
"Dinda, Om dan Tante sudah tahu masa lalu mu. Kalau kamu masih menghormati kami, tolong jaga nama baik keluarga ini. Tahan dirimu sejenak setidaknya sampai Fariz pulih secara psikisnya. Waktunya nanti, kamu akan menerima kebebasan." Kata om Rahman dengan suara lembut nan tegas.
Dinda mengerutkan keningnya, berusaha memahami kata-kata papa Fariz.
"Maaf Om, Dinda tidak mengerti maksud Om Rahman." Kata Dinda jujur.
"Saat Fariz sudah bisa menerima keadaannya, kalian bercerai." Penjelasan om Rahman seperti petir yang menyambar. Dinda tidak menyangka kalau ternyata pernikahannya dengan Fariz yang dipaksakan bukan untuk benar-benar membina rumah tangga. Namun hanya untuk kesembuhan Fariz? Dinda menggelengkan kepalanya, ia tidak setuju dengan niat om Rahman. Bagaimanapun pernikahan adalah suatu hal yang sakral ia harus sebisa mungkin mempertahankan pernikahannya.
"Om.. Dinda tidak setuju dengan rencana ini. Bagi Dinda, pernikahan sekali untuk seumur hidup. Dinda akan mempertahankan pernikahan ini. Bagaimanapun mas Fariz sudah menjadi suami sah Dinda. Dinda akan mengabdi menjadi istri yang baik buat mas Fariz." Tekat Dinda.
"Plakkk" tamparan keras mendarat di pipi Dinda. Meninggalkan rasa panas dan perih menyengat. Seketika air mata Dinda mengalir deras membasahi pipi dan semakin membuatnya terasa perih. Dinda memegangi pipinya yang terasa panas menyengat.
"Semalam-malaman saya menahan diri. Sebenarnya aku tidak sudi punya mantu seperti mu. Aku sudah tahu ini bakalan terjadi. Namun aku tak menyangka kalau kamu begitu gatal sampai hari pertama pernikahanmu sudah menggoda pria di rumah ini." Tudingan tante Sita membuat hati Dinda semakin sakit.
"Ti...tidak, saya tidak melakukannya. Toni yang menggodaku, ia yang melecehkan ku. Om, Tante... meskipun pernikahan ini ku lakukan dengan terpaksa. Namun aku akan berusaha menjadi istri yang baik. Tante dan Om sudah kenal Dinda lama, setidaknya Om dan Tante tahu kalau aku tidak mungkin melakukan semua ini." isak Dinda berusaha membela diri.
"Om dan Tante baru tahu siapa dirimu sebenarnya. Om tidak menyangka hanya untuk kesenanganmu kamu menjual tubuh pada lelaki kesepian. Om kasihan pada Fariz yang telah dibutakan oleh cinta palsumu." Om Rahman mendesah dalam-dalam berusaha menghalau beban di hatinya.
"Om, Tante... Dinda tidak seperti itu. Fariz lah yang menjual kehormatan Dinda. Dia menghianati Dinda. Hik...hik..hik." Isak Dinda meluapkan kekecewaannya.
"Untunglah Fariz sudah menceritakan semua. Jadi air mata dan tangisanmu tidak bisa menipu kami." Tante Sita mengetatkan gerahamnya. Berniat melampiaskan amarahnya pada Dinda.
__ADS_1
"Itu tidak benar Tante, Om... tolonglah dengarkan Dinda." Protes Dinda tak juga direspon Om dan Tante Sita. Membuat Dinda memilih diam, ia hanya berdoa dalam hati semoga waktu memberi bukti bahwa dirinya tidak bersalah.
"Semakin cepat Fariz sembuh maka kamu akan cepat bebas. Dan kamu bisa bebas kembali ke masa lalumu yang kelam. Tugas mu sekarang, layani dan senangkan Fariz. Kami akan memperhitungkan semua, jadi saat kamu pergi dari rumah ini. Kami akan kasih kompensasi yang besar. Ini pertama dan terakhir kita bicara sebagai mertua dan menantu. Selebihnya selalu ingat posisi dan peran mu disini. Kami harap kamu mengerti !!" Ultimatum Om Rahman kembali menghancurkan hati Dinda.
