Antara Dendam Dan Cinta

Antara Dendam Dan Cinta
Pembuktian Cinta


__ADS_3

"Katakan, apakah engkau benar - benar mencintaiku?" Tanya Fariz tiba-tiba saat Dinda menyimpan rantang makanan di atas meja.


Sebuah pertanyaan yang sering ia dengar dari Fariz. Sejenak Dinda terdiam. Ia jengah kalau terus membuat alasan yang tidak pernah bisa diterima oleh Fariz.


Dinda menatap Fariz. Pria tampan yang telah memikat hatinya.


"Fariz, engkau tahukan aku sangat mencintaimu. Kamu meragukan cinta ku? Setelah empat tahun kita pacaran?" Tanya Dinda.


"Din, kamu tidak menjawab pertanyaan ku. Selama empat tahun kita pacaran cuma pegangan tangan? Lihat pasangan - pasangan yang lain, mereka bisa romantis. Kalau seperti ini bukan cinta Din. Hubungan kita seperti pertemanan biasa bukan hubungan dua orang yang saling mencintai." Fariz menghela nafas sebal, meluapkan kekesalannya pada Dinda.


"Riz, aku menjaga kesucian ku buat kamu juga. Tunggu sampai menikah dan aku akan serahkan semua padamu." Dinda berusaha memberi pengertian pada Fariz kekasihnya.


"Kalau kamu percaya dan cinta pada ku, bukankah sama saja kalau kamu serahkan sekarang atau nanti?"


Fariz tidak mau kalah. Ia seorang penakluk wanita. Belum pernah ia jumpai gadis keras kepala seperti Dinda yang tidak mau disentuh olehnya. Setidaknya beradu bibir kan wajar saja bagi sepasang kekasih. Sikap Dinda yang seakan jual mahal kepadanya membuatnya tertantang.


Sementara Dinda mulai merasa galau, ia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Antara prinsip hidupnya yang telah tertanam kuat atau rasa cinta pada kekasihnya.


Fariz adalah teman bermain saat mereka masih duduk di bangku SD. Fariz selalu menjadi dewa penolong saat ia masih kecil. Bahkan saat ia masuk kuliah sampai semester dua ini, keluarga Fariz lah yang membiayainya.


Dinda merasa tidak enak hati karena membuat Fariz kesal padanya. Apalagi prinsip hidupnya untuk mempertahankan kesuciannya sampai ia menyerahkan pada suaminya yang sah kelak.


Ayah Dinda meninggal tiga tahun lalu. Meninggalkan dirinya juga ibunya yang mulai sakit - sakit an. Sebelum meninggal, ayahnya juga telah mempercayakan dirinya untuk dijaga Fariz. Bahkan keluarga Fariz sangat baik dan perhatian terhadap dirinya.


Sebenarnya sudah tidak ada alasan lagi bagi Dinda untuk meragukan Fariz. Ya... cepat atau lambat toh dia akan jadi milik Fariz seutuhnya.


Saat Dinda diam termenung, Fariz memeluknya dari belakang. Didekapnya tubuh Dinda dengan erat. Tubuhnya yang jangkung, menaungi Dinda. Perlahan Fariz membungkukkan badannya dan menempelkan bibirnya pada telinga Dinda. Dihembuskan nafas hangatnya dipermukaan tengkuk Dinda.


"Din kamu satu - satunya milikku. Selamanya. Aku sangat mencintaimu."


Bisikan lembut Fariz membuat Dinda merinding, semburat rona merah segera menghiasi pipinya. Dinda menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya dari pandangan Fariz.

__ADS_1


Ada sensasi aneh menjalar ke seluruh tubuh Dinda. Seperti terkena setrum yang membuatnya ingin merasakan sensasi sentuhan yang lebih dari Fariz.


Dengan perlahan Fariz membalikkan tubuh Dinda hingga menghadap ke arahnya. Dinda tersipu malu, ia pun semakin menundukkan wajahnya. Fariz menyentuh dagu Dinda dan mengangkat wajahnya. Hingga mata mereka berpadu saling mengungkapkan perasaan tanpa kata.


"Aku sangat mencintaimu Din." Bisik Fariz merayu Dinda yang telah terlena.


Fariz merasa dapat lampu hijau dari Dinda. Ia pun mulai berani beraksi.


Dinda ingin menyenangkan kekasihnya, dengan berusaha mengimbangi permainan Fariz. Ternyata kiss pertama tidak menakut kan seperti bayangan Dinda selama ini. Satu sama lain menjadi terasa semakin dekat. Tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka, hubungan menjadi terbuka dan semakin dalam.


