Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
surprise


__ADS_3

Pak Dito kelabakan setelah mendengar perintah tiba-tiba dari bos nya. Ia sangat pusing dibuatnya. Bagaimana bisa Raphael segitu gampangnya meninggalkan urusan penting nya disini. Kalau saja mereka di luar kota mungkin tidak terlalu masalah. Namun ini mereka di Melbourne yang harus ditempuh sebelas Jam sampai ke Jakarta.


Pak Dito tidak berani protes, karena itu diluar kapasitas nya hanya sebagai seorang asisten. Ia harus membuat pengaturan mendadak. Yang jelas pertemuan dengan kliennya harus di ubah sesuai keinginan Raphael sebagai bos besarnya.


Memindahkan tempat pertemuan dengan klien tidak sesederhana yang difikirkan nya. Klien Raphael bukanlah orang biasa. Mereka adalah pemilik perusahaan besar, waktu mereka sangat berharga. Sehingga untuk mendapatkan sebuah kesepakatan perubahan waktu dan tempat pertemuan, harus melalui negoisasi yang cukup alot.


Raphael menyempatkan diri mendatangi kamar Pak Dito di samping kamarnya. Ia ingin memastikan pekerjaan pak Dito beres.


"Tok...tok...tok"


Pak Dito sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Ia sangat kesal karena ada yang mengganggunya. Tadi ia lupa menyalakan tanda 'jangan di ganggu' di depan pintu kamarnya. Kalau ia ingin tidak ada yang mengganggu ia harus memasang tanda. Pak Dito bergegas membukakan pintu kamarnya. Ia sangat terkejut melihat bos nya sudah berdiri diambang pintu. Tidak biasanya, bos nya datang menemuinya.


"Tuan ?" Seketika kegugupan mendera pak Dito. Jangan-jangan ia melakukan kesalahan pada bosnya?


"Maaf ya pak sudah membuat mu repot. Kalau tidak bisa menyelesaikan kerja sama dengan perusahaan Excellent, tidak perlu dipaksakan." Kata datar Raphael mengandung beribu makna yang sulit dipahami.


Raphael meninggalkan pak Dito yang masih terbengong sambil memegangi daun pintu. Seakan daun pintu itulah yang bisa membuatnya tegak berdiri. Apakah maksud bos nya itu? Apakah ia telah meragukan kinerja nya? Proyek dengan perusahaan Excellent bernilai sangat besar, jutaan dolar. .Kalau sampai dilepas sama halnya ia menyerah kalah dan bersiap menandatangani surat pengunduran diri nya.


Pak Dito segera menutup pintu dan melanjutkan pekerjaannya. Ia harus bekerja keras agar tidak mengecewakan bosnya. Pak Dito buru-buru memeriksa semua kesiapan pemindahan tempat meeting.


Raphael berjalan kembali menuju kamarnya. Namun ada seseorang yang memanggil namanya. Saat ia berbalik mencari sumber suara, seketika pupil matanya melebar terkejut.

__ADS_1


"Raphael...!" sapa seorang gadis langsing dengan rambut keemasan tergerai di bahunya. Sang gadis langsung menghambur dan memeluknya, meninggalkan pria yang dari tadi merangkulnya.


"Raphael... aku kangen!" seru gadis itu manja. Ia pun tidak segan-segan langsung menciumi pipi Raphael yang seketika merona karena malu.


"Sudah... sudah Karen.... ku mohon hentikan. Jangan membuat orang salah paham!" Seru Raphael tertahan. Ia segera mendorong gadis itu untuk menjauhinya.


"Kapan datang? Mengapa tidak pulang? Kamu tahu aku sangat merindukan mu?" Karen mendelik pura-pura marah. Ia berkacak pinggang dan memelototi Raphael yang hanya bisa geleng-geleng kepala.


Karen adalah adik angkatnya, umurnya setahun lebih muda darinya. Namun Karen tidak pernah mau memanggilnya kakak. Selalu saja sikap Karen padanya sangat ambigu. Di sisi lain, ia sangat manja seperti seorang adik yang menggemaskan. Namun di sisi lain, sikapnya yang agresif, perkataan nya yang vulgar merayu Raphael. Selalu sukses membuat Raphael serba salah.


Perubahan Karen nampak drastis setelah ia putus dengan Cloe Pernah sekali waktu, Karen masuk ke dalam kamarnya. Ia menangis dan berkata pada Raphael kalau ia sangat mencintainya. Selama ini ia tidak berani mengatakan karena tidak ingin bersaing dengan kakaknya sendiri. Namun saat ia tahu kalau Raphael dan Cloe sudah putus, Karen memberanikan diri menyatakan cintanya.