Dalam ketidak berdayaannya Dinda hanya mengangguk. Rasa sesal menyelinap dalam hatinya. Mengapa ia harus setuju dengan pernikahan yang dipaksakan ini. Sementara keluarga Fariz menganggapnya begitu hina. Ini semua ulah Fariz. Dinda menangis dalam diam. Ia keluar dari ruang kerja om Rahman. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, tak tahu harus pergi ke mana. Ia belum siap bertemu Fariz setelah penghinaannya tadi siang.
Dinda menuju ke ruang belakang. Deretan kamar asisten rumah tangga berjajar seperti rumah kos-kosan. Ada empat kamar berukuran tidak terlalu besar. Seingat Dinda, ia hanya melihat ada tiga asisten rumah tangga di keluarga Om Rahman. Harusnya ada satu kamar yang tersisa. Dinda berniat mengetuk salah satu kamar untuk menanyakan kamar yang kosong. Belum sempat jemarinya menyentuh daun pintu. Ada seseorang yang menyentuh bahunya.
"Sstttt... mbak jangan bikin keributan di sini." bisik suara perempuan memperingatkannya.
"Maaf, saya hanya perlu kamar untuk istirahat malam ini." Bisik balik Dinda.
"Mbak Dinda perkenalkan nama saya Imah. Mbak yang sabar ya." Kata Imah memberi penghiburan.
Dinda melihat kagum pada Imah. Ia seorang gadis muda yang cukup cantik. Namun seketika ada rasa getir menghinggapi hatinya. Bagaimana Imah bisa bertahan bekerja dikeluarga Om Rahman. Apakah ia juga telah jadi mangsa Fariz? Dinda tersadar dan segera menepiskan pikiran buruknya.
"Mbak Dinda, tunggu sebentar di sini. Kuambilkan makanan dulu ya. Jangan lupa kunci pintu dengan ini." Imah menunjukkan sepotong kayu cukup besar yang dipakai sebagai palang pintu yang sangat kuat.
Imah berlalu pergi, Dinda menuruti nasehat Imah. Ia mengunci pintu dengan palang kayu. Dinda membaringkan tubuhnya dikasur kapuk. Pandangannya menyapu langit-langit kamar. Pikirannya mulai menerawang.
"Tok...tok...tok mbak Dinda." Panggilan lirih Imah menyadarkannya dari lamunan. Dinda bergegas bangun dan membukakan pintu. Imah membawa sepiring nasi dan segelas air putih. Ia meringsek masuk, padahal Dinda mengira Imah hanya menyerahkan makanan dan segera meninggalkannya.
__ADS_1
"Gak papa kan mbak saya disini?" Imah meletakkan nasi dan air putih di atas ranjang. Karena di kamar itu hanya ada sebuah kursi dan ranjang saja. Tidak ada lemari ataupun meja.
Dinda hanya mengangguk, sebenarnya ia merasa tidak nyaman. Saat ini ia sangat ingin sendirian. Merenungkan semua kepedihan yang terus saja menimpa hidupnya.
"Mbak Dinda." Teguran lirih Imah menyadarkannya dari buaian lamunan.
"Maaf." Dinda merasa serba salah karena ketahuan melamun.
"Mbak cepat dimakan takutnya keburu dingin." Imah duduk di kursi kayu. Ia sengaja nungguin Dinda makan untuk memastikan Dinda makan dengan benar.
Dindapun mulai memakan sedikit demi sedikit makanannya yang terasa pahit.
"Mbak dihabisin makanannya, supaya mbak Dinda tetap sehat." Bujuk Imah saat melihat Dinda tak berselera menghabiskan makanannya.
Dinda merasa tidak enak dengan Imah yang sudah repot-repot membawakan makanan untuknya. Meskipun terpaksa, sepiring nasi itu akhirnya habis dimakannya.
"Mbak Dinda maaf kalau saya lancang. Saya ingin tanya sesuatu. Mbak Dinda cinta ya sama mas Fariz?" Tanya Imah penasaran.
Dinda terdiam, ia berfikir sejenak. Apakah ia perlu jujur atau berbohong pada Imah? Ia belum mengenal gadis ART di depannya. Bagaimana kalau ternyata Imah adalah mata-mata Fariz atau om dan tante Sita?
Tatapan mata Imah begitu menuntut jawaban darinya segera. Dinda memutuskan untuk jujur, apa pun akibatnya nanti ia sudah menyiapkan diri.
__ADS_1