Kenikmatan dan sensasi penuh gairah tidak membuat puas. Seperti candu yang ingin dan ingin lagi, meminta semakin lebih dalam. Dinda tersenyum bahagia, kiss pertamanya bersama orang yang sangat dicintainya.


Dinda berbisik lirih. "Aku siap memberikan segalanya buatmu Riz...."


Fariz serasa di atas angin saat mendengar kesediaan Dinda. Usahanya memperdaya Dinda berhasil. Ya... api sudah mulai tersulut makin besar hingga tidak akan dipadamkan.


Sebuah petualangan menaklukkan perawan telah dimulai.


Dengan perlahan Fariz melepas satu persatu kancing baju atasan Dinda. Memacu hasrat yang semakin memuncak. Namun saat jari Fariz hampir menyentuh bagian terlarang milik Dinda.


Mereka dikejutkan dering panggilan telephon hp Fariz. Hp yang tergeletak di meja dekat sofa yang mereka duduki berdering nyaring. Awalnya mereka mengabaikan, namun deringan telephon itu tidak mau menyerah.


Berdering dan terus berdering, seperti emak - emak yang ribut memarahi anaknya. Membuat Fariz jengah. Fariz segera menyambar hp nya bermaksud segera mematikannya. Namun tombol merah itu tidak jadi ditekannya. Seketika niat Fariz pada Dinda buyar saat ia mengetahui sang penelepon.


Fariz bergegas ke kamarnya meninggalkan Dinda yang kebingungan. Sesampainya di kamar ditutupnya pintu. Ia mengangkat panggilan masuk dari Selena. Saat ia mendekatkan hp nya ke telinga seketika ia mengeryit dan mencoba menjauhkannya dari telinga. Terganggu suara ocehan Selena melampiaskan kekesalan karena telephon nya tidak segera diangkat Fariz.


"Fariz kemana saja sih.... kenapa telepon tidak diangkat? Kamu di mana? Sama siapa?..... bla...bla....bla..." Oceh Selena.


"Sel.... aku mau jawab ya sayang. Aku lagi di kontrakan. Aku lagi coba betulin mobil ku lagi mogok." Bohong Fariz.


"Ya ampun sayang, emang kamu bisa memperbaikinya sendiri? Kenapa enggak dibawa ke bengkel aja?" Tanya Selena dengan manjanya.

__ADS_1


"Gimana ya sayang. Sebenarnya mana aku tahu tentang mobil. Tapi kalo mo dibawa ke bengkel kamu tahu sendiri kan? Papa lagi bekukan kredit cart aku." Lagi - lagi Fariz berbohong.


"Ntar ku transfer sepuluh juta, cukup gak ya buat perbaikan mobil?" Kata Selena menunjukkan perhatiannya pada Fariz.


"Yang, aku kan laki - laki masak kamu yang kasih uang?" Kata Fariz pura - pura menunjukkan harga dirinya. Padahal hatinya sangat senang mendengar Selena akan kasih uang.


"Tenang aja, ntar kalo kamu dah kerja kan bisa gantian kasih uang buat aku." Kata Selena dengan suara merayu manjanya.


"Ya udah kalo kamu maksa. Makasih ya Sel. I love u so muach... Oh iya, kenapa sayang tadi telephon?" Tanya Fariz mengalihkan pembicaraan. Menunjukkan perhatian pada Selena yang sudah berhasil ditaklukkan nya.


"Aku kangen yang, dah seminggu kita gak ketemu." jawab manja Selena.


"Mau ketemuan di mana?" Binar ceria seketika menghiasi senyum lebar Fariz.


"Sayang ke rumah ku aja ya. Kebetulan papa dan mama baru berangkat ke LA tadi pagi." Selena memberikan informasi yang sangat diharapkan Fariz.


"Ehmmm kalo gitu aku nginap di rumah mu ya?" Tanya Fariz penuh harap.


"Sebulan juga boleh nginap di rumah ku." Pekik girang Selena.


"Ha...? benar yang?" Fariz tidak menyangka pada keberuntungan nya saat ini.


"Iya, tapi kesini nya nyamar lagi ya. Soalnya kalau ketahuan bawa cowok ke kamar, takutnya pembantu ku ada yang lapor sama papa." Kata Selena dengan suara lemah.


Fariz tidak mempersoalkan hal itu. Yang terpenting ia bisa menghabiskan waktu bersama Selena walaupun ia harus menyamar sebagai cewek.


"Oke, kalau gitu jemput aku ke rumah sekalian bawa kostumnya." Pinta Fariz tidak sabar.


"Oke sayang, aku siap - siap ya." kata Selena sambil menutup panggilan.


Fariz tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2