Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Bangkit


__ADS_3

Tangan Dinda gemetaran saat ia mulai memakai kembali bajunya. Hidupnya kini benar-benar hancur. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa ia berakhir di kamar asing dengan Ridho, pria yang baru dikenalnya?


Dinda mencari-mencari tas kecilnya. Akhirnya Dinda menemukan tasnya tergeletak di atas meja. Ia segera mengeluarkan ponselnya, dan segera membuat sebuah panggilan. Tak berapa lama terdengar jawaban dari seberang.


"Selamat pagi balon.. dasar wanita murahan. Kamu jual tubuhmu demi uang hah???"


"Riz.... apa yang kamu lakukan pada ku?" Dinda berdiri kaku. Ia sangat terkejut dengan kata-kata Fariz yang membuat telinganya panas.


"Kamu tidur dengan pria lain untuk dapat uang kan? Hahahah. Wanita bodoh, mudah banget masuk perangkap ku. Hahahah." Fariz tertawa puas.


Amarah Dinda meledak mendengar pengakuan kekasihnya. Ternyata semua yang terjadi adalah rencana Fariz. Mengapa?


"Riz... kau harus bertanggung jawab!" Teriak Dinda menumpahkan emosinya.


"Dengar ya gadis bodoh. Aku tidak pernah mencintaimu sama sekali. Kalau kau berani-beraninya datang ke rumah apalagi mengadu pada papa atau mamaku. Aku akan percepat kematian ibumu. Ingat itu!" Ancam Fariz. Ia pun menutup telephonnya.


Dinda terguncang. Ia tidak menyangka pada apa yang ia dengar barusan. Fariz tidak pernah mencintainya? Selama ini hubungan mereka hanya sandiwara. Dan Fariz yang telah dianggapnya kekasihnya sendiri telah menjual kehormatannya pada pria lain?


Dinda terduduk lemas. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas karpet tebal. Ia menangis dan meraung. Kenapa musibah ini terjadi beruntun dalam hidupnya?


Beberapa saat ia hanyut dalam kepedihannya. Menumpahkan segala perih hati yang dirasanya. Kepedihan karena dikhianati kekasihnya.


Hampir satu jam ia meluapkan kesedihannya dalam tangisan. Ia tiba-tiba teringat pada ibunya. Ia harus kuat, agar ia bisa menyelamatkan ibunya.

__ADS_1


Sesaat Dinda memandang pada sosok pria yang terbaring dalam tidur pulas. "Apakah aku harus minta pertanggung jawaban pria itu?" pikirnya dalam hati. "Kalau itu ia lakukan, sama halnya ia menjual kehormatannya sendiri. Mungkin pria itu telah memberikan uang yang banyak pada Fariz."


Dinda memilih untuk pergi diam-diam. Ia memutuskan menjalani sendiri kehidupannya yang terlanjur kelam.


Dengan susah payah ia mencari jalan keluar dari hotel dan berakhir di lobi club yang ia ingat telah didatanginya semalam.


Dinda menghentikan sebuah taxi. Taxi itu membawanya pulang ke rumah. Ia segera berlari masuk kedalam rumahnya yang sangat sederhana. Sesampainya ia di dalam kamar, tangisan pun pecah.


"Ya Tuhan, kenapa malang sekali nasib ku? Dalam satu malam hidupku hancur. Hiks... hiks... hiks" Tangisan pilu Dinda mengenang nasib buruk yang menimpanya.


Dinda mengasihani dirinya sendiri. Di peluknya sebuah foto keluarga yang tergeletak di atas meja. Sesaat ia memandang ke dalam foto ada gambar bapak dan ibu di sana, juga gambar dirinya waktu ia baru masuk sekolah Dasar.


"Bapak... ibu... maaafkan Dinda, tidak bisa mempertahankan kehormatan Dinda." Tangisan Dinda kembali meledak. Ia merasa sangat sesak hatinya. Saat mengingat kata-kata Fariz tadi, membuat kemarahan dan kebencian Dinda menumpuk di dadanya.


Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dinda segera mengumpulkan barang-barang pemberian Fariz dan segala yang berhubungan dengannya. Ia membawanya ke dapur. Dan dalam tungku tempat masak, ia membakar semua barang-barang itu hingga tak bersisa.