Hal itu membuat Raphael sangat terkejut. Bagaimanapun, ia tidak pernah punya perasaan lebih kepada Karen. Ia telah menganggap Karen sebagai adik nya sendiri. Tidak bisa lebih dari itu. Bagaimanapun Raphael berusaha membuat penjelasan, Karen tidak mau mengerti. Ia merayu Raphael, menciuminya, bahkan ia berani menanggalkan bajunya di depan kakak angkatnya itu.


"Karen, saya ada urusan penting sekarang. Maaf!" Raphael buru-buru meninggalkan Karen yang tercengang. Ia tidak ingin terjebak lagi oleh rayuan adik angkatnya. Ia melangkah asal yang terpenting bisa menjauhi gadis itu. Sekalipun ia harus mencari penginapan yang lain.


"Raphael... tunggu...!" Seru Karen buru-buru. Ia pun mengejar Raphael yang tidak memedulikan teriakannya. Raphael masuk ke lift. Berpura-pura tidak mendengar teriakan Karen. Gadis itu tidak putus asa, dia segera menyusulnya.


"Raphael... Daddy sakit. Apakah kamu tidak perduli?" Jerit Karen saat ia akhirnya bisa menyusul Raphael masuk ke dalam lift. Karen menunjukkan ekspresi serius.


Raphael terdiam sesaat. Ia masih membuat banyak pertimbangan.

__ADS_1


"Daddy saat ini dirawat di Rumah Sakit. Ia baru mengalami kecelakaan mobil." Karen terus memberi penjelasan, meskipun Raphael tidak meresponnya sama sekali.


"Raphael... apakah engkau masih marah pada ku? Sudah lima tahun berlalu. Waktu itu aku masih seorang gadis yang naif. Sekarang aku sudah bertunangan, aku tidak akan menggoda mu lagi. Daddy pasti bahagia, melihat mu mengunjunginya di rumah sakit." Karen terus saja membujuk Raphael agar mau menemui ayah Karen yang adalah ayah angkatnya juga.


Raphael lagi-lagi hanya diam. Ia masih ingat, lima tahun lalu saat ia pergi dari rumah keluarga angkatnya. Ada sebuah kejadian yang membuatnya tidak ingin kembali menjejakkan kaki ke rumah itu. Semuanya berawal dari sikap agresif Karen terhadapnya. Saat gadis itu mencoba merayu Raphael di kamarnya. Secara tak terduga, Daddy memergokinya. Tanpa mendengar kan penjelasan Raphael ia melampiaskan kemarahan. Raphael dipukulinya habis-habisan. Kata-kata buruk dilontarkan nya tanpa mempertimbangkan perasaan Raphael.


Raphael memilih pergi. Bukan karena ia takut pada Daddy nya. Bisa saja ia menaruh dendam dan membalas kejahatan ayah angkatnya. Namun karena ia sangat menghormati orang tua angkatnya. Ia memilih menghindar.


"Raphael... tolong temui Daddy." Pinta Karen dengan sangat.


"Ya... ku usahakan." Raphael hanya membalas singkat. Bagaimanapun kejadian lima tahun lalu tidak mudah untuk dilupakannya. Itu telah meninggalkan bekas luka yang sangat dalam. Ia sangat kecewa pada Daddy yang tidak mau sedikitpun mendengarkan penjelasannya. Kata-kata Daddy masih jelas terngiang di telinga nya ia dianggap sebagai orang yang membalas kejahatan pada kebaikan ayah angkatnya.


Raphael segera melangkah meninggalkan lift. Ia memutuskan malam ini akan mencari penginapan lain agar tidak bertemu lagi dengan Karen.


Sementara itu Karen kembali ke kamarnya di lantai lima belas. Ia datang menemui kekasihnya yang sedang duduk santai menikmati tayangan tv kabel.


"Hubby... maaf, itu tadi kakak angkat ku, kami sudah lima tahun berpisah." Kata Karen mencoba meluluhkan hati tunangannya. Ia segera memeluk pria berambut perak itu, sambil memberikan kecupan mesra.


"Oh .. jadi pria itu Raphael yang sering Honey ceritain?" Donald mengkonfirmasi.


"Ya... betul." Senyuman lebar Karen nampak misterius.

__ADS_1


"Apakah kamu akan tetap melakukan rencana mu itu?" Donald merengkuh Karen ke dalam pelukannya.


"Ya.... rencana itu harus segera dijalankan dengan hati-hati."


__ADS_2