkejut karena ia membuka pintu tiba- tiba.
"Ada apa Rik?" tanya Dinda merasa terganggu.
"Mbak Dinla... ibu ku berdalah."
"Kenapa? Kenapa bu Inayah sampai berdarah?" Seketika Dinda panik dan segera berlari ke dapur. Di sana ia melihat bagaimana bu Inayah begitu kesulitan saat memotong-motong sayur. Ada bebatan perban membungkus jari-jari tangan kanannya.
"Bu Inayah... ada apa Bu?" Dinda langsung merebut pisau dari tangan bu Inayah. Ia menggenggam jari-jari bu Inayah dengan sangat hati-hati.
"Cuma sedikit luka Mbak, tadi gak sengaja kena pisau." Bu Inayah mengeryit kesakitan. Membuat Dinda merasa sangat bersalah. Selama ini ia membiarkan bu Inayah mengerjakan usaha catering mereka sendirian dibantu sedikit oleh Niki. Semua tanggung jawab rumah dilepas begitu saja.
Bu Inayah bangkit berdiri dan memberanikan diri memeluk dan mengecup kening Dinda. Ia sangat bahagia, melihat Dinda bersemangat kembali. Walaupun ia tahu, kedukaan dalam hati Dinda tidak akan mudah terhapuskan. Bu Inayah tetap yakin, perlahan-lahan duka dalam hati Dinda akan tergantikan dengan kebahagiaan.
"Sudah Bu... kenapa pakai peluk-peluk segala? Dinda kan sudah dewasa." Gurau Dinda, sudah mulai ada senyum tipis di sudut bibirnya.
"Ibu mau masak apa ini?" Tanya Dinda kebingungan.
"Menu untuk pesanan PT Danu Arta 50 kotak, Bebek goreng, sayur urap, sambal terasi, krupuk dan salad buah. Pesanan Koperasi Mandiri 50 kotak, beda ikannya Nila goreng. Dan pesanan bu Halimah 100 kotak, ikannya ayam kremes." Bu Inayah menunjukkan masakan yang sudah selesai dibuatnya.
Dinda tercengang, ia tidak menyangka kalau ada pelanggan baru. Hampir sebulan penuh ia tidak menginjakkan kakinya di dapur. Bahkan untuk makan saja, bu Inayah repot-repot mengantarkan ke kamarnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Bu, sudah banyak pelanggan nya. Selama ini Bu Inayah apa gak kerepotan mengerjakannya sendiri?" Tanya Dinda keheranan.
"Ibu belajar banyak dari Mbak Dinda cara mengatur waktu. Juga Ibu akali untuk bumbu-bumbu, ibu sengaja pesan yang sudah digiling halus, jadi gak repot lagi." Dinda mengangguk, ia kagum bu Inayah bisa menangani cateringnya sendiri.
Bahkan ia melihat tumpukan kardus kotak nasi menggunung di pojok warungnya. Kotak-kotak nasi menjadi tugas Niki dan Riki. Bahkan anak-anak kecil itu sudah cekatan menyusun aneka menu ke dalam kotak makan.
Meskipun Dinda melarang bu Inayah bekerja, wanita paruh baya itu masih tetap membantu. Sehingga setengah jam sebelum waktu ditentukan, nasi kotak pesanan sudah selesai dikerjakan.
"Bu... nanti malam kita jalan-jalan ya.. sebagai permintaan maaf Dinda karena begitu lama Dinda mengacuhkan Ibu, Niki dan Riki." Ajak Dinda ada senyuman mengembang di bibirnya.
Malam itu akhirnya datang juga saat Dinda keluar bersama keluarga barunya. Ada perasaan bahagia meliputi mereka. Terlebih bu Inayah. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur dalam hatinya saat Dinda bisa tertawa lepas. Bersama Niki dan Riki, Dinda bisa tersenyum dan tertawa bahagia.
Mereka bersenang-senang memainkan berbagai jenis permainan di Game Zone. Dinda tidak segan mengisi kartu mereka dengan jumlah koin yang cukup besar.
Mereka baru berhenti saat bu Inayah mengajak mereka beRiztirahat. Di sebuah Restoran Jepang mereka memesan aneka makanan dan minuman. Malam itu mereka melupakan sejenak segala duka dan rutinitas pekerjaan yang melelahkan. Makan makanan mahal sampai kenyang dan berbelanja banyak baju dan beberapa alat masak.
Hampir jam sembilan malam, mereka baru pulang dari mall. Saat mereka turun dari mobil on line. Mereka keheranan melihat beberapa orang duduk di teras.
Dinda baru mengenali, kalau dua orang itu adalah papa dan mama Fariz. Dinda sangat terkejut, mengapa malam-malam begini orang tua Fariz datang ke rumahnya? Meskipun Dinda sangat membenci Fariz, namun ia tetap menghormati Bapak Rahman dan Ibu Sita. Bagaimanapun kedua orang itu memperlakukan dia sangat baik dan banyak hutang budi yang telah mereka berikan. Membuatnya menutup rapat-rapat segala kejahatan Fariz terhadapnya.
"Om... Tante... sudah lamakah menunggu, silakan masuk Om...Tante.." Dinda mempersilakan orang tua Fariz masuk ke dalam rumah.
Bu Inayah, Niki dan Riki membereskan kantung- kantung belanja mereka. Niki dan Riki langsung masuk ke dalam kamar. Sementara bu Inayah menuju ke dapur membuatkan minum untuk tamunya.
"Ada apa Om, Tante... malam-malam begini datang ke rumah?"
__ADS_1
"Tante dan Om sengaja menunggumu pulang. Ada hal penting yang ingin Om bicarakan." Kata Pak Rahman serius.