Dinda tertunduk getir melihat sisa-sisa abu bakaran di dalam tungku. Seperti hidupnya yang sudah tak ada harapan lagi. Dinda mengambil sebuah pisau. Ia ingin mengakhiri hidupnya. Namun saat ia mengingat Ibunya yang terbaring di ranjang rumah sakit, seketika ia menghentikan tindakannya.


Ia tidak mungkin mengakhiri hidupnya karena Ibunya memerlukan dia untuk merawatnya. Kalau ia mati, siapa yang bisa jamin keselamatan ibunya?


Dinda terduduk, ia hanya bisa menangis dan menangis. Menyesali semua yang terjadi pada dirinya. Tanpa disadari telah beberapa jam ia terpaku ditempat duduknya. Dinda bangkit dan menuju ke kamar mandi.


Dinda menyalakan air dan mengisi bak mandi. Ia ingin menyegarkan dirinya dalam guyuran air yang menyegarkan. Ia mengguyur kepala hingga ke badannya. Memberikan rasa dingin yang menyejukkan. Diusapkan busa sabun keseluruh tubuhnya dan berusaha menghapus jejak-jejak pria yang mungkin tersebar di permukaan kulitnya.

__ADS_1


Ada rasa jijik saat membayangkan tubuhnya disentuh pria asing. Sabun cair satu botol sampai habis dipakainya untuk mandi. Namun rasa jijik masih terus menguar dipermukaan kulitnya. Badannya sudah menggigil kedinginan, dan kulit telapak tangannya sudah berkerut karena pengaruh lamanya dia di air. Dinda pun mengakhiri acara mandinya.


Selesai berpakaian, Dinda duduk merenung di salah satu kursi di warung ibunya. Ya melalui warung ini mereka telah berhasil melalui masa-masa sulit di tahun-tahun sepeninggal bapaknya. Warung itulah satu-satunya sumber pendapatan mereka selama ini. Namun tidak mungkin Dinda bisa meneruskan usaha ibunya. Ia tidak sepandai ibunya dalam hal memasak. Tiba-tiba ada suara ketukan mengagetkannya.


Dinda bergegas untuk mengetahui siapa tamu yang mengetuk pintu warungnya.


"Slamat pagi... Bu Rahmah ada?" Tanya seorang wanita muda saat Dinda keluar dari pintu warung sederhananya.


"Ya slamat pagi. Ibu sedang dirawat di rumah sakit. Maaf ada apa ya mbak, apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dinda masih dengan suara parau.


"Ehm gini, saya salah satu pelanggan bu Rahmah. Besok saya ada acara bagi-bagi nasi kotak pada yang membutuhkan. Saya berencana memesan seratus kotak. Apakah mbak menerima pesanan? Saya mau pesan yang harga tiga puluh ribuan." Kata wanita muda berbaju ala kantoran itu mendesak.


Dinda termenung sesaat. Bagaimana ini? Apakah orderan ini bisa diterimanya? Ia sempat ragu, bagaimana kalau pelanggannya kecewa karena masakan yang kurang pas? Namun saat menghitung uang yang akan segera di dapatnya, ia memutuskan untuk menerima saja orderan itu.


"Bagaimana kalau kita bicarakan di dalam?" Undang Dinda, mengajak wanita itu masuk ke dalam warung.


"Begini mbak, saya tidak ada jasa pengantaran...." jawab Dinda ragu, yang segera dipotong oleh wanita muda itu.


"Oh... gak masalah, nanti saya yang ambil. Nasi kotak itu untuk makan siang. Jam sebelas siang saya ambil bisa?" Tanya wanita muda itu bersemangat.


"Bisa. Gini mbak apakah bisa dibayarkan dulu dp nya, agar saya bisa pakai untuk belanja?" Tanya Dinda hati-hati. Saat ini ia tidak punya uang sedikitpun. Uang pemberian bu RT kemarin sudah dimasukkan sebagai deposito di Rumah sakit tempat ibunya di rawat.


"Saya bayar sekarang aja semua. Ini tiga juta cash." Kata wanita muda itu menyodorkan segepok uang ratusan ribu rupiah.

__ADS_1


"Ini kartu nama saya, sms ya besok, kalau nasi kotaknya sudah siap." Kata nya mengingatkan Dinda.


"Iya mbak, saya pasti besok cepat mengabari saat makanannya siap. Mbak trimakasih atas kepercayaannya." Kata Dinda tulus. Ia merasa wanita itu datang sebagai jawaban atas masalah yang dihadapinya.


__ADS